JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Sogokan Diterima, Fathanah Diduga Lapor Luthfi

Sogokan Diterima, Fathanah Diduga Lapor Luthfi

327
dua tersangka kasus suap impor daging sapi

JAKARTA-Hubungan dua tersangka kasus suap impor daging sapi yakni Ahmad Fathanah dan  Luthfi Hasan Ishaaq yakni  perlahan mulai terkuak. Keduanya diduga saling berkomunikasi sebelum dan sesudah uang suap senilai Rp 1 miliar dari PT Indoguna diberikan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memegang sadapan telepon keduanya. Dari penyadapan itu diketahui ada laporan Fathanah mengenai uang yang sudah diambil ke Luthfi.

“Itu dilaporkan kepada Luthfi, setelah dia mengambil uang dari Pondok Bambu (kantor PT Indoguna),” kata seorang sumber penegak hokum di KPK, Sabtu (2/2). Pelaporan itulah yang dijadikan salah satu dasar bagi KPK untuk menjerat Luthfi. Sementara juga disebutkan sebelum mengambil uang suap Indoguna, Fathanah sempat menemui Luthfi di gedung DPR. Namun belum diketahui apa yang mereka bicarakan.

Pihak KPK sendiri belum mau menjelaskan detail kronologi proses penerimaan suap itu. Yang jelas, KPK yakin uang suap itu memang ditujukan kepada Luthfi yang ketika itu masih menjabat sebagai Presiden PKS. Oleh karenanya KPK menjerat Luthfi dengan pasal suap aktif. “KPK tidak menduga-duga, kami yakin betul,” terang Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto.

Luthfi sendiri sudah membantah terlibat dalam penerimaan suap Rp 1 milliar itu. “Tentunya itu tidak benar. Saya tidak menerimanya,” kata dia sebelum diciduk penyidik.  Kuasa hukum Luthfi, Zainudin Paru, mengatakan AF merupakan pengusaha yang juga menginginkan kuota impor daging sapi. “Pak Luthfi mengatakan AF itu pengusaha yang minta kuota daging impor,” kata Zainudin. Dia mengatakan bahwa kalangan PKS tidak ada yang mengenal Ahmad Fathanah. Hal itu menurut dia menegaskan tidak adanya hubungan antara AF dan partai tersebut.

 

Koreksi Internal

Terpisah, penasihat KPK Abdullah Hehamahua mengatakan peristiwa yang melibatkan elite PKS sebaiknya menjadi koreksi internal partai tersebut.  “Mudah-mudahan dengan peristiwa ini menjadi momen koreksi internal PKS,” kata Abdullah Hehamahua.

Hehamahua yang kenal dengan Hilmi Aminuddin dan Hidayat Nurwahid ini juga meminta agar PKS jangan melempar isu yang tidak-tidak. PKS harus bisa melihat ke dalam, introspeksi diri. “Kalau misalnya KPK tidak menindak sekarang, nanti bisa penegak hukum lain yang melakukan. Masih ada 1-2 tahun lagi waktu bagi PKS. Saya setuju dengan niat Anis Matta yang ingin melakukan taubat nasuha,” jelas Hehamahua.

Hehamahua yang dikenal sebagai pribadi lurus dan sederhana ini juga menjelaskan, bahwa PKS harus segera melakukan recovery. Beri penjelasan yang benar kepada partai, daripada sibuk dengan isu yang tidak-tidak. “PKS ini partai dakwah. Ini saatnya melakukan koreksi, belajar,” tuturnya.

Dia juga berharap PKS tidak melakukan tudingan yang mengada-ada, termasuk tudingan zionis dan Amerika Serikat. “Tidak ada hubungan dengan zionis dan Amerika,” katanya.

“Kalau di KPK ada macam-macam, saya yang akan bentuk komite etik,” jelas Hehamahua yang kenal dan pernah tinggal dengan Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin di Malaysia. Dia menjamin, KPK dalam mengusut kasus tak pernah main-main. KPK tidak ada SP3 atau penghentian kasus. Jadi, kalau tak ada bukti kuat tak akan KPK bergerak melakukan penangkapan “Harus diingat KPK berbeda dengan instansi lain,” tutur Hehamahua. 

Detik | Antara

BAGIKAN