JOGLOSEMAR.CO Hiburan Selebritis Tarian Jogja Rasa Solo

Tarian Jogja Rasa Solo

991
BAGIKAN
TARIAN SERIMPI-Sejumlah mahasiswi ISI Solo jurusan Seni Tari tengah menarikan Tari Serimpi Pandelori saat acara Nem Likuran di SMKN 8 Solo, Selasa (26/2). Acara Nem likuran merupakan agenda rutin bulanan SMKN 8 atau SMKI dalam menyelenggarakan pementasan seni. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
TARIAN SERIMPI-Sejumlah mahasiswi ISI Solo jurusan Seni Tari tengah menarikan Tari Serimpi Pandelori saat acara Nem Likuran di SMKN 8 Solo, Selasa (26/2). Acara Nem likuran merupakan agenda rutin bulanan SMKN 8 atau SMKI dalam menyelenggarakan pementasan seni. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Empat orang terlihat menari dengan busana serba merah. Gerakan lembut penuh penghayatan dilakoni oleh perempuan yang sudah berusia lanjut. Hampir setiap adegan tarian yang berdurasi 11 menit ini selalu menggunakan gerakan menyembah. Tarian yang diciptakan KRT Sasmita Dipuro yang selalu dilakukan di lingkup keraton sejak tahun 1970-an.

Keempat wanita ini menarikan tarian Santi Mahayu – hayu yang berasal dari Jogja. Tarian yang memiliki filosofi permohonan keselamatan dan kelancaran acara dari Sang Pencipta biasanya ditarikan sebelum acara hajatan.

Lain lagi dengan tarian Srimpi Pandelori dibawakan empat orang penari yang selalu membawa keris. Sambil duduk terdiam, empat penari itu perlahan mulai memainkan keris. Seolah sedang terjadi perperangan dalam merebutkan kekuasaan. Pistol dan panah juga tak absen menjadi peranti menari.

Pertunjukan tarian ini adalah kegiatan Malam Nemlikuran yang berlangsung di pendapa SMKN 8 Solo, Selasa (26/2) malam. Pada acara rutin memang sengaja mengambil tarianmerupakan gaya Jogja. Siswa dan pengajar ISI Solo berduet untuk membawakan tarian.

Meskipun mengambil tarian gaya Jogjakarta, namun jiwa kebanyakan penari masih belum bisa meninggalkan gaya Surakarta. Pasalnya tari Jogjakarta biasanya halus dan tegas, namun kebanyakan penari masih membawakannya dengan lembut.

Ya, walaupun dua daerah ini memiliki akar budaya yang sama, namun kebiasaan dan lingkungan sosial, membuat tarian Jogja ini mendapat sentuhan rasa Solo yang penuh dengan kelembutan. Perpaduan rasa ini membuat pentas tarian ini terbilang lebih memiliki nilai keragam.  Atau gampangannya, seperti lidah orang Jawa yang kemudian berbicara bahasa Indonesia, kental dengan logat medhoknya.

Supriyanto, koordinator kegiatan mengakui sengaja menghadirkan tarian klasik gaya Jogja. Lantaran selama ini masyarakat awam belum mengenal apa itu tarian jogja dan apa perbedaannya dengan gagrak Solo. “Memang dalam membawakan tarian gaya Jogjakartanya belum muncul, karena masih terbawa gaya tari Surakarta. Namun itu semua sebagai sarana pembelajaran untuk lebih menyempurnakan tarian,” imbuhnya.

Sri Hariyanti Purwaningsih salah seorang penari Santi Mahayu – hayu yang juga pengajar di ISI Solo memang sedikit kesulitan membawakan tarian gagrak Jogja. Kebiasaan membawakan tarian khas Solo, menjadi alasannya.  “Memang karena selalu menari dengan gaya Surakarta, untuk membawakan tari gaya Jogjakarta terbilang susah,” keluhnya. Raditya Erwiyanto