JOGLOSEMAR.CO Foto Dokumen Suap untuk Ibas Beredar

Dokumen Suap untuk Ibas Beredar

284

Ibas Disebut Terima US$ 900.000

EDHIE BASKORO MUNDUR
ant

JAKARTA-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat (PD), Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) disebut-sebut turut menerima aliran duit proyek pusat olahraga terpadu Hambalang dari perusahaan milik bekas bendahara PD, Muhammad Nazaruddin.

Dokumen tentang dugaan aliran dana suap dalam proyek Hambalang ke Ibas itu beredar di kalangan DPR di Senayan. Data ini disebut-sebut sebagai catatan perusahaan grup Permai yang dibuat Yulianis, staf keuangan Nazarudin.

Sebagaimana dikutip dari Viva.co.id, dalam catatan itu, Ibas tercatat menerima uang senilai US$ 900.000 untuk beberapa transaksi.

Dalam dokumen milik Yulianis itu, Ibas tercatat menerima dana sebanyak empat kali. Penerimaan dana pertama dan kedua terjadi tanggal 29 April 2010. Pada tanggal itu, Ibas tertulis menerima uang sebesar US$ 600.000 dalam dua tahap yakni tahap pertama US$ 500.000 dan tahap kedua US$ 100.000.

Sementara penerimaan dana ketiga dan keempat tertulis terjadi pada tanggal 30 April 2010. Pada tanggal itu, Ibas menerima uang sebesar US$ 300.000 yang juga terbagi dalam dua tahap – tahap pertama US$ 200.000 dan tahap kedua US$ 100.000.

Sebagaimana dikutip Tempo.co, pada transaksi 29 April 2010, dana untuk Ibas diserahkan oleh staf Nazar bernama Amin R. Lantas, 30 April 2010, Ibas kembali mendapat dana senilai US$ 300.000, yang diserahkan oleh staf bernama Bahri.

Data tentang transaksi keuangan perusahaan Nazar yang mengalir ke Ibas ini sebelumnya hangat diperbincangkan setelah Anas Urbaningrum ditetapkan sebagai tersangka dan mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat.

Bahkan dalam wawancara eksklusif dengan salah satu stasiun televisi, Anas menyebutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengetahui tentang aliran dana ini.

Bahkan dalam salah satu pertemuan di Cikeas yang dihadiri Majelis Tinggi, 2011 lalu, SBY sempat marah lantaran informasi ini. Anas menyebut Amir Syamsuddin, yang saat itu menjabat Sekretaris Majelis Tinggi, juga tahu tentang informasi ini.

Ibas sendiri telah membantah menerima uang Hambalang. Dalam siaran persnya, Rabu (27/2), dia mengatakan apa yang dikatakan Anas adalah lagu lama. “Saya katakan tudingan tersebut tidak benar dan tidak berdasar. Seribu persen saya yakin kalau saya tidak menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini,” kata Ibas.

Spekulasi soal keterlibatan Ibas dalam aliran dana Hambalang sudah lama menyeruak. Isu ini pertama kali muncul tahun 2011 ketika Nazaruddin, disidang oleh Dewan Kehormatan Partai Demokrat sebelum ia menjadi buron KPK. Dalam sidang itu, Nazaruddin mengatakan Ibas pernah menerima uang dari dirinya.

Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha meminta agar tuduhan itu dibuktikan. “Saya kira kita semua kembalikan pada fakta dan bukti yang ada. Proses hukum tidak berjalan serta merta, tapi berdasarkan bukti material yang ada,” kata Julian di Istana Presiden, Kamis (28/2).

Julian meminta agar tudingan kepada Ibas menerima dana dari Hambalang dibuktikan di pengadilan. Dia menilai, bicara di forum bebas hanya bisa menimbulkan fitnah. “Silakan buktikan di pengadilan. Saya kira itu cukup fair, daripada kita bicara panjang lebar di sini untuk suatu hal yang mungkin saja tidak jelas dasarnya, bisa fitnah juga dan tidak baik kalau kita biarkan hal yang tidak wajar itu kemudian berkembang sedemikian rupa,” katanya.

Menteri Perekonomian Hatta Rajasa tak rela menantunya, Ibas dituding menerima uang dari PT Anugrah Nusantara, milik bekas bendahara umum PD, Muhammad Nazaruddin. “Itu fitnah, tidak betul. jadi, menurut saya kita janganlah lontarkan sesuatu yang bisa jadi masalah. fitnah itu sangat kejam,” kata Hatta di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Kamis (28/2).

Hatta menilai masyarakat sangat cerdas dalam menyikapi tudingan kepada Ibas tersebut. “Saya kira masyarakat kita sudah cukup cerdas, segala sesuatu yang tidak berdasarkan bukti dan fakta, apalagi melontarkan seperti itu, bagi kita itu berbahaya. saya kira tidak baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menantang Anas untuk memberikan keterangan dugaan keterlibatan Ibas dalam kasus Hambalang. “Silakan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan,” kata Juru Bicara KPK, Johan Budi, Kamis (28/2).

Tapi, kata dia, keterangan Anas tentu tidak akan diterima begitu saja oleh penyidik. Sesuai prosedur, data atau informasi yang diterima penyidik akan divalidasi.

Menurut Johan Budi, Ibas disebut terlibat kasus Hambalang bukan baru-baru ini. Dulu, pria yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu juga pernah disebut terlibat skandal senilai Rp 2,5 triliun itu, tapi rumor itu hilang begitu saja.

Sementara itu, Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gajah Mada (Pukat UGM) Oce Madril mengatakan, jangan kaget jika nama Ibas disebut terlibat kasus Hambalang. Karena, korupsi biasa melibatkan pengurus inti partai politik.

Kasus Hambalang, tambahnya, skandal yang cukup luas. Melibatkan Kementrian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Keuangan, anggota DPR dan partai politik. Dalam partai politik, mereka yang berperan seperti Majelis Tinggi atau Dewan Pembina. “Pokoknya pengurus teraslah. Karena mereka yang bisa mempengaruhi proyek. Boleh jadi nanti Sekjen. Ini sebetulnya bukan suatu yang mengada-ada karena cocok dengan karakter korupsi,” katanya.

Sedangkan untuk menelusuri dugaan suap kepada Anas, KPK akan kembali memanggil Marketing Group Permai, Mindo Rosalina Manulang, terkait penyidikan pembangunan proyek Hambalang.

Dia dijadwalkan menjalani pemeriksaan sebagai saksi bagi mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, tersangka proses pelaksanaan dan perencanaan proyek Hambalang dan proyek-proyek lain semasa ia menjabat sebagai anggota DPR. (Okezone | Detik)

BAGIKAN