JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Pendidikan SD Jangan Nekat Calistung!

SD Jangan Nekat Calistung!

681
BAGIKAN

Anak TK baru dalam proses pengenalan, belajar sambil bermain atau bermain seraya belajar. (Rita Nurbaya | Pengawas TK dan SD UPTD Disdikpora Laweyan)

ilustrasi

SOLO – Para guru Taman Kanak-Kanak (TK) maupun wali murid tampak kuatir akan adanya larangan untuk mengajarkan baca, tulis dan berhitung (Calistung) di TK. Pasalnya jika di TK tidak mengajarkan Calistung, ditakutkan untuk masuk Sekolah Dasar (SD), kebijakan di SD akan menerapkan tes Calistung untuk masuk ke sekolah setempat.

Menanggapi larangan pengajaran Calistung di TK, Rita Nirbaya selaku Pengawas TK dan SD UPTD Disdikpora Laweyan menghimbau agar tes masuk SD tidak lagi menggunakan model Calistung. “Anak TK baru dalam proses pengenalan, belajar sambil bermain atau bermain seraya belajar. Guru dalam mengajar menggunakan Alat Peraga Educative (APE) yang digunakan sambil bermain. Anak-anak bisa diajari menulis di udara atau yang lain, intinya anak-anak tidak diajari Calistung seperti anak di kelas I atau II SD,” ungkapnya pada Joglosemar, Rabu (6/2).

Pasalnya, larangan itu sudah dihimbaukan ke semua SD, agar tes masuk SD tidak lagi menggunakan Calistung. “Untuk masuk SD hanya mensyaratkan anak berusia enam tahun dan usia tujuh tahun wajib masuk SD. Kemudian, jarak tempat tinggal ke sekolah itu saja.” Katanya.

Menanggapi dilema guru TK yang orangtua muridnya meminta agar anaknya diajari Calistung, Rita berharap agar dari pihak TK memberi pengertian kepada wali murid. “Secara psikologi anak TK masih terlalu berat jika harus menerima pelajaran Calistung seperti di SD karena syaraf mereka masih sangat halus,” pungkasnya.

Bu Sumarni Kepala TK Bakti IV Laweyan mengaku bahwa Calistung masih diajarkan tapi dengan cara bermain. “Pasalnya, jika tidak diajarkan Calistung, wali murid tidak puas, mereka ingin agar anak-anaknya diajarkan Calistung, meski tidak semua dituruti,” ungkap ibu yang biasa disapa Marni itu.

Sebaliknya, Bandung Gunadi Kepala SD Tamirul Islam mengungkapkan bahwa untuk SD Tamirul Islam tidak ada tes masuk. “Kita sebenarnya tidak menguji tapi cuma sekedar observasi atau pemberian nilai harapan. Biasanya berupa tes yang dipadukan dengan permainan dan tes psikologi untuk mengetahui kesiapan calon peserta didik mengikuti pelajaran.” Katanya. Sedangkan, menurut Marfazy selaku Kepala SDN Bratan II menanggapi hal itu pihaknya belum menyiapkan apa-apa. “Masih menunggu Petunjuk Teknis (Juknis) 2013 dari Disdikpora Solo,” ungkapnya. Ahmad Yasin Abdullah