Camat Mojolaban Mediasi Petani dengan Perajin Ciu

Camat Mojolaban Mediasi Petani dengan Perajin Ciu

296
limbah ciu
limbah ciu

SUKOHARJO- Camat Mojolaban rencananya mengundang petani dan para perajin ciu Jumat (22/3) hari ini. Pertemuan itu guna membahas konflik yang terjadi, terkait pembuangan badek atau limbah ciu ke saluran irigasi yang dinilai merugikan petani.

Camat Mojolaban, Basuki Budi Santoso mengatakan, pascademo yang dilakukan oleh ratusan petani Minggu lalu, telah ada kesepakatan baru. Hanya saja, hanya para perajin yang menandatangani surat pernyataan. Sedangkan dari pihak petani belum mau menyepakatinya. “Petani menilai jika kesepakatan itu hanya sepihak, dari para perajin. Jadi, para petani belum mau tanda tangan,” kata Basuki.

Guna mencari titik temu, pihaknya akan mengundang kedua belah pihak untuk berunding. Rencananya, lanjut dia, Jumat (22/3) hari ini akan diundang untuk membahas masalah itu. Pihaknya berharap pertemuan itu nantinya bisa menyelesaikan konflik yang sudah lama terjadi di Mojolaban.

Sementara Plt Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sukoharjo, menekankan kesepakatan antara perajin dan petani soal limbah ciu harus dilaksanakan. Termasuk membayar denda Rp 7 juta bagi perajin yang membuang limbah ciu ke saluran air.

Dikatakan dia, dalam perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak, ada sejumlah sanksi yang akan dikenakan bagi yang melanggarnya. Jika perajin ciu membuang ke saluran air, akan diberikan sanksi denda sebesar Rp 7 juta. Joko Triyono menilai, jika memang kesepakatan itu bisa berjalan, maka dimungkinkan tidak ada konflik hingga pengecoran saluran air yang menuju irigasi di Dukuh Sentul RW X Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban, Minggu (17/3) lalu.

“Sebenarnya dulu sudah ada kesepakatan soal limbah itu. Tetapi memang masih ada perajin yang nakal dan membuang limbah ke saluran. Karena itu, kami berharap kesepakatan yang sudah ada dilaksanakan. Denda Rp 7 juta harus direalisasikan,” kata dia seusai menghadiri pelantikan 299 pejabat struktural di pendapa Graha Satya Praja (GSP), Rabu (20/3).

Soal Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pihaknya menjelaskan masyarakat dalam hal ini perajin akan iuran secara swadaya untuk menyempurnakannya. Saat ini, lanjut Joko, IPAL baru pada tahap bangunan fisiknya, sehingga belum bisa difungsikan.

Sebelumnya, Ketua Paguyuban Perajin Ciu Mojolaban, Sabaryono mendukung langkah petani. Dia menegaskan, paguyuban sudah melarang pembuangan limbah ke saluran irigasi. Kepada anggotanya yang masih nekat tersebut, pihaknya meminta kepada mereka untuk sadar. Sebab apabila terus nekat melakukan itu maka dikhawatirkan akan muncul masalah yang lebih besar lagi.

Murniati

BAGIKAN