JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Vaksin Belum Ada, Peternak Diminta Proaktif

Vaksin Belum Ada, Peternak Diminta Proaktif

225
Pemusnahan Itik
Pemusnahan Itik

BOYOLALI – Temuan kasus positif flu burung atau Avian Influenza (AI) pada itik di Desa Kuwiran Banyudono pekan kemarin, membuat Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali siaga I. Selain itu peternak juga diminta untuk proaktif dalam antisipasi merebaknya flu burung.

Ida Nawaksari, Kabid Kesehatan Hewan Veteriner Disnakan Boyolali menyatakan, sejak kasus flu burung merebak di sejumlah daerah, khususnya wilayah JawaTengah (Jateng), pihaknya sudah mewaspadai penularan virus AI di Boyolali. “Sejak awal kami sudah waspada dan terus melakukan antisipasi, tetapi dengan temuan ini kami lebih siaga lagi,” ungkap dia akhir pekan kemarin.

Menurut Ida, sebelum kasus kematian itik di Desa Kuwiran, kematian unggas  juga terjadi di wilayah Banyudono lainnya. Namun saat itu kematian unggas negatif flu burung, melainkan tetelo. Sementara kematian ratusan itik di Desa Kuwiran kemarin dinyatakan positif AI sehingga itik dimusnahkan. Kesiagaan tersebut diperlukan, mengingat sampai saat ini vaksin AI varian baru yang menyerang itik, belum didistribusikan ke Boyolali. Diperkirakan vaksin baru tersebut baru didistribusikan dari pusat pada Maret mendatang. Sehingga yang ada saat ini hanya vaksin lama, yang peruntukkannya terutama untuk unggas ayam.

Menurut Ida, saat ini stok vaksin lama masih sekitar 50.000 dosis untuk 50.000 unggas. Padahal jumlah populasi itik saja di Boyolali, mencapai 194.000 ekor. Di Boyolali, sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Banyudono dan Sawit. “Vaksin varian baru kemungkinan Maret baru ada, biasanya sifatnya bantuan, tetapi kalau kurang nanti dapat diajukan di APBD,” jelas dia.

Selain antisipasi dengan pemberian vaksin, upaya pencegahan dini dilakukan dengan desinfektanisasi. Karmidi, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Disnakan Kecamatan Banyudono meminta supaya peternak unggas untuk lebih proaktif melakukan penyemprotan desinfektan di kandang masing-masing. Pihaknya menyediakan desinfektan dalam jumlah yang cukup untuk penyemprotan. Namun jika penyemprotan dilakukan oleh petugas, pihaknya terkendala dengan jumlah personil yang minim. “Kami hanya punya tiga personil, jelas sangat terbatas, karena itu kami minta peternak untuk proaktif untuk penyemprotan sendiri, bisa mengambil desinfektan ke kami dengan gratis,” ungkap Karmidi.

Ario Bhawono

BAGIKAN