DPRD : Sekda Ngawur !

DPRD : Sekda Ngawur !

502

Dikecam, Bela Minimarket 24 Jam

ilustrasi
ilustrasi

KARANGASEM-Gara-gara membela minimarket yang beroperasi 24 jam dengan membuka peluang revisi Perda-nya, Sekda Solo, Budi Suharto dikecam kalangan DPRD Solo.

Anggota Pansus tentang Toko Modern DPRD Solo, Reny Widyawati, menyebut sikap Sekda Budi sudah ngawur. Menurutnya, semestinya Sekda sadar, pembelaannya itu justru bertentangan dengan Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Penataan dan Pembinaan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Seperti diberitakan Joglosemar, Selasa (5/3), Sekda Budi, mengatakan, revisi Perda itu terbuka lebar. Perda yang di dalamnya berisi larangan minimarket buka 24 jam, sudah tak cocok disandingkan dengan kondisi Kota Solo yang dikenal sebagai kota tak pernah tidur.  ”Pembatasan aturan jam buka minimarket boleh saja dilakukan. Jika aturan tersebut tidak dapat mengakomodasi kepentingan publik dan tidak memberikan solusi,” ujarnya, Senin (4/3) lalu.

Namun, pembelaan dari Sekda itu menuai kecaman kalangan DPRD.  ”Itu jelas ngawur. Bayangkan saja satu minimarket itu berdiri maka 10 toko atau warung kecil di sekitarnya itu mati atau omzetnya turun,” kecam  anggota Pansus Perda Toko Modern, Reny Widyawati, Selasa (5/3).

Baca Juga :  Dana Hibah Keraton Kasunanan Surakarta Tertahan, Ini Sebabnya

Reny berujar, Perda itu untuk melindungi pasar tradisional.  Sehingga ada poin larangan buka 24 jam untuk minimarket. Perda itu, harusnya dipatuhi, tidak malah dilanggar. “Sekda harus berfikir ulang dan fokus di masalah-masalah yang lain. Karena, itu sudah jelas. Kami tolak jika Perda itu direvisi,” papar anggota Komisi IV itu.

Kritik senada disampaikan Anggota Komisi III,  Abdulllah AA. Ia juga menolak keras jika Perda yang berisi larangan minimarket buka 24 jam itu direvisi. Harusnya, lanjut dia, Sekda konsentrasi dan berpikir  menerapkan Perda itu. Terlebih, Perda itu muncul dari inisiatif Pemkot sendiri.

”Saya jelas menolak keras itu, yang pertama berinisiatif kan Pemkot, masak minta direvisi. Itu jelas ngawur sekali dan tidak bisa diterima. Apalagi Perda itu belum lama ada sejak 2011 lalu,” ujar politisi yang sebelumnya juga jadi pimpinan Pansus Perda Toko Modern itu.

Sikap lunak Sekda yang seolah membela minimarket buka 24 jam itu, kata Abdullah, akan mematikan pedagang-pedagang kecil. Ia menyimpulkan, sikap Sekda mendukung pedagang bermodal besar untuk menyingkirkan pedagang kecil.

Baca Juga :  Heroik, Upacara di Sungai Hingga di Atas tumpukan Sampah!

Ia berujar, saat ini usaha pedagang kecil banyak yang mati, karena kalah bersaing dengan toko modern yang buka di dekat usaha mereka. ”Sikap Sekda Itu jelas bertentangan dengan tujuan awal Perda dibuat. Dulu saat masa Jokowi, DPRD memberi warning agar tidak ada penambahan 23 izin pendirian pasar modern yang sudah masuk. Namun malah itu tidak diindahkan dan banyak berkembang,” kata dia.

Wakil Ketua DPRD Solo, Supriyanto, menyayangkan sikap Sekda. Karena, ia anggap bertentangan konsep ekonomi kerakyatan, dan kontraproduktif dengan usaha revitalisasi pasar tradisional yang sudah berjalan di kota Solo.

”Itu jelas jadi tidak bermakna dan tidak memberdayakan masyarakat kecil. Jadi jangan hanya memikirkan sebuah branding. Saya tidak setuju dan menolak revisi Perda itu,” jelas dia.

Adanya minimarket, katanya, sangat berpengaruh dengan pedagang kecil. Karena barang yang dijual itu hampir sama. ”Itu sudah dirasakan sejak lama oleh masyarakat. Harusnya Pemkot bertindak tegas dan ada pengendalian terhadap izin mendirikan toko modern. Serta melakukan pembinaan dan pemberdayaan pedagang kecil,” ucapnya. Ari Welianto

BAGIKAN