JOGLOSEMAR.CO Daerah Wonogiri Takut Longsor, 14 KK di Kopen Minta Pindah

Takut Longsor, 14 KK di Kopen Minta Pindah

488
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

WONOGIRI-Sebanyak 14 kepala keluarga (KK) di Dusun Kopen, Bero, Manyaran mulai minta dipindah ke lokasi yang lebih aman. Hal itu karena mereka terancam tertimpa longsoran tanah yang kini mulai retak.

Kepala Desa Bero, Joko Pramono mengatakan 14 dari sekitar 48 KK yang meminta dipindah itu terus khawatir saat cuaca mendung dan kemungkinan hujan deras turun. Peristiwa longsor di akhir tahun 2007 lalu pun berpengaruh terhadap warga.

“Sebanyak 14 KK ini minta agar dipindah, tapi baru sebatas lisan belum secara resmi mengajukan permintaan. Potensi longsor di wilayah 14 KK ini bermukim memang lebih besar jika turun hujan deras lagi,” kata Joko, Selasa (19/2).

Dari luas total sekitar 12 hektare Dusun Kopen, sekitar tiga hektare wilayah dusun itu sangat terancam. Termasuk area yang ditempati 14 KK tadi. Meski masih usulan, jika warga sangat ingin pindah maka tanah bengkok Sekdes akan menjadi tempat relokasi. Dengan luas lahan sekitar tiga hektare bisa menampung sekitar 50 rumah.

“Letaknya sekitar tiga kilometer dari Dusun Kopen. Permasalahan utama saat ini adalah, warga mau dipindah tapi lahan yang ditinggal juga masih menjadi milik mereka. Dengan kata lain tidak ditukar, jadi kami harus cari lahan lagi untuk tukar guling dengan tanah bengkok tadi,” lanjut dia.

Tidak menutup kemungkinan meski saat ini hanya 14 KK yang usul pindah, semua 48 KK juga akan turut dipindah karena memang dengan kemiringan tanah 60 derajat tidak aman untuk permukiman penduduk. Hingga kemarin masih enam KK yang sudah mengungsi dan mengosongkan isi rumah ke rumah saudara.

Camat Manyaran, Achmad Trisetyawan Bambang Hermawan mengatakan masih butuh kajian dan biaya untuk melakukan relokasi tersebut. “Pilihan relokasi saya rasa memang lebih tepat mengingat lokasi dusun yang berada di lereng bukit. Baru sebatas usulan dari warga namun tetap kami kaji ke arah itu,” terangnya.

Seperti diberitakan, sejak tiga hari terakhir warga di dusun ini siap-siap mengungsi saat hujan karena khawatir longsor. Pergerakan tanah di dusun ini berupa tanah yang menonjol namun juga menimbulkan retakan yang rawan longsor. Tahun 2007 lalu hal serupa terjadi dan satu warga tewas karena rumah tertimbun longsor. Eko Sudarsono