JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Setelah Punya 7 Buyut, Kromo-Khusni Nikah

Setelah Punya 7 Buyut, Kromo-Khusni Nikah

489
BAGIKAN
NIKAH MASAL – Sejumlah pasangan pengantin peserta nikah massal menjalani prosesi ijab qobul di Masjid Al-Hudi , Solo, Minggu (10/2). Sebanyak 18 pasangan pengantin dari daerah Solo dan sekitarnya mengikuti nikah massal gratis yang diadakan Yayasan Amal Sahabat. Joglosemar/Abdullah Azzam

Masjid Al-Hadi, Jalan Bayangkara 23, Baron, Laweyan, Solo jadi tempat bersejarah bagi Kromodiharjo (82) dan Khusni (75).  Di masjid itulah, pasangan itu melangsungkan ijab kabul pernikahan, Minggu (10/2).

Mengenakan baju pengantin beskap warna hitam, lengkap dengan blangkon, Kromo dan Khusni (75), tampak tegang. Pasangan asal Kelurahan Gawanan RT 02 RW V Colomadu, Karanganyar, itu mengikuti nikah massal setelah 30 tahun pacaran.

Saking tegangnya, berkali-kali, juru rias pengantin mengusap keringat di wajah Kromo. Bahkan, karena usia Kromo yang sudah senja, penghulu harus berkali-kali mengulang ucapan ijab kabul yang harus ditirukan Kromo. Maklum, di usia ke-82, pendengaran Kromo sudah  berkurang.

Ketegangan pasangan itu berakhir, tatkala, para saksi mengucap kata “sah” sebagai tanda Kromo dan Khusni menjadi pasangan suami istri yang diakui negara. ”Sudah 30 tahun berpacaran. Akhirnya menikahi pujaan hati saya. Sekarang jadi suami istri yang sah,” ucap Kromo, yang saban harinya menjadi buruh tani itu.

Kromo bercerita, awal pertemuan dengan perempuan yang kini jadi istri sahnya itu, bermula dari ketidaksengajaan mereka mencari rumput di sawah. ”Kita berdua saling berkenalan hingga akhirnya menjalin kasih. Kalau memang jodoh tidak akan ke mana-mana. Untuk bulan madu cukup di rumah saja,” kata Kromo yang mengaku sudah punya tujuh buyut.

Tidak hanya Kromo dan Khusni yang menjadikan masjid itu sebagai tempat bersejarah. Ada 17 pasangan lain yang juga ikut nikah massal. Jika Kromo dan Khusni jadi pasangan tertua, ada Ardika Imam Batawai (18) dan Tantri Maharani (17) yang jadi pasangan termuda.

Pasangan asal Kelurahan Joyotakan RT 02 RW IV itu, mengaku tidak menyesal menikah muda. Ardika, berujar, sebelum ikut nikah massal, sejatinya dia sudah sudah resmi menikah di KUA akhir Oktober 2012 lalu.

Hanya saja, karena dianggap kurang cukup oleh orang tua, maka mereka mengikuti acara nikah massal yang difasilitasi Yayasan Amal Sahabat pimpinan Achmad Purnomo itu. ”Dengan mengikuti acara nikah massal ini, agar tetangga tahu, kalau saya dan istri saya sudah resmi menikah,” ucapnya.

Pasangan termuda itu, mengaku sudah berpacaran selama empat tahun. Kemudian, orang tua mereka menyarankan untuk segera menikah. ”Target saya setelah menikah, memiliki dua anak dan akan langsung berbulan madu setelah ini,” kata Ardika, yang bekerja sebagai kuli bangunan itu.

Usai ijab kabul, ke-18 pasangan itu dikirab dengan andong hias. Mereka jadi tontonan warga selama dikirab melewati  jalur car free day  Sriwedari hingga berakhir di Balaikota Solo. Sepanjang kirab, mereka diiringi musik rebana.  Acara resepsi dilangsungkan di Pendapa Balaikota.

Sementara itu, Ketua Yayasan Amal Sahabat, Achmad Purnomo, mengatakan, yayasannya itu sebagai lembaga yang bergerak di bidang sosial. Memfasilitasi nikah massal, kata calon Wakil Walikota Solo itu,  sebagai salah satu kegiatan sosial yang rutin digelar saban tahun. Acara itu juga untuk meramaikan Maulud Nabi Muhammad SAW. ”Sudah delapan kali kami menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” kata Purnomo.

Menurutnya, jumlah peserta nikah massal tahun ini ada 18 pasangan yang berasal dari daerah Solo dan sekitarnya. Selain nikah massal, yayasannya juga membagikan ribuan paket Sembako kepada warga miskin di halaman Balaikota, secara gratis. Muhammad Ismail | Fariz Fardianto