JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Internasional Sekolah Dibom, 80 Tewas

Sekolah Dibom, 80 Tewas

261
BAGIKAN

Tampak di lokasi kejadian, tas-tas sekolah dan buku-buku yang terbakar berserakan.

SERANGAN TERHADAP UMAT SYIAH PAKISTAN. Asap mengepul usai terjadi serangan bom di wilayah muslim Syiah di kota Quetta, Pakistan, Sabtu (16/2). Lashkar-e-Jhangvi, yang menurut pihak intelijen telah menjadi ancaman keamanan besar, mengakui bertanggung jawab atas serangan sektarian kepada umat Syiah yang menewaskan 47 orang di Quetta, Sabtu kemarin. ANTARA/REUTERS/Naseer Ahmed

QUETTA—Pemerintah Baluchistan mengumumkan hari berkabung di seluruh provinsi tersebut menyusul serangan bom di Quetta yang menewaskan sekitar 80 orang, termasuk anak-anak usia sekolah. Insiden berdarah itu tak urung menuai kecaman, utamanya terhadap pasukan keamanan Pakistan yang gagal mencegah serangan mematikan di pasar utama kota itu, termasuk sebuah sekolah dan pusat pendidikan komputer.

“Serangan teroris atas masyarakat Hazara Syiah di Quetta adalah kegagalan pasukan sandi dan keamanan,” kata Nawab Zulfiqar Ali Magsi, gubernur Provinsi Baluchistan, saat melayat ke rumah sakit pada, Minggu (17/2).

“Kami memberi kebebasan kepada keamanan untuk bertindak melawan teroris dan kelompok keras, tetapi peristiwa Quetta terjadi,” sesalnya.

Menurut pejabat tinggi keamanan, jumlah korban tewas akibat pemboman pada Sabtu (16/2) malam itu kemungkinan bisa bertambah, mengingat saat ini ada 180 orang terluka, 20 di antaranya mengalami luka parah.

Sebagian besar korban berada di pasar utama kota itu, ibukota Baluchistan, dekat perbatasan dengan Afghanistan. Bom juga menyasar sekolah dan pusat komputer. Tampak di lokasi kejadian, tas-tas sekolah dan buku-buku yang terbakar berserakan.

Pejabat senior kepolisian Quetta, Wazir Khan Nasir, berpendapat bom itu adalah serangan sektarian yang ditujukan untuk masyarakat Syiah. Sementara, juru bicara Lashkar-e-Jhangvi (LeJ), kelompok Sunni, menyatakan bertanggung jawab atas bom di Quetta.

LeJ juga menyatakan berada di belakang pemboman pada bulan lalu di Quetta, yang menewaskan hampir 100 orang, salah satu serangan terburuk di Pakistan. Lembaga politik Syiah pun menyerukan pemogokan di Quetta untuk mengecam pembantaian terbaru itu. Banyak toko dan pasar ditutup.

Pejabat sandi Pakistan menyatakan, kelompok keras pimpinan LeJ meningkatkan pemboman dan penembakan terhadap Syiah untuk memicu kekerasan, yang akan membuka jalan bagi teokrasi Sunni di Pakistan, sekutu Amerika Serikat.

Lebih dari 400 warga Syiah tewas di Pakistan pada tahun lalu, banyak di antaranya oleh penembak gelap atau bom. Beberapa kelompok garis keras Syiah membalas dengan membunuh ulama Sunni. Perpecahan Sunni dengan Syiah berkembang sesudah Nabi Muhammad SAW wafat pada 632 M ketika pengikutnya tidak sepakat atas penggantinya. Antara