JOGLOSEMAR.CO Foto 3 Teroris Ditembak Mati

3 Teroris Ditembak Mati

464
BAGIKAN
Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri meringkus tujuh orang pelaku perampokan toko emas di Tambora, Jakarta Barat. Antara
Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri meringkus tujuh orang pelaku perampokan toko emas di Tambora, Jakarta Barat. Antara

JAKARTA—Aparat gabungan Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri meringkus tujuh orang pelaku perampokan toko emas di Tambora, Jakarta Barat, yang diduga terkait dengan jaringan teroris. Sebanyak tiga tersangka teroris di antaranya terpaksa ditembak mati.

“Mereka berusaha melarikan diri saat akan ditangkap dan menyerang petugas,” kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Bayuseno, Jumat (15/3).

Ketiga tersangka yang ditembak adalah Makmur (34), Arman (39), dan Kodrad alias Polo (34). Sedangkan empat tersangka lainnya adalah Siswanto (38), Togog alias Anto (34), Kiting (34), dan Thendra Hermalan (45).

Putut menyebut, tersangka Makmur pernah terlibat dalam kasus bom Beji, Depok, September tahun lalu dan perampokan Bank CIMB Niaga Medan, September 2010. Polisi sedang menelisik kasus ini untuk menelusuri jaringan teroris kelompok tersebut. Makmur, kata Putut, diduga dalang kelompok ini.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Jendral Sutarman, mengungkapkan, tujuh tersangka teroris ditangkap di sejumlah lokasi berbeda, yakni di Teluk Gong, Jakarta Utara; Mustikajaya, Kota Bekasi; Pekayon, Kota Bekasi; Kapuk Muara, Jakarta Utara; dan Bintaro, Pondok Aren, Tangerang.

Menurut Sutarman, para tersangka itu diduga anggota jaringan teroris internasional yang sudah tidak lagi memperoleh bantuan dana luar negeri. Akibat keterbatasan dana, kata dia, para pelaku diduga melakukan sejumlah aksi perampokan guna membiayai aksi terorisme di Indonesia.

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa lima pucuk senjata api rakitan, 14 bom pipa, 34 butir peluru, dua unit peluru dan satu kilogram perhiasan emas.

Sutarman menambahkan, dalam aksinya, para terduga teroris berkomunikasi melalui pesan antarkurir guna menghindari deteksi petugas. “Para tersangka ini berkomunikasi tidak melalui teknologi telepon maupun e-mail, tapi secara konvensional melalui pesan antarkurir,” ungkap Sutarman usai meninjau lokasi penggerebekan terduga teroris di sebuah bengkel mebel di RT 002/RW III, Jalan Laimun, Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi.

Menurut dia, cara tersebut bertujuan untuk menghindari pelacakan petugas atas informasi yang diperoleh dari penangkapan rekan tersangka di sejumlah wilayah. “Namun penangkapan tersangka kita lakukan berkat pengintaian petugas selama beberapa hari di lokasi kejadian,” terangnya.

Saat ini, polisi masih mengejar satu orang pelaku perampokan Toko Emas Terus Jaya, Tambora, Jakarta Barat. Si pelaku ini merupakan bagian dari komplotan, sehingga total menjadi delapan orang. “Sisa tinggal satu pelaku inisial F, pelaku ini bagian kelompok saja,” ujar Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Tony Harmanto di Mapolda Metro Jaya.

Toni menuturkan saat beraksi komplotan ini menggunakan empat mobil dan satu motor. Namun hingga kini masih ditelusuri asal-muasalnya. “Mereka masih menelusuri asal kendaraan, tapi kita duga Makmur sebagai pimpinan komplotan,” ungkapnya.

Toni menuturkan saat Makmur ditangkap di kontrakannya wilayah Bintaro sempat ditemukan 14 bom pipa. Namun Polisi masih mendalami asal muasal bom pipa ini.

Sementara itu, Ketua RW III Mustikajaya, Anin Sigkih, mengaku mengenal pemilik bangunan bengkel mebel yang menjadi lokasi penggerebekan Densus 88 Antiteror di RT 002/RW III, Jalan Laimun, Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi.

“Saya pernah lihat Pak Edi Novian mengantarkan konsumsi untuk keperluan saksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) selama pelaksanaan Pilkada Kota Bekasi pada tanggal 16 Desember 2012. Beliau adalah pemilik bengkel mebel karena saya yang mengurus perizinannya,” bebernya.

Hal itu juga diperkuat oleh pernyataan salah satu warga setempat yang berprofesi sebagai anggota DPRD Kota Bekasi dari PDI Perjuangan, Tumai. “Saya tahu dia (Edi) kader PKS dari teman saya yang pernah menyaksikan dia terlibat dalam kegiatan PKS,” tuturnya.

Namun PKS Kota Bekasi menilai kabar keterkaitan kadernya dengan aksi terorisme Mustikajaya sebagai upaya menjatuhkan citra partai jelang Pemilu 2014. “Banyak orang yang tidak kenal siapa dan bagaimana PKS. Mungkin yang dilihat warga adalah kesamaan secara fisik dan penampilan layaknya kader kami,” tandas Ketua Bidang Humas DPD PKS Kota Bekasi, Ariyanto Hendrata.

Menurut Ariyanto, pihaknya tidak menemukan daftar anggota atau kader PKS setempat yang bernama Edi Novian. “Kalaupun pernah ada orang yang pernah membantu konsumsi saksi kami, itu sifatnya sukarela. Kami tidak bisa melarang masyarakat memberi bantuan,” tepisnya.  Antara | Detik