JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Sekeluarga Disambar Petir, Satu Tewas

Sekeluarga Disambar Petir, Satu Tewas

381

Memanen Padi di Sawah

ilustrasi

SRAGEN—Enam orang sekeluarga asal Dukuh Pungkruk RT 2, Desa Doyong, Miri, Sragen tersambar badai petir, Minggu (17/2) siang, saat mereka memanen padi di sawah. Satu dari enam orang itu tewas mengenaskan dengan tubuh terbakar dan penutup kepala hancur.

Korban tewas adalah Sucipto Sukiman (67), yang merupakan kepala keluarga. Pria paruh baya itu tewas setelah sambaran petir berdaya tinggi tepat mengenai kepalanya. Meski sempat dilarikan ke RSUD Dr Soeratno Gemolong, nyawanya tetap tak bisa terselamatkan. Sedang, lima anggota keluarganya yang saat kejadian juga berada di sawah, lolos dari maut dan hanya mengalami syok.

Informasi yang dihimpun, musibah itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Siang itu, Sucipto bersama lima anak dan cucunya bersama-sama ke sawah untuk memanen padi di lahan mereka yang berada di dekat saluran irigasi Kedung Kancil wilayah Dukuh Bulu, Doyong, Miri. Kelimanya masing-masing, Suroto (45) putra sulungnya bersama istrinya, Tumiyem (40). Kemudian, dua saudara Suroto yakni Suratmi dan Mariyem, serta cucu korban, Aji (15).

Menurut cerita Suwandi (46), saksi mata yang berada tak jauh dari lokasi kejadian, siang itu korban dan anak cucunya memang berniat memanen padi yang sudah menguning. Sejak pagi cuaca memang diliputi mendung. Sekitar pukul 14.00 WIB, mendung semakin menggelayut. Saat itu, sebenarnya padi di sawah korban yang belum dipanen tinggal sedikit. Tak lama berselang, hujan deras pun mengguyur disertai beberapa kali sambaran kilat.

Meski hujan dan petir semakin kencang, korban tak segera beranjak menepi. Sebaliknya, ia dan anak-anaknya makin mempercepat memanen dengan alasan karena tinggal sedikit lagi. Nahas, di tengah aktivitas memanen, sebuah petir menggelegar dan menyambar tepat di atas areal sawah yang dipanen korban.

Sambaran itu mengenai kepala Sucipto yang saat itu tengah memotong rumpun padi. Saking kerasnya, caping penutup kepala yang dikenakannya hancur berkeping-keping. Seketika ia langsung ambruk tak sadarkan diri. Kepalanya luka parah dan tubuhnya menghitam bekas terbakar.

Sambaran petir itu juga membuat anak perempuan korban yang berada di dekat korban juga terpental karena syok. Namun ia tidak mengalami luka apapun. Melihat bapaknya tersungkur, anak-anak korban langsung panik dan meminta pertolongan. “Karena dikira masih hidup, korban langsung dilarikan ke RSUD Gemolong. Namun belum sempat ditangani sudah tiada,” ujar Suwandi.

Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi melalui Kasubag Humas, AKP Sri Wahyuni membenarkan kejadian tersebut. Terpisah, Kepala Badan Kesbangpolinmas, Sri Budi Darmo mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap cuaca ekstrem dan ancaman petir yang kerap menyertai hujan deras.

Warga yang berada di sawah atau areal terbuka disarankan segera menepi dan kembali ke rumah jika turun hujan petir. Kemudian, menghindari berteduh di bawah pohon karena pohon justru bisa menjadi perantara rambatan petir. “Lebih amannya, ya langsung pulang ke rumah. Lalu yang tidak kalah penting, antena di rumah yang masih bambu sebaiknya diganti besi dan diberi ground atau yang penting bersentuhan dengan tanah untuk menghindari petir,” imbaunya. Wardoyo

BAGIKAN