JOGLOSEMAR.CO Daerah Wonogiri Alirkan Air ke Selatan, Kurangi Risiko Ambles

Alirkan Air ke Selatan, Kurangi Risiko Ambles

241
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

WONOGIRI-Rencana mengalirkan sebagian air Waduk Gajah Mungkur (WGM) ke wilayah selatan, ternyata mampu mengurangi risiko amblesnya wilayah karst. Sebab, saat air mengalir juga membawa sedimen lumpur. Sedimen inilah yang akan mengisi rongga-rongga kawasan karst.

Hal itu dikatakan Sri Wahyu Widayatto, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Wonogiri, yang juga bagian tim pengkaji rencana pengaliran air waduk ke selatan.

“Mengalirkan air waduk ke selatan sekaligus air yang membawa sedimen lumpur. Sedimen inilah yang perlahan akan mengisi rongga-rongga kawasan karst. Wilayah waduk dulu juga tidak langsung bisa ada genangan karena ternyata di dasar ada sejenis palung laut yang sejak dulu ada, akhirnya sedimentasi perlahan mengisi lubang itu hingga akhirnya air bisa menggenang,” jelas Wahyu kepada Joglosemar, belum lama ini.

Wilayah Kecamatan Pracimantoro, sebagian Eromoko, Baturetno sisi selatan, Paranggupito, Giriwoyo, Giritontro, dan Batuwarno berada di kawasan karst. Namun ternyata, batuan di Gunung Gandul yang masuk wilayah Kelurahan Giriwono, Wonogiri juga terdapat fosil kerang laut. “Jadi dulunya Gunung Lawu di sebelah selatannya lautan. Wilayah selatan berada di dalam laut lalu terjadi pengangkatan di sisi selatan hingga akhirnya menjadi daratan. Nah, batuan karst yang di tujuh kecamatan tadi dengan dialiri air dari waduk yang notabene juga membawa sedimen akan memperkuat struktur bebatuan,” lanjutnya.

Menurutnya, proyek pusat Jalur Lintas Selatan (JLS) sepanjang 35,5 kilometer pun, bukan tidak mungkin terjadi amblesan karena batuan karst terus mengalami proses pelapukan. “Hanya butuh daya juang warga saja, tidak banyak biaya. Secara garis besar cukup membuat setidaknya tiga jalur saluran air dengan dalam 10 meter saja ke wilayah selatan. Pengerjaan menggali bisa dalam empat tahun berturut. Titik jalur terjauh jika dari wilayah Betal ke Giritontro sekitar 20 kilometer,” jelasnya.

Eko Sudarsono