JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Tionghoa-Jawa Melebur, Lima Agama Doakan Gunungan

Tionghoa-Jawa Melebur, Lima Agama Doakan Gunungan

404
BAGIKAN
KIRAB SEDEKAH BUMI-Sejumlah wanita membawa gunungan Wadon yang berisikan makanan di Sudiroprajan, Solo, Kamis (31/1). Kirab Sedekah Bumi merupakan rangkaian acara Grebek Sudiro yang akan dilakukan Minggu besuk di Kawasan Pasar Gede. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

SEDEKAH BUMI SUDIROPRAJAN, CARA SOLO SAMBUT IMLEK 2564

Sedekah Bumi Sudiroprajan, Solo, bisa jadi contoh kerukunan antaretnis dan antaragama yang bisa dicontoh daerah lain. Bagaimana kemeriahan pesta rakyat menyambut Imlek 2564 itu? Berikut laporannya.

Jam di Kampung Sudiroprajan, Solo, kamis (31/1), menunjuk pukul 19.00 WIB. Mulai pada jam itulah, kawasan yang dikenal sebagai salah satu kampung Pecinan di Solo itu, mulai menunjukkan denyut kemeriahan pesta rakyat.

Ratusan warga, dua etnis yakni Jawa dan keturunan Tionghoa ramai-ramai keluar rumah, berbaur bersama memadati jalan. Malam itu, mereka menggelar acara kebudayaan bertajuk Kirab Sedekah Bumi Sudiroprajan.  Kirab itu, merupakan rangkaian dari acara utama perayaan Imlek 2564, yaitu Grebek Sudiro.

Tepat seperempat jam kemudian, kirab yang kerap disebut sebagai kirab akulturasi Jawa-Tionghoa itu, mulai diberangkatkan dari kantor kelurahan Sudiroprajan. Tidak seperti kirab yang digelar pada umumnya di Solo, kirab malam itu, justru mengambil rute jalan-jalan kecil di Kampung Sudiroprajan.

Ratusan warga berbagai elemen, mulai anak-anak hingga orang tua, tumpah ruah dalam pesta rakyat itu. Dua gunungan salah satunya, bersisi hasil bumi seperti sayuran dan  gunungan lainnya, berisi jajanan pasar jadi simbol pesta malam itu. Yang tidak lumrah lagi, pengusung salah satu gunungan, justru empat perempuan. Umumnya, kiran gunungan selama ini didominasi kaum pria.

Dari Kelurahan Sudiroprajan, kirab melintasi jalan kampung ke Kepanjen–Balong–Kreteg Abang–SD Sudiroprajan dan finish di Jalan Kapten Mulyadi, selalu dikerubuti warga. Pekikan nada-nada mengikuti suara musik bambu yang dibawakan kelompok Manunggal Rasa kian menyemarakkan pesta itu.

Bentuk akulturasi Jawa-Tionghoa juga ditampilkan dalam kostum peserta kirab. Anak-anak yang dikerahkan dalam kirab menari dengan kostum serba putih. Sedangkan peserta kirab lainnya, mengenakan kostum lurik, yang merupakan pakaian khas Jawa.

Kejutan lainnya, adalah saat kirab tiba di garis finish, atau tepatnya di kampung Balong ”Bok Teko”, di Jalan Kapten Mulyadi. Di tempat itulah, prosesi serah terima gunungan dilakukan, kepada lima perwakilan masyarakat dari masing-masing agama. Lima tokoh itulah, kemudian mendokan gunungan sebelum diperebutkan warga.

Dalam tempo sekejap dua gunungan tersebut ludes diperebutkan ratusan warga. Salah satu warga yang berebut isi gunungan, Lia Puspitasari (34), mengaku saban tahunnya, mengikuti kirab Sedekah Bumi untuk mendapatkan berkah. ”Tadi dapat sayur-mayur, nanas dan padi. Nanti padinya mau ditaruh di atas pintu rumah, kalau sayur ingin dimasak agar mendapat berkah,”ujarnya.

Lurah Sudiroprajan, Dalimo, mengatakan, pesta rakyat itu, digelar untuk menyambut Tahun Baru Imlek. ”Ini sudah menjadi agenda tahunan, sebelum digelar Grebeg Sudiro. Kalau kirab ini, untuk mengajak warga membersihkan bumi yang telah dikotori oleh manusia itu sendiri,”ujarnya.

Selain itu, kirab Sedekah Bumi juga sebagai wujud syukur warga kepada Sang Pencipta atas segala anugerah dan karunia yang telah diterima. Menurutnya, ada pesan khusus dalam setiap kirab tahunan itu, yakni meneruskan tradisi turun-temurun, yakni hidup rukun antaretnis dan antarpemeluk agama. ”Kami berharap, persaudaraan antaretnis dapat terjalin sampai kapan pun,”katanya. Ronald Seger Prabowo