Diduga AI, Ratusan Itik di Jembungan Mati

Diduga AI, Ratusan Itik di Jembungan Mati

281
MUSNAHKAN ITIK-Petugas tengah memusnahkan itik yang terjangkit flu burung di Dukuh Gading, Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono, pertengahan Februari lalu. Joglosemar|Ario Bhawono
MUSNAHKAN ITIK-Petugas tengah memusnahkan itik yang terjangkit flu burung di Dukuh Gading, Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono, pertengahan Februari lalu. Joglosemar|Ario Bhawono

BOYOLALI – Kematian itik diduga akibat serangan flu burung atau Avian Influenca (AI) kembali terjadi di wilayah Kecamatan Banyudono. Kali ini ratusan itik milik Sulis (31), warga Dukuh Karangduwet, Desa Jembungan, Banyudono, mati sejak sepekan terakhir.

Menurut Kardiyo (57) mertua Sulis, dari total ternak itik sebanyak 500 ekor, sekitar 125 ekor yang mati sepekan terakhir. Menurut dia, kematian terjadi setelah itik-itik tersebut digembalakan ke area bekas panen di wilayah Kecamatan Nogosari. “Sudah semingguan ini terus-terusan mati,” tutur Kardiyo, Rabu (13/3).

Ratusan itik tersebut memang digembalakan untuk menghemat pakan. Lantaran di wilayah Banyudono sudah jarang panen, sehingga itik tersebut digembalakan ke wilayah Nogosari yang banyak petani panen padi. Ratusan itik tersebut setelah digembalakan, kemudian dibawa pulang dengan menggunakan pikap milik tetangga.

Baca Juga :  Universitas Boyolali Bagikan Bibit Pohon Produktif

Namun sayang, niatan untuk menghemat pakan dengan menggembalakan di sawah, ternyata berujung kerugian. Itik-itik tersebut mulai mati selang sehari sesampainya di rumah. Kematian itik tersebut ditandai dengan gejala yang sama dengan kematian itik sebelumnya, yakni diawali dengan kebutaan itik sehingga jalannya menabrak-nabrak. Selain itu itik yang terserang juga menunjukkan gejala lehernya membengkok.

Menurut Kardiyo, dirinya sudah menyarankan agar itik yang tersisa untuk segera dijual. Namun Sulis menantunya, keberatan menjual ternaknya. Keberatan Sulis dikarenakan ternak itiknya sudah mulai bertelur. “Katanya kalau dijual sekarang dalam kondisi sakit hanya dihargai Rp 26.000 per ekor oleh bakul, tapi kalau kondisi sehat bisa mencapai Rp 55.000 per ekor,” jelas dia.

Baca Juga :  Universitas Boyolali Bagikan Bibit Pohon Produktif

Sehingga itik-itik tersebut terus dipertahankan hingga sehat kembali supaya harganya tetap tinggi. Oleh Mardiyo (51), peternak yang lain, menyarankan supaya kandang segera disemprot dengan desinfektan. Penyemprotan tersebut supaya membunuh penyakit di dalam kandang juga untuk meningkatkan daya tahan itik. “Waktu itik saya mati beberapa waktu lalu langsung saya semprot, saya ambil desinfektan di UPTD secara gratis,” kata dia.

Terpisah, Ida Nawaksari, Kabid Kesehatan Hewan Veteriner Disnakan Boyolali mengatakan pihaknya baru menyelidiki kasus kematian itik tersebut. Pihaknya meminta masyarakat supaya segera melaporkan jika ada kematian unggas, supaya penanganan dapat cepat dilakukan guna mengantisipasi penyebaran flu burung. “Belum dapat dipastikan, kami masih konfirmasi dulu,” ujar Ida terkait kematian itik di Jembungan tersebut. Ario Bhawono

BAGIKAN