102 Hektare Sawah Tak Produktif, Warga Tunggu Perbaikan Irigasi

102 Hektare Sawah Tak Produktif, Warga Tunggu Perbaikan Irigasi

558

Untuk memperbaiki itu butuh sekitar Rp 2 miliar.” Ngadino | Kabid Pengairan PESDM Wonogiri

PIPA DARURAT-Seorang warga berdiri di dekat pipa darurat penyalur air irigasi yang putus di Dawungan, Jatiroto, Wonogiri, Minggu (10/3). Joglosemar | Eko Sudarsono
PIPA DARURAT-Seorang warga berdiri di dekat pipa darurat penyalur air irigasi yang putus di Dawungan, Jatiroto, Wonogiri, Minggu (10/3). Joglosemar | Eko Sudarsono

WONOGIRI-Sekitar 102 hektare sawah yang mengandalkan air dari Daerah Irigasi (DI) Dawungan, di Dawungan, Jatiroto menjadi tanah bera alias tidak produktif. Pasalnya, saluran irigasi menuju wilayah tersebut telah putus sejak tiga tahun lalu.

Bahkan, pipa darurat yang bisa digunakan untuk mengairi sawah dekat sungai pun, kini telah hanyut. Hal itu akibat tiang penyangga pipa yang  ambruk digerus arus banjir.

Kepala Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (PESDM) Wonogiri, Arso Utoro melalui Kabid Pengairan, Ngadino mengatakan, 102 hektare sawah itu berada di enam dusun di empat desa. “Luasan itu berada di Dusun Sempor dan Dawungan (Desa Dawungan), Dusun Crème (Desa Cangkring), Dusun Krandegan dan Kuncen (Desa Ngelo), dan Dusun Pingkuk (Desa Pingkuk),” jelas Ngadino.

Untuk masa tanam Maret ini, petani dihadapkan pada kekeringan karena sudah memasuki musim kemarau. Sedangkan untuk memperbaiki saluran irigasi itu, menurutnya membutuhkan dana yang tak sedikit. “Untuk memperbaiki itu butuh sekitar Rp 2 miliar. Dipaksakan dari APBD bisa, tapi konsekuensinya untuk pos anggaran lain berkurang. Sudah kami usulkan ke BBWSBS akhir 2010 lalu tapi belum ada tindak lanjut,” jelasnya.

Di sisi lain, usulan untuk perbaikan jebolnya sekitar 254 meter saluran irigasi di sana sejak akhir 2010 lalu, belum ada tindak lanjut dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).  Saluran irigasi yang jebol itu berada di bawah dam di sekitar aliran sungai. Panjang saluran irigasi sekitar 300-an meter. Dengan bagian rusak sekitar 254 meter tadi maka bisa dikatakan sudah tidak bisa digunakan lagi.

Terpisah Kepala Desa Dawungan, Jarno mengatakan kondisi saluran saat ini makin rusak. Bahkan pipa sepanjang enam meter yang digunakan untuk menyalurkan air ke beberapa hektare sawah di sekitar sungai hanyut terbawa banjir Senin (4/3) lalu.

“Tanaman padi juga seadanya. Petani kebanyakan mengganti tanaman dengan kedelai. Itu pun hasilnya tidak maksimal. Petani saat ini mulai dihadapkan pada kekeringan lagi karena ini sudah mulai masuk kemarau. Dua tahun lebih tidak diperbaiki, kini saluran makin rusak. Pipa yang dipasang untuk pengairan darurat baru saja hanyut,” terangnya.

Hal senada dikatakan Kepala Desa Cangkring, Rusdiyana. Dirinya hanya bisa memohon dinas terkait segera memperbaiki kerusakan yang ada.

“Petani hanya berharap bisa segera diperbaiki. Sebelum kerusakan terus bertambah. Solusi untuk hal ini sangat kami harapkan. Kami mohon segera ditangani. Kasihan petani,” katanya.

Yadi (50) warga Dusun Dawung RT 1 RW I mengatakan kerusakan mulai terjadi sejak sekitar enam tahun lalu. Kerusakan paling parah dimulai sejak tahun 2011 hingga musim hujan saat ini. “Sawah saya sekarang juga sudah ditanami palawija. Padi tidak ada air. Dan baru saja pipa air juga hanyut jadi yang tadinya masih bisa disuplai terutama yang dekat sungai, saat ini sudah kering. Terancam kering jadi tegalan semua,” kata dia, Minggu (10/3). Eko Sudarsono

BAGIKAN