Beras Raskin Banyak yang Dijual

Beras Raskin Banyak yang Dijual

479
MEMINTA KETERANGAN-Anggota Komisi B DPRD Provinsi, Subandi PR meminta keterangan terkait perlakuan beras sebelum keluar gudang untuk Raskin di Gudang Bulog Ngadirojo kepada Kepala Gudang, Rabu (6/3). Eko Sudarsono
MEMINTA KETERANGAN-Anggota Komisi B DPRD Provinsi, Subandi PR meminta keterangan terkait perlakuan beras sebelum keluar gudang untuk Raskin di Gudang Bulog Ngadirojo kepada Kepala Gudang, Rabu (6/3). Eko Sudarsono

WONOGIRI-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa tengah melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke gudang beras Bulog Ngadirojo, Rabu (6/3).

Sidak dilakukan oleh anggota Komisi B, Subandi PR dengan mengajak serta wakil rakyat di DPRD Wonogiri asal Ngadirojo, Sulardi. Sidak untuk memastikan beras untuk Raskin diolah terlebih dulu agar layak diterima masyarakat penerima.

Subandi mengatakan Sidak serupa juga tidak terlepas dari temuan dari sejumlah kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Seperti di Purwodadi, di sana ada satu pengepul khusus untuk beras yang berasal dari beras orang punya hajat. Parahnya beras-beras itu masuk dijual ke bulog. Alhasil, beras sisa itu terus berputar karena warga enggan dengan kualitas beras campuran tersebut.

“Ini juga terjadi di Kabupaten Kendal. Beras Raskin juga istilahnya jalan-jalan tanpa berhenti di tungku masak ibu rumah tangga. Ya itu tadi karena kalau dimasak rasanya tidak enak. Mungkin juga karena terlalu lama disimpan sehingga beras berubah menjadi apek dan kusam,” jelasnya.

Baca Juga :  Dalam Sepuluh Tahun, 47 Persen Mata Air di Eks Karesidenan Surakarta Hilang

Begitu pula di wilayah Kabupaten Wonogiri. Tidak bisa dipungkiri banyak warga penerima Raskin yang akhirnya menjual beras ditukar dengan beras yang lebih enak. Atau dicampur dengan beras lain agar tidak kentara rasa tidak enaknya.

“Kebiasaan di sini juga seperti itu. Jadi kami mohon sebelum keluar dari gudang benar-benar diperhatikan kualitas berasnya. Kalau tahu berbubuk atau berdebu jangan langsung didistribusikan. Terlebih beras di gudang ini stok tahun 2012 lalu ditambah udara lembab sehingga kutu beras mudah berkembang,” lanjutnya.

Dengan harga beli dari petani sebesar Rp 6.600 hingga Rp 6.700 per kilogram, maka seharusnya kualitas beras terjamin. Untuk itu dirinya meminta agar menyortir beras sebelum keluar untuk Raskin.

Kepala Bulog Subdivisi Regional (Subdivre) III Surakarta, Edhy Rizwan mengatakan telah meminta sejumlah gudang untuk memblower beras di dalam karung tumpukan lama sebelum didistribusikan untuk Raskin.

“Dengan diblower (ditiup dengan mesin-red), debu dan bubuk akan hilang dan tinggal buliran beras yang telah bersih yang dihasilkan. Stok di gudang memang stok tahun 2012 jadi lama disimpan,” terangnya.

Baca Juga :  Pemkab Wonogiri Siapkan Dana Rp 165 M untuk Atasi Permasalahan Klasik Ini

Jika memang kualitas beras sangat buruk, maka beras bisa disingkirkan dan diganti dengan yang baru hanya saja untuk beras yang dikeluhkan berbubuk beberapa minggu ini kualitas beras masih bagus, hanya ada debu dan serbuk putih akibat pati yang dihasilkan kutu.

“Proses fumigasi agar hama kutu mati juga gampang-gampang susah, caranya tumpukan beras diselubungi plastik dan diberi obat. Kalau ada sedikit saja yang berlubang, fumigasi tidak maksimal. Tapi kutu kebanyakan sudah mati. Hanya diblower saja sebelum dikirim agar debu hilang,” tambahnya.

Kepala Gudang Bulog Ngadirojo, Nugroho mengatakan stok yang ada di gudang masih cukup untuk kebutuhan Raskin hingga tiga bulan ke depan.

“Masih ada stok 3.095 ton. Cukup untuk tiga bulan termasuk distribusi Raskin bulan Maret ini. Saat ini gudang sudah mulai menerima beras masuk dari petani. Semua dari Wonogiri tidak ada yang dari luar Wonogiri,” kata dia. Eko Sudarsono

BAGIKAN