JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Transparansi Informasi Beasiswa Dipertanyakan

Transparansi Informasi Beasiswa Dipertanyakan

338
BAGIKAN

Ini kerap menjadi pro dan kontra, karena kebanyakan mahasiswa yang masih mempunyai hubungan saudara dengan pihak birokrasi kerap kali mendapatkan kemudahan.

ilustrasi
ilustrasi

Membicarakan mengenai beasiswa bisa jadi hal yang sensitif. Ada sejumlah beasiswa yang merupakan hak semua mahasiswa tanpa membedakan status atau persyaratan tertentu. Namun, ada juga yang memang diberikan kepada mereka yang memiliki standar tertentu, seperti jumlah Indeks Prestasi  Komulatif (IPK), kemampuan mahasiswa atau pun persyaratan spesifik lain.

Meski demikian, sudah  menjadi hak bagi semua mahasiswa untuk mendapatkan informasi mengenai beasiswa tersebut. Sayangnya, masih ada informasi pemberian beasiswa yang sifatnya eksklusif, hanya disebarkan ke pada kelompok tertentu saja. Tidak semua mahasiswa mampu mengakses informasi tersebut alias tidak transparan.

Muhammad Syarif Hidayatullah, mahasiswa Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengutarakan beasiswa tidak transparan itu tentu banyak megecewakan mahasiswa yang benar – benar membutuhkan.  Kejadian ini kerap terjadi di setiap universitas.  Namun di sini ada dua opsi antara mahasiswa atau birokrasi? Maksudnya tidak semua kesalahan pada birokrasi kampus dan tidak juga pada mahasiswa. “Banyak mahasiswa juga tidak peduli dengan pengumuman kampus mengenai syarat beasiswa, setelah itu menyalahkan pihak birokrasi,” terang Mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam ini pada Tim Akademia, Sabtu (16/2).

Dia menambahkan, yang perlu digarisbawahi atau perlu ditekankan adalah mengenai bagaimana seleksi beasiswa tersebut, ketika memang mahasiswa dan pihak birokrasi sudah ada komunikasi yang baik. Ini kerap menjadi pro dan kontra, karena kebanyakan mahasiswa yang masih mempunyai hubungan saudara dengan pihak birokrasi kerap kali mendapatkan kemudahan.

”Dari sini, mahasiswa perlu mengkritisi sudah layakkah mereka mendapatkan beasiswa, sudah sempurnakah syarat- syaratnya? Jika semuanya sudah jelas, dan ternyata ada penyelewengan. Mahasiswa tak perlu takut untuk melaporkan kepada pihak terkait ini. Toh, itu sebenarnya adalah hak kita,”  lanjut dia.

Sementara Ari Gunawan, Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto akan mendesak kampus untuk lebih transparan. “Kami akan mendesak adanya transparansi beasiswa, yang hingga saat ini pihak akademik terkesan tertutup bagi mahasiswa, di mana pengumumam yang dikularkan pihak rektorat hanya sehari untuk menyelesaikan proses administrasi,ungkap Ari

Ari menerangkan mahasiswa perlu memberi masukan kepada pihak akademik agar menyosialisasikan beasiswa kepada mahasiswa sehingga beasiswa tersebut mampu merata mencakup semua mahasiswa yang memenuhi kriteria. “Seharusnya beasiswa bukan hanya diketahui oleh sekelompok mahasiswa namun mahasiswa keseluruhan juga mampu mengetahui terkait transparansi beasiswa yang ada di universitas, tandas dia.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Ayu Pramayanti. Mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta ini menyatakan rasa sedikit kecewa terhadap beasiswa yang tidak transparan. Ayu mengaku tidak tahu menahu soal beasiswa yang seharusnya adalah hak setiap mahasiswa. “Saya pribadi baru tahu, jujur. Kalau ada beasiswa harusnya lebih transparan,” imbuhnya.

Ayu juga menambahkan, kejelasan tentang pemberian beasiswa tersebut ditujukan kepada siapa dan dalam rangka apa. Ayu berharap, untuk selanjutnya ada pemberitahuan pasti tentang pengadaan beasiswa ini. “Pengumuman lebih jelas. Kalau ada pemberitahuan sebaiknya disebarluaskan dan tidak tertutup,” harap Ayu.

 

Keaktifan Berorganisasi

Namun, hal ini tak sepenuhnya benar  menurut Dosen UIN Sunan Kalijaga Ahmad Sholehudin. “Menurut saya beasiswa memang merupakan hak mahasiswa namun jika tidak transparan mahasiswa perlu mempertanyakannya. Saya rasa setiap universitas sudah menyosialisasikan kepada seluruh mahasiswa terkait adanya beasiswa, atau mungkin mahasiswanya sendiri yang kurang intensif dan kontinu dalam mengikuti informasi yang ada di kampus sehingga mereka tidak pernah tahu tentang informasi adanya beasiswa di kampus,” ungkap Ahmad.

Hal tersebut juga di ungkapan oleh Kepala Bidang Kemahasiswaan Unisri, Drs Sarsito HP.  Dia mengutarakan beasiswa selama ini adalah transparan. “Pemberi beasiswa dari Kopertis kemudian ke Wakil Rektor Bidang III dengan menambah beberapa syarat,” katanya. Sarsito menambahkan bahwa syarat yang diutamakan di antaranya pernah membuat karya ilmiah, berasal dari keluarga yang tidak mampu dan berprestasi.

Mengenai pemberitahuan beasiswa, informasi sebarluaskan melalui setiap fakultas dan web Unisri. Disinggung tentang adanya individualisme beasiswa tersebut dia tersenyum. “Kalau ada kompetisi di setiap mahasiswa itu adalah manusiawi,” katanya.

Penerimaan beasiswa ini berlangsung satu tahun sekali, mengingat jumlah yang dikeluarkan cukup besar. Faktor lain tentang IPK bukan satu-satunya ukuran untuk memperoleh beasiswa, tetapi juga diimbangi dengan keaktifan dalam berorganisasi. Ke depannya, Sarsito berharap pendistribusian beasiswa tepat sasaran terutama bagi mahasiswa yang tidak mampu dengan melakukan kunjungan ke rumah. “ Idealnya setiap usulan harus home visit (kunjungan ke rumah, red), karena selama ini seleksi masih berdasarkan pemberkasan, dan filter atau penyaringan beasiswa harus diperketat,” pungkasnya. Tim Unisri