JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Sidang Perdana Pencabulan Siswa SLB

Sidang Perdana Pencabulan Siswa SLB

532
BAGIKAN

Terdakwa Terancam 12 Tahun Penjara

Kami akan mempelajari dakwaan ini dan akan sampaikan nota keberatan (eksepsi) sekitar sepekan lagi.”

Kadi Sukarna | Pengacara Terdakwa

TERDAKWA PENCABULAN SLB- Oktober Budiawan (38), terdakwa pencabulan disertai pemerkosaan terhadap siswi SLB, digiring ke ruang tahanan di Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo, Selasa (19/2). Joglosemar/ Murniati
TERDAKWA PENCABULAN SLB- Oktober Budiawan (38), terdakwa pencabulan disertai pemerkosaan terhadap siswi SLB, digiring ke ruang tahanan di Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo, Selasa (19/2). Joglosemar/ Murniati

SUKOHARJO- Sidang perdana kasus pencabulan disertai pemerkosaan yang menimpa siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) di Sukoharjo dengan terdakwa, Oktober Budiawan (38), digelar di Pengadilan Negeri (PN), Selasa (19/2) siang. Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu, terdakwa didakwa pasal 285 dan 289 dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Sidang dipimpin oleh ketua majelis hakim, Agus Darmanto dengan didampingi oleh hakim anggota, Evi Fitriastuti dan Diah Tri Lestari dengan JPU, Suhardi. Namun, persidangan yang dijadwalkan pada jam 09.00 WIB baru terlaksana sekitar pukul 13.00 WIB. Awalnya, korban, Ve (22) sempat berada di PN, namun ketika melihat istri terdakwa langsung histeris. Alhasil, korban langsung dibawa pulang. Sidang pencabulan siswi SLB ini digelar secara tertutup untuk umum.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terdakwa selama beberapa jam menunggu di ruang tahanan, ditemani istri, keluarga, dan pengacaranya. “Hari ini baru pembacaan dakwaan. Klien kami didakwa pasal 285 dan 289 KUHP. Selanjutnya, kami akan mempelajari dakwaan ini dan akan sampaikan nota keberatan (eksepsi) sekitar sepekan lagi,” kata pengacara terdakwa, Kadi Sukarna, Selasa (19/2).

Kadi menyampaikan pihaknya sudah mempersiapkan hal-hal yang bisa meringankan hingga membebaskan kliennya dari dakwaan JPU. “Secara prinsip ini persoalan biasa, bukti-bukti juga kurang. Maka dari itu kami sudah menyiapkan hal-hal yang meringankan atau membebaskan terdakwa. Tapi kita tidak perlu memberikan testimoni saat ini karena masih ada proses pembuktian. Yang jelas, klien kami mengaku tidak pernah melakukan hal yang didakwakan kepadanya,” ujar dia.

Di sisi lain, pengacara asal Karanganyar ini menilai kasus ini ada keistimewaan karena korban adalah tunarungu dan tuna wicara, sehingga butuh penerjemah. Namun tidak semua orang mengerti bahasa isyarat, termasuk hakim, JPU, dan pengacara. Apalagi, saksi juga merupakan penyandang tunarungu dan tunawicara. “Oleh karena itu, kami meminta adanya penerjemah dalam persidangan,” katanya lagi.

Pendamping korban dari Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (Sigap), Purwanti berharap, terdakwa bisa mendapatkan hukuman terberat. “Kami harap bisa mendapatkan hukuman terberat. Saat ini, kami juga mendampingi enam kasus sejenis di luar Sukoharjo,” ujarnya. Murniati