JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Internasional AS Janji Tak Dikte Dunia

AS Janji Tak Dikte Dunia

242
BAGIKAN

Kita tidak bisa mendikte dunia, namun kita harus berinteraksi dengan dunia.” Chuck Hagel | Menhan AS

Chuck Hagel. (reuters)
Chuck Hagel. (reuters)

WASHINGTON—Veteran Perang Vietnam, Chuck Hagel, akhirnya disumpah menjadi Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat usai menghadapi perseteruan sengit dengan para Senator AS. Hagel pun berjanji memperbarui kebijakan pertahanan AS tanpa berusaha mendikte dunia.

“Kita tidak bisa mendikte dunia, namun kita harus berinteraksi dengan dunia. Kita harus memimpin mitra kita, tidak ada negara sehebat Amerika yang bisa melakukan hal ini dengan sendiri,” ujar Hagel, seperti dikutip Reuters, Kamis (28/2).

Mantan Senator Nebraska itu juga menyinggung masalah pemotongan anggaran pertahanan yang sering disebut dengan istilah “penyitaan”. Hagel memandang hal itu sebagai realita yang harus diatasi.

Dikatakan Hagel, dirinya cukup khawatir dengan pemotongan anggaran kebijakan pertahanan karena bisa berdampak pada kesiapan personel militer AS. Oleh karena itulah, Hagel menyarankan agar AS bertindak lebih bijaksana ketika mencetuskan kebijakan-kebijakan militernya.

Saat pria berambut putih itu masuk ke auditorium Pentagon, salah seorang pasukan AS yang sempat berdinas di Afghanistan langsung berkomentar tentang Hagel. Prajurit itu menyebut Hagel sebagai seorang pria yang sangat memahami biaya perang.

Seperti diketahui, salah satu tugas Hagel adalah mengakhiri Perang Afghanistan, karena pada 2014 AS berniat menarik pasukannya di negara Asia itu. Bila AS meninggalkan sedikit pasukan, hal itu dipandang bisa menciptakan ketegangan baru.Dalam kesempatan itu, Hagel mengucapkan terima kasihnya pada pasukan AS yang bertugas di Afghanistan. Hagel mengatakan, selain memusatkan perhatiannya pada wilayah Asia-Pasifik, dirinya juga akan menghidupkan kembali sejarah aliansi NATO.

“Saat membalik halaman tentang lebih dari satu dasawarsa kemelut, kita harus memperluas perhatian pada ancaman dan tantangan masa depan,” ucap Hagel. “Itu berarti terus meningkatkan pusat perhatian pada kawasan Asia-Pasifik, menghidupkan kembali persekutuan bersejarah, seperti NATO, dan menanam modal baru dalam kemampuan penting, seperti cyber,” tuturnya.

Pendahulunya, Leon Panetta, pada pekan lalu telah melakukan pembicaraan dengan sekutu NATO di Brussels untuk mempertahankan pasukan NATO antara 8.000 hingga 12.000 tentara. Pejabat tinggi NATO pada bulan lalu menyatakan, Amerika Serikat mengharapkan sekutu lain NATO menyumbang antara sepertiga hingga setengah jumlah tentara sumbangan Washington.  Okezone | Antara