Talud Terkikis, Rumah Warga Terancam Hanyut

Talud Terkikis, Rumah Warga Terancam Hanyut

296
AMBROL – Warga bergotongroyong membersihkan puing bagian rumah yang ambrol akibat terkikis arus deras di Desa Babadan, Karangdowo, Rabu (13/2). Joglosemar/Angga Purnama

KLATEN – Rumah milik Abdullah Satari (51) warga Dukuh Babadan, Desa Babadan, Kecamatan Karangdowo ambrol dan terancam hanyut. Pasalnya, talud Kali Blora yang berada dekat fondasi rumah terkikis arus deras.

Dari informasi yang dihimpun Joglosemar, arus di Kali Blora yang merupakan anak Kali Dengkeng itu menjadi deras pasca hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Klaten sejak Selasa (12/2) sore. Menurut Abdullah, talud sudah terkikis sejak tiga tahun yang lalu namun belum mendapatkan penanganan. Hujan yang turun hampir semalaman itu membuat arus menjadi deras dan meluap hingga ke pinggir bibir talud. “Bahkan hampir mencapai badan jembatan kecil yang berada di samping rumah saya. Kalau dari amblasnya bangunan diperkirakan sudah terkikis dengan kedalaman tiga meter,” ujarnya saat ditemui wartawan.

Baca Juga :  Tjokro Hotel Klaten, Upacara Sembari Mengenalkan Ikon Lurik Klaten

Ia menjelaskan bagian rumah yang ambrol tersebut berisi ternak unggas berupa bebek, sekitar 60 ekor beserta dengan kandangnya. Semua ternak yang berada di dalam mati tertimba material bangunan. Beruntung peristiwa amblasnya rumah itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka. Meski begitu, ia mengaku mengalami kerugian materiil yang diperkirakan mencapai Rp 50 juta. “Saat kejadian saya berada di luar kota. Sedangkan istri saya tengah berada rumah bagian depan dan kedua anak saya masih sekolah. Tiba terdengar suara kretek-kretek dan akhirnya amblas. Bagian belakang rumah saya ini memang berisi itik dan rencananya saya mau gunakan untuk ternak kambing,” paparnya. Luas lahan rumah Abdulah yang ambrol sekitar 3 x 25 meter persegi.

Baca Juga :  Tjokro Hotel Klaten, Upacara Sembari Mengenalkan Ikon Lurik Klaten

Sementara itu, salah satu anggota Badan Pemusyawarahan Desa (BPD) Babadan, Sumardi, mengatakan beberapa tahun lalu sudah ada tiga rumah di samping rumah Abdulah yang mengalami nasib yang sama. Meski telah terdapat talud yang dibangun oleh Balai Bengawan Solo, namun Talud sudah berusia tua. “Bangunan talud berumur 10 tahun dan mulai terkikis tiga tahun lalu. Sementara bangunan rumah Abdulah sudah sekitar enam tahun. Perlu ada perhatian dan pengecekan kondisi talud dari pemerintah sehingga jika kondisi bahaya warga dapat diperingatkan,” tuturnya. Angga Purnama

BAGIKAN