9 Warga Manyaran Terjangkit Leptospirosis

9 Warga Manyaran Terjangkit Leptospirosis

367

Bahkan tiga di antaranya sempat menjalani rawat inap di Puskesmas Wuryantoro pada Februari dan Maret ini.

ilustrasi tikus
ilustrasi tikus

WONOGIRI- Sembilan warga di Desa Bero, Kecamatan Manyaran, terserang leptospirosis. Bahkan tiga di antaranya sempat menjalani rawat inap di Puskesmas Wuryantoro pada Februari dan Maret ini.

Kepala Dinas Kesehatan kabupaten (DKK) Wonogiri, Widodo melalui Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Suprio Heryanto, mengatakan, tiga warga yang menjalani rawat inap itu sudah menunjukkan gejala klinis ringan. Mereka berasal dari tiga dusun.

“Satu perempuan di Dusun Pagean, satu laki-laki di Dusun Jetis, dan satu laki-laki di Dusun Pucanganom. Yang dari Pucanganom kasus impor, dia sudah sakit sejak di Jakarta dan pulang ke dusunnya. Ketiganya sempat dirawat di Puskesmas Rawat Inap Wuryantoro. Semua sekarang sudah sehat,” jelas Suprio, Selasa (19/3).

Baca Juga :  Duh, Pemborong Tersengat Listrik, Terpental dan Tewas

Setelah ada tiga warga yang terserang, imbuhnya, sebanyak 18 warga di Dusun Pagean dan empat warga di Dusun Jetis pun diperiksa. “Dari total 22 warga yang diperiksa itu, sebanyak enam terinfeksi bakteri serupa tapi belum sampai menunjukkan gejala klinis. Di  tahun 2012 lalu tidak ada temuan kasus ini, tapi di tahun 2011 ada,” terang dia.

Ia menuturkan, penyakit leptospirosis disebarkan oleh bakteri leptospira dengan perantara air seni tikus. Penyakit ini banyak terjadi saat musim hujan. Untuk itu, warga diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan. Terlebih di rumah petani, banyak padi yang disimpan di dalam rumah yang mengundang datangnya tikus. “Penularan juga bisa terjadi saat warga beraktivitas di sawah atau ladang,” katanya.

Baca Juga :  Ratusan Mantan Pejuang Peringati Hari Veteran di Istana Parnaraya

Oleh karena itu, ia mengimbau warga untuk mencuci tangan sepulang dari sawah atau ladang, bahkan di sekitar pekarangan rumah. “Juga hindari adanya timbunan sampah,” pesannya.

Dari data, di tahun 2011 ada sembilan temuan kasus, empat di antaranya meninggal dunia. Jumlah itu tersebar di lima kecamatan yakni empat kasus di Tirtomoyo, satu meninggal. Satu kasus meninggal di Baturetno, satu kasus di  Purwantoro namun tidak meninggal, serta dua kasus di Ngadirojo dan satu meninggal.

Eko Sudarsono

 

BAGIKAN