JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Cara Warga Solo Kecam Kunker Pasal Santet DPR Ke Eropa

Cara Warga Solo Kecam Kunker Pasal Santet DPR Ke Eropa

748
BAGIKAN

Kumpulkan Dukun Sakti, Minta Wakil Rakyat Studi ke Solo

KRITIK KUNKER SANTET - Warga mengabadikan tulisan sindiran terhadap kunker santet saat di Car Free Day Jalan SLamet Riyadi, Solo, Minggu (24/3). AKsi tersebut merupakan sindiran terhadap rencana Komisi III DPR RI yang hendak studi banding ke luar negeri terkait revisi KUHP untuk memasukkan tentang santet. Joglosemar/Abdullah Azzam
KRITIK KUNKER SANTET – Warga mengabadikan tulisan sindiran terhadap kunker santet saat di Car Free Day Jalan SLamet Riyadi, Solo, Minggu (24/3). AKsi tersebut merupakan sindiran terhadap rencana Komisi III DPR RI yang hendak studi banding ke luar negeri terkait revisi KUHP untuk memasukkan tentang santet. Joglosemar/Abdullah Azzam

Rencana Komisi III DPR RI yang hendak studi banding ke luar negeri terkait revisi KUHP untuk memasukkan pasal tentang santet dikecam warga Solo. Uniknya, kecaman warga ditunjukkan dengan sindiran unik. Mereka usul, para wakil rakyat mengayuh sepeda saja untuk studi ke luar negeri, agar tak mengambur-hamburka uang negara.

Sindiran warga dilampiaskan  di area car free day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (24/3). Selembar poster berisi sindiran mereka bentangkan di tengah jalan. ”Tutup. Sedang Belajar Santet ke Eropa”. Begitu tulisan dalam poster untuk menyindir wakil rakyat. Dua sepeda onthel tua juga mereka suguhkan.

”Para wakil rakyat sukanya ke luar negeri. Kalau mau ke luar negeri, pakai onthel saya ini saja. Lebih hemat, jangan pakai uang negara,” kata Karjono(70), anggota Komunitas Onthel Solo, pemilik sepeda yang dibawa dalam aksi.

Sepeda yang disediakannya berupa sepeda tua yang biasa disebut “sepeda kebo” oleh masyarakat. Karjono adalah salah satu warga yang kesal dengan rencana studi banding DPR RI itu. Ia tak rela bila uang miliaran rupiah hanya digunakan untuk jalan-jalan ke Eropa oleh para wakil rakyat berkedok studi banding. Ia mengaku tak habis pikir, kenapa studi banding soal pasal santet saja harus sampai ke luar negeri.

“Bukannya di Indonesia banyak orang yang pintar soal santet,” ucapnya. “Saya sepakat bila pemerintah membuat aturan soal santet. Tapi kan tidak harus sampai jalan-jalan ke luar negeri,” katanya lagi.

Tak hanya sepeda yang disuguhkan untuk menyindir wakil rakyat. Para dukun sakti juga dikumpulkan. Para dukun itu mengenakan pakaian serba hitam. “Kalau DPR mau tanya soal santet, bisa tanya ke mbah itu,” kata Mayor Haristanto, penggagas aksi.

Mayor menentang keras rencana para anggota Dewan ke Rusia, Perancis, Inggris, dan Belanda untuk studi banding soal pasal santet itu. Ia menganggap santet bukan berasal dari Negara Barat, melainkan dari Negara Timur.

Sehingga, penggodokan peraturan tak perlu harus jauh-jauh sampai ke Eropa atau Amerika. ”Di beberapa wilayah di Indonesia seharusnya sudah cukup, tak perlu ke luar negeri,” katanya. Ronald Seger Prabowo