JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Dibalik Karya Monumental Gong!

Dibalik Karya Monumental Gong!

416
BAGIKAN

Walaupun gong telah mendunia, laris manis di kancah nasional maupun internasional berbanding terbalik dengan nasib para pembuat gong.

LAKU PRIHATIN-- Para pembuat gong harus melakukan laku prihatin, misal puasa mutih, pendem, ngeli dan lain sebagainya sebelum membuatnya menjadi instrumen penting dalam gamelan. dok
LAKU PRIHATIN– Para pembuat gong harus melakukan laku prihatin, misal puasa mutih, pendem, ngeli dan lain sebagainya sebelum membuatnya menjadi instrumen penting dalam gamelan. dok

Tahukan kita, selama ini gong senantiasa menemani di setiap sendi kehidupan, terutama dalam perayaan prosesi penting. Gong, alat musik berpencu itu, dipukul untuk meresmikan dan membuka sebuah acara besar. Ritual gunting pita sudah tidak lagi selaras dengan zaman, terkalahkan dengan kehadiran gong. Gong bersanding agung dengan orang-orang penting, dari camat, menteri hingga presiden. Gong menjadi sebuah karya monumental, bahkan genderang perdamaian disimbolkan lewat instrumen ini, “Gong Perdamaian Dunia” namanya. Namun siapa sangka, di balik fungsi gong yang menumental itu, ternyata tak selaras dengan nasib para pembuat gong.

Menurut Joko Gombloh, Etnomusikolog yang mengambil tesis S-2 tentang karya Musik Gong I Wayan Sadra, menjelaskan bahwa gong dalam jejak kebudayaan di Indonesia senantiasa ditempatkan dalam ruang yang terhormat. Di kalimantan misalnya, instrumen ini di sebut garantung yang menemani masyarakat suku dayak dalam setiap upacara adat, baik penyembuhan (healing) maupun kematian. Tidak semua orang dianggap layak untuk membunyikan instrumen ini, hanya orang-orang yang dianggap telah menerima “wahyu” yang berhak. Dan orang-orang itu biasanya adalah pemimpin adat atau bahkan dukun (balia).

Begitu juga di Jawa, gong tak sebatas benda bulat berpencu, atau sekadar instrumen musik belaka. Gong disakralkan bahkan dipuja. Namanya kemudian dikultuskan sebagai sang “kiai” atau “nyai.” Benda bertuah yang dianggap mampu memberi keselamatan hidup. Lihatlah saat Sekaten beberapa waktu lalu dibunyikan, instrumen gong senantiasa bertabur bunga, menyan dan dupa.

Menurut Gitung, pelaku karawitan, kala gong itu dipajang dan dipertontonkan pada publik, banyak masyarakat yang berbondong-bondong untuk menyentuh, membuat harapan bahkan melepas nadhar. Pertanyaannya kemudian, kenapa harus instrumen gong? Bukan instrumen yang lain? Bukankah musik gamelan tak semata hanya gong?

Ritual Mistis

Pertanyaan yang menggelitik, dan jawabannya akan ditemui kala menyaksikan proses pembuatannya. Gong berbeda dengan alat musik gamelan lainnya, karena instrumen ini dianggap memiliki bentuk yang paling besar. Otomatis cara pengerjaannya memakan waktu yang relatif lama. Namun tak berhenti sampai di situ, menurut Supoyo, pemilik salah satu besalen (bengkel pandai besi) di Solo, para pembuat gong harus melakukan laku prihatin, misal puasa mutih, pendem, ngeli dan lain sebagainya.

Hal ini bertujuan untuk melatih kesabaran dan kemantaban diri selama membuat gong. Terlebih, cara pembuatan instrumen ini dengan ditempa (dipukul berulang kali hingga menghasilkan bentuk dan bunyi yang diinginkan). Para pembuat harus bertaruh nyawa, bergelut dengan panasnya bara api. Setiap saat kulitnya bisa melepuh karena terbakar. Pada titik inilah laku prihatin itu perlu dilakukan, agar terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Sementara dalam penyajiannya secara musikal, gong pun ditempatkan pada posisi ending, akhir dari sebuah kalimat lagu. Rahayu Supanggah, guru besar ilmu karawitan, menjelaskan gong menjadi penentu di mana musik gamelan itu harus berakhir. Gong seolah menjadi instrumen yang dinanti kehadirannya untuk menentukan keutuhan sebuah gending. Gong menjadi titik atau puncak musikal.

Penghargaan

Dengan demikian, kedudukannya tak dapat ditiadakan. Oleh karenanya, wajar jika instrumen ini begitu diagungkan. Fungsinyapun kini banyak berubah, dari ritus sakral menjadi pelengkap dalam sebuah acara. Gong berdiri secara mandiri, menunggu dipukul oleh para pejabat. Menandakan bahwa sebuah peristiwa besar akan berlangsung.

Walaupun gong telah mendunia, laris manis di kancah nasional maupun internasional berbanding terbalik dengan nasib para pembuat gong. Hal inilah yang pernah mengusik batin I Wayan Sadra, komponis, yang berusaha membuat karya berjudul Dekonstruksi Gong. Seolah ingin menjelaskan bahwa ada kontradiksi yang terjadi antara pembuat dengan hasil karyanya.

Namun sayang, sebelum karya itu paripurna untuk dibuat, komponis asal Bali itu meninggal dunia beberapa tahun lalu. Hingga saat ini, banyak para pembuat gong berada dalam nasib yang tidak menguntungkan. Mereka masih hidup sederhana bahkan tak jarang kekurangan materi. Sementara di sisi lain, mereka harus bertaruh hidup, nyawa setiap saat bisa melayang karena panasnya api dalam membuat gong.

Itulah pernak-pernik seputar gong yang mungkin selama ini belum banyak kita tahu. Kita hanya menyaksikan ritus-ritus populis kala gong bersanding megah dengan para pejabat tanpa pernah menelisik proses miris di baliknya. Bagi Zoel, Etnomusikolog, hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, agar tak semata mampu menghargai kedudukan instrumen musik tertentu, namun juga para pembuatnya.  Tim ISI