7 Pelajar Cabul Dituntut Dua Tahun Penjara

7 Pelajar Cabul Dituntut Dua Tahun Penjara

277

Mereka terbukti bersama-sama dengan sengaja melakukan ancaman kekerasan, memaksa anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul.” Sri Murni | Jaksa Penuntut Umum

ilustrasi
ilustrasi

WONOGIRI-Kasus pencabulan yang dilakukan tujuh pelajar SMP di Jatiroto terhadap teman sekelas mereka, kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Wonogiri, Senin (4/3). Para pelaku dituntut hukuman dua dua tahun penjara serta denda masing-masing Rp 60 juta, dengan masa percobaan selama tiga tahun. Ketujuh pelajar itu ialah IW (15), KA (14), DB (14), ED (13), DA (14), SP (15), dan AS (15) yang seluruhnya siswa kelas VIII.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sri Murni mengatakan ke tujuh pelajar itu dinyatakan terbukti melanggar Pasal 82 UU Perlindungan Anak juncto Pasal 55 Ayat 1 ke 1 juncto UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. “Mereka terbukti bersama-sama dengan sengaja melakukan ancaman kekerasan, memaksa anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul,” kata Sri Murni seusai sidang.

Baca Juga :  Lomba Kreatif IPB-Nguter di Wonogiri, Moncerkan Potensi Jamu dan Pangan Lokal

Mengenai masa percobaan tiga tahun, dijelaskannya jika selama tiga tahun ke tujuh siswa itu tidak melakukan tindak kriminal, maka tidak akan dikenai pidana dua tahun penjara dan denda tersebut. Hal itu masih ditambah ketentuan jika tidak membayar ganti rugi seperti yang diatur, maka mereka wajib mengganti dengan mengikuti latihan kerja selama 30 hari di lembaga permasyarakatan. “Sebaliknya, jika mereka melakukan tindak pidana, seperti contoh terlibat perkelahian maka selain menjalani pidana dan membayar denda itu, masih ditambah dengan pidana yang mengatur tentang penganiayaan,” terangnya.

Ia menilai hukuman percobaan tiga tahun sebenarnya memang justru berat. “Karena itu anak-anak ini harus benar bisa menjaga diri. Jangan sampai terlibat masalah hukum. Begitu terlibat (dalam masa tiga tahun), dipastikan menjalani pidana penjara,” lanjutnya.

Meski begitu ia menegaskan, tuntutan ini menjadi pilihan terbaik mengingat mereka masih bersekolah. Lagi pula di usia tersebut mereka masih saatnya bertumbuh kembang yang baik secara fisik, dan mental masih berubah-ubah.

Baca Juga :  Pemkab Wonogiri Luncurkan KIA

“Hakim tadi menegaskan agar mereka bisa menjaga diri. Kepada kuasa hukum terdakwa, hakim meminta agar membuat pembelaan secara tertulis yang diagendakan dalam sidang lanjutan Rabu (13/3) pekan depan,” terangnya.

Seperti biasa, sidang kasus asusila ini berjalan tertutup. Hanya dihadiri terdakwa serta korban, dan semua orangtua pelajar dan kuasa hukum.

Seperti diberitakan, ke tujuh pelajar ini pada Oktober 2012 lalu dilaporkan karena diduga melakukan pelecehan kepada teman perempuan mereka di dalam kelas, TU (14). TU dilaporkan dipegang dan diraba di dalam ruang kelas saat istirahat sekolah berlangsung. Korban mengaku perbuatan itu telah dilakukan berulang kali.

Kuasa hukum terdakwa, Suryanto mengatakan akan membuat pembelaan tertulis sesuai dengan permintaan majelis hakim. “Agenda pekan depan itu, akan kami buat pembelaan tersebut,” jelasnya. Eko Sudarsono

BAGIKAN