JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Supir Bus Al-Amin Divonis 3 Tahun 10 Bulan

Supir Bus Al-Amin Divonis 3 Tahun 10 Bulan

386
BAGIKAN

Supriyanto Menyatakan Menerima, Istri Jatuh Pingsan

Peristiwa kecelakaan lalu-lintas di Nguter, Sukoharjo tahun lalu yang menewaskan empat orang, akhirnya mencapai klimaksnya kemarin. Majelis Hakim menjatuhkan vonis tiga tahun 10 bulan penjara kepada terdakwa Supriyanto (32), supir bus Al-Amin tersebut.

Ditemani bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun, seorang perempuan berbaju merah menunggu di luar ruang sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo, Rabu (13/2). Berbeda dengan raut muka sang ibu yang tampak risau, sang bocah justru tampak ceria. Sesekali ia berlarian ke sana kemari, sambil tangannya memegang roti.

Sesaat kemudian, dengan dikawal petugas seorang laki-laki berkemeja putih lengan panjang keluar dari ruang sidang. Dialah Supriyanto (32), supir bus Al-Amin, yang menjadi terdakwa dalam kasus kecelakaan yang menewaskan empat orang, pada 1 November 2012 silam di Nguter.

Melihat suaminya keluar, sang istri segera menyongsong dan memeluknya erat-erat. Ia pun menangis sekuat-kuatnya. “Aku karo anakmu piye pak?” tuturnya berulang-ulang, sambil menangis histeris di pelukan suaminya.

Rupanya, perempuan itu telah mendengar suara Majelis Hakim yang menjatuhkan vonis 3 tahun 10 bulan penjara kepada suaminya. Anaknya yang belum tahu apa-apa, ikut menangis. Roti yang berada di tangannya langsung terlepas dan mendekati kedua orangtuanya. Supriyanto hanya bisa menahan haru sambil menenangkan istrinya. Lantaran tidak kuat, akhirnya sang istri jatuh pingsan dan dipapah menuju kursi yang berada di depan ruang tahanan.

Sekadar mengingatkan, bus Al-Amin dengan nomor polisi (Nopol) AD 1512 FG menabrak sejumlah pengendara motor di Nguter, Kamis (1/11) tahun lalu. Bus yang berangkat dari Solo menuju Wonogiri menabrak tiga sepeda motor, dan menyebabkan empat orang tewas seketika. Kecelakaan lalu lintas itu berawal saat supir bus membanting setir ke kiri, karena menghindari sebuah sepeda motor tiba-tiba menyeberang. Tak hanya menyeret sepeda motor yang menyeberang tadi, bus juga menabrak tiga sepeda motor dari arah berlawanan.

Dalam surat vonis yang dibacakan oleh Darmanto, Majelis Hakim menilai Supriyanto telah terbukti melanggar UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, tepatnya pasal 310 ayat 4 dan ayat 2. “Terdakwa secara sah dan meyakinkan telah melakukan kelalaian dan menyebabkan empat orang meninggal dunia dan dua orang luka-luka. Maka dari itu, majelis hakim memutuskan terdakwa dijatuhi hukuman tiga tahun 10 bulan dikurangi masa tahanan,” kata Agus saat membacakan vonis.

Vonis tersebut lebih ringan dua bulan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut empat tahun penjara. Majelis hakim mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan. Dalam surat putusannya, majelis hakim menyampaikan jika meninggalnya empat orang dan dua orang luka-luka menjadi hal yang memberatkan terdakwa. Namun, karena terdakwa sudah mengakui dan menyesali perbuatannya, hakim akhirnya mempertimbangkan besarnya tuntutan dari JPU. “Terdakwa juga diwajibkan membayar biaya sidang sebesar Rp 2.500,” ujarnya.

Sebelum menutup sidang, Hakim Ketua, Koesnan menanyakan apakah terdakwa menerima atau pikir-pikir atau mengajukan banding atas putusan itu. “Apakah saudara Supriyanto menerima, pikir-pikir, ataukah mengajukan banding?” tanya Koesnan.

Mendengar hal itu, Supriyanto yang tertunduk lemas mengaku menerima putusan itu dan tidak mengajukan banding. “Saya menerima putusan, Pak hakim,” katanya lirih. Murniati