JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional DPR: Usut Kasus Penembakan di LP

DPR: Usut Kasus Penembakan di LP

346
BAGIKAN
Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA-Segenap anggota DPR meminta agar kasus penembakan brutal di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, diusut tuntas. Hal tersebut dipandang sebagai bukti adanya pelecehan terhadap hukum di Indonesia.

Ketua Komisi III Bidang Hukum DPR, Gede Pasek Swardika mengatakan pen

yerangan ini adalah peristiwa yang memalukan bagi penegakan hukum. “Untuk kesekian kalinya hukum tak berdaya menghadapi gerombolan bersenjata yang terlatih,” kata Pasek seperti dikutip Vivanews.co, Sabtu (23/3).

Atas peristiwa ini, Pasek menilai supremasi sipil sudah tidak berdaya lagi. Bahkan, menurut dia, uang rakyat yang digunakan membeli senjata untuk melindungi, malah menjadi bagian teror.

“Atas nama dendam, seakan kita diajak bersiap-siap memasuki era hukum rimba. Dan masyarakat sipil jadi korban,” kata politisi Demokrat ini.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Aziz Syamsuddin meminta aparat penegak hukum untuk membongkar motif pelaku penembakan yang menewaskan empat tahanan itu. “Aparat penegak hukum harus segera mengusut tuntas atas empat narapidana meninggal dunia karena ditembak di dalam Lapas,” kata Aziz.

Terpisah, anggota Komisi I DPR RI Tjahjo Kumolo meminta Polda DIY bersama instansi terkait untuk mengusut tuntas kasus penyerangan LP Cebongan Sleman oleh kelompok bersenjata hingga menyebabkan empat tahanan tewas. “Terkait peristiwa yang mengejutkan di Lapas Cebongan Sleman, setidaknya pihak Polda DIY bersama instansi terkait harus mengusut tuntas kasus tersebut, terlepas apa pun perkara ini sudah merusak wibawa dan tatanan yang ada,” katanya, Sabtu (23/3).

Dengan kejadian itu, kata Tjahjo yang juga Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, mengindikasikan semua lembaga pemasyarakatan di Indonesia rawan akan kejadian tersebut dan tahanan di dalam LP juga tidak menjanjikan sebuah perlindungan yang aman dari sebuah proses hukum. Pihaknya, meminta semua pihak introspeksi terkait dengan kejadian tersebut, terlepas kasus balas dendam. Akan tetapi, penyerangan itu sudah menunjukkan bahwa ada perlawanan terbuka–walau pakai topeng–terhadap Pemerintah atau kekuasaan, khususnya kekuasaan di bawah Kementerian Hukum dan HAM.

“Semua pihak harus terbuka dan harus siap dievaluasi. Pasti ada yang salah dalam sebuah sistem sehingga muncul hal-hal demikian,” kata anggota Komisi I (Bidang Pertahanan dan Intelijen) DPR RI itu.

Sementara itu, Kriminolog Erlangga Masdiana mengatakan insiden penembakan empat tersangka pembunuhan anggota Kopasuss Grup II Kopassus TNI-AD Kandang Menjangan Sertu Santosa tewas di Lembaga Pemasyarakatan, Cebongan, Kabupaten Sleman, ada kemungkinan untuk menghilangkan jejak konflik interpersonal dan antarkorps. “Insiden ini, ada kemungkinan upaya menghapus jejak atau jaringan kelompok tertentu, sehingga pelaku dan korban dibunuh, supaya motif dan jaringan besar tidak terbongkar,” kata Erlangga di Yogyakarta, Sabtu (23/3).

Ia menilai ada indikasi insiden tersebut juga dipengaruhi oleh spirit korps yang mendorong tindakan-tindakan kekerasan. Contoh nyata adanya spirit korps yakni kejadian di Sumatra Selatan. Selain itu, ia mengatakan, adanya konflik antarpersonal atau antarpelaku sehingga memicu kejadian tersebut. “Solusi dari kejadian ini, adanya transparansi penanganan kasus dari proses penyelidikan, supaya tidak terjadi kecurigaan antarkorps. Setelah diusut secara tuntas, dilakukan rekonsiliasi sampai tingkat bawah,” katanya.

Antara