Blair-SBY Temukan Solusi Konflik Suriah

Blair-SBY Temukan Solusi Konflik Suriah

368
Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, Rabu (20/3) sore, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, Rabu (20/3) sore, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

JAKARTA–Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, Rabu (20/3) sore, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pertemuan mereka membahas perkembangan konflik di Timur Tengah dan solusi yang dinilai tepat untuk penyelesaian krisis politik yang berkembang menjadi kekerasan di Suriah. “Sama seperti Indonesia, beliau menyatakan prihatin melihat perkembangan di Suriah yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan,” ujar Menlu Marty Natalegawa usai pertemuan di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (20/3).

Menurutnya, di dalam pertemuan itu SBY menyampaikan tiga prinsip dalam penyelesaian konflik Suriah. Pertama adalah segera mengakhiri kekerasan, pemberian bantuan kemanusiaan, dan proses politik untuk mencari pemimpin baru negara tersebut.

“Tapi tadi Tony Blair juga menyampaikan bahwa beliau memiliki keyakinan bahwa negara seperti Indonesia dengan pengaruh dan kemampuan yang dimilikinya bisa terus meningkatkan kontribusinya terhadap penyelesaian masalah di Timur Tengah,” jelas Marty.

Marty mengungkapkan, Tony Blair dan SBY sedang menyelesaikan kerangka penyelesaian konflik di Suriah. Kedua belah pihak juga berharap agar konflik Suriah dapat segera teratasi. “Ya mungkin yang diperlukan adalah suatu bentuk penyelesaian yang mungkin tidak harus 100 persen optimal, namun minimum sudah ada semacam kerangka penyelesaiannya,” papar Marty.

Masih terkait konflik Suriah, sejumlah negara NATO tengah mempertimbangkan rencana untuk melancarkan aksi militer ke negeri Bashar al-Assad itu. Namun intervensi militer ini hanya bisa terjadi jika ada resolusi Dewan Keamanan PBB dan kesepakatan aliansi NATO yang beranggota 28 negara.

Hal tersebut disampaikan komandan tertinggi NATO, Laksamana James Stavridis seperti dilansir AFP, Rabu (20/3). Kepada Komite Dinas Bersenjata Senat Amerika Serikat, Stavridis mengatakan, sejumlah anggota NATO tengah mempertimbangkan untuk menargetkan jaringan pertahanan udara Suriah. Strategi serangan ini telah berhasil digunakan di Libya pada tahun 2011 lalu.

Namun intervensi NATO tersebut akan memerlukan prosedur yang sama seperti yang diterapkan terhadap Libya. Yakni membutuhkan resolusi Dewan Keamanan PBB dan persetujuan dari seluruh anggota NATO.

“Kami tengah mempertimbangkan sejumlah operasi, dan kami siap, jika diperlukan, untuk terlibat seperti saat kami di Libya,” tegas Stavridis. Menurut Stavridis, konflik Suriah saat ini kian memburuk.

“Situasi Suriah terus bertambah buruk dan buruk dan buruk, 70.000 orang tewas, sejuta pengungsi terusir dari negara itu, kemungkinan 2,5 juta orang kehilangan tempat tinggal di dalam negeri, belum tampak adanya akhir dari perang saudara yang ganas ini,” pungkasnya. Detik

BAGIKAN