JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Selamatkan Tradisi dengan Perekaman

Selamatkan Tradisi dengan Perekaman

365
BAGIKAN

Bisa saja pada gambar yang disajikan hanya terlihat tangan-tangan musisi memainkan teknik-teknik musikal tanpa ditunjukkan siapa pemainnya.

PROSES PEREKAMAN- Mahasiswa Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melakukan perekaman musik tradisi di Banyumas, beberapa waktu lalu. Tim ISI Surakarta
PROSES PEREKAMAN- Mahasiswa Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melakukan perekaman musik tradisi di Banyumas, beberapa waktu lalu. Tim ISI Surakarta

Denyut hidup seni musik etnik Nusantara tak semuanya menunjukkan wacana yang menggembirakan. Banyak di antaranya mengalami satu kondisi yang memprihatinkan, bahkan boleh dibilang hampir punah. Otomatis usaha penyelamatan menjadi penting untuk digelar. Sampai pada titik ini, misi yang diemban mahasiswa etnomusikologi menjadi penting. Etnomusikologi adalah bidang keilmuan yang berusaha mengkaji musik-musik etnik untuk dianalisis, dipublikasikan dan dikomunikasikan pada masyarakat luas. Harapannya, hasil kajian dari etnomusikologi dapat dinikmati sebagai katalisator yang mempertautkan kesenian musik terkait dengan masyarakat pencintanya dan khalayak luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, Jurusan Etnomusikologi melakukan program Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan melakukan perekaman musik-musik etnik Nusantara yang dianggap langka. Kenapa hal itu menjadi penting? Perekaman yang dilakukan mahasiswa Etnomusikologi tak hanya sebatas mendokumentasikan, namun juga membuat peta deskripsi ruang hidup musik terkait. Imbasnya, hasil perekaman itu tak hanya berisi sajian audio visual namun juga dilengkapi dengan laporan data lengkap pernak-pernik musik langka itu. Masyarakat akan disuguhi dengan gambar video serta ulasan teks tulis yang dalam.

Tentu berbeda dengan format perekaman musik pada umumnya. Perekaman yang dilakukan oleh mahasiswa etnomusikologi lebih didasarkan pada upaya konservasi dan juga pengembangannya. Sehingga bisa saja pada gambar yang disajikan hanya terlihat tangan-tangan musisi memainkan teknik-teknik musikal tanpa ditunjukkan siapa pemainnya. Hal itu ditujukan sebagai pendeskripsian pola atau teknik musikal. Dengan melihatnya, otomatis masyarakat bisa belajar secara langsung dan mengulang-ulang gambar terkait seperlunya. Secara tersirat misi pembelajaran dan konservasi telah terpenuhi. Hal yang demikian beberapa waktu lalu mencoba diulang kembali oleh mahasiswa Etnomusikologi ISI Surakarta di Banyumas pada Sabtu (9/2) sampai (Selasa 12/2).

Terbagi dalam tiga kelompok, empat kesenian berhasil diteliti dan direkam oleh para peneliti muda (calon etnomusikolog). Kesenian itu di antaranya adalah Lengger Lanang, Gondoliyo, dan Krumpyung. Kesenian ini merupakan kesenian yang tergolong tua bahkan hampir punah di Kabupaten Purwokerto dan Banyumas. Krumpyung misalnya, kesenian ini sudah vakum selama kira-kira 25 tahun. Para pemainnya pun orang-orang yang sudah lanjut usia, yang paling muda berumur 50 tahun.

Selain itu, kesenian Gondoliyo juga bernasib sama. Perlu keterampilan bermusik yang tinggi untuk bisa memainkan alat musik Gondoliyo ini. Karena tingkat kesulitan permainannya yang tinggi, saat ini hanya ada empat orang yang bisa memainkan. Ironisnya keempat orang itu semuanya sudah lanjut usia. Para generasi muda enggan mempelajari kesenian ini dengan alasan yang bermacam-macam. Di sinilah kegiatan perekaman setidaknya akan sangat berguna dan bahkan berperan penting. Paling tidak wujud asli dari kesenian itu bisa terdokumentasi dan dapat dipelajari sewaktu-waktu.

Sistem Kebudayaan

Seperti yang diutarakan Sri Hastanto, Guru Besar Etnomusikologi, saat ini musik-musik tersebut seolah hanya menjadi ekspresi kaum minoritas yang tidak banyak dikenal orang, minim apresiasi, kurang generasi penerus, dan lambat laun mulai tertelan zaman. Hal serupa juga pernah disinggung pada artikel Akademia beberapa waktu lalu mengenai Sholawat Jawa Banyumas dalam Kekuatan di Ambang Kepunahan (Joglosemar, 24/10-red) yang sampai saat ini hanya dimainkan kakek-kakek lanjut usia. Yang cukup mengharukan, saat perekaman musik Krumpyung para pemain berlinang air mata, menyemai senyum dan bahagia. Mereka gembira bisa memainkan musik yang lebih setengah abad tak tersentuh. Mereka seolah diajak kembali untuk pulang “ke rumahnya.” Mengingatkan memori dan kenangan indah masa lalu. Hasil perekaman yang dilakukan akan dikembalikan pada mereka juga. Untuk memiliki, mengkritisi dan ke depan sekaligus memperbaikinya.

Sementara itu suatu saat nanti hasil perekaman ataupun catatan yang telah dibuat akan menjadi sumber literatur yang banyak dicari orang. Ke depan akan menjadi suatu “lukisan” sejarah yang dapat ditelusuri sebagai sumber pengetahuan untuk ditelaah, dianalisis, dikaji, dan dipelajari pada disiplin ilmu musik dan budaya di masa yang akan datang. Ya, karena musik sebagai suatu kesenian merupakan salah satu unsur dalam sistem kebudayaan.

Dengan berpijak pada musik maka dapat ditelusuri unsur-unsur sistem kebudayaan yang lebih kompleks, termasuk kondisi sosial dan keberadaan bangsa di saat yang akan datang. Manfaat perekaman paling tidak juga sebagai dokumentasi yang abadi. Kelak ketika salah satu kesenian itu terbentur dengan arus modernitas, maka dokumentasi tersebut bisa berperan sebagai ruang kontemplasi sekaligus pengontrol bentuk keaslian dan kemurnian dari kesenian tersebut. Tim ISI Surakarta