JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Galian C Akhirnya Ditutup, Pengelola Minta Maaf

Galian C Akhirnya Ditutup, Pengelola Minta Maaf

350
BAGIKAN
POLEMIK DAN UPETI- Keberadaan mesin back hoe di lokasi penambangan tanah urug di lahan milik warga Karangtalun, Tanon memicu polemik dan kontroversi salah satunya terkait setoran upeti ke pihak perangkat desa setempat.  Wardoyo
POLEMIK DAN UPETI- Keberadaan mesin back hoe di lokasi penambangan tanah urug di lahan milik warga Karangtalun, Tanon memicu polemik dan kontroversi salah satunya terkait setoran upeti ke pihak perangkat desa setempat. 

SRAGEN—Setelah mendapat sorotan dan kritikan tajam karena tidak berizin, sejumlah praktik penambangan galian C dengan alat berat backhoe di beberapa wilayah akhirnya ditutup. Selain mendapat respons positif, penghentian operasional itu juga diiringi permintaan maaf dari pengelola kepada masyarakat atau stake holder.

“Ya, kemarin setelah ada pertemuan lagi dengan pengelola dan Muspika, akhirnya penambangan di Karangtalun itu sudah ditutup. Semua sudah bisa memahami dan mudah-mudahan tidak ada masalah lagi,” ujar Danramil Tanon, Kapt Mu’ayat kepada Joglosemar, Kamis (14/3).

Kabid Pengairan Pertambangan Energi dan Mineral DPU Sragen, Ashari mengapresiasi positif penutupan itu mengingat selama ini pihaknya memang belum pernah menerbitkan izin untuk operasional penambangan galian C jenis apapun di Sragen. Pihaknya menyatakan izin operasional kemungkinan baru bisa diterbitkan setelah Perda tentang Pertambangan Minerba sebagai tindak lanjut UU No 4/2009 yang tahun ini dibuat di Sragen sudah disahkan.

Sementara, salah satu eks pengelola backhoe di galian Karangtalun, Tanon, Endro Wahyono menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah pihak, utamanya Kades Ketro. Permintaan maaf itu disampaikan lantaran sebelumnya sempat bersinggungan dan berbeda prinsip terkait keberadaan penambangan di Karangtalun yang memicu polemik.

“Saya minta maaf kalau mungkin kemarin ada perkataan yang tidak menyenangkan. Yang jelas kami hanya berniat meluruskan situasi dan keadilan saja. Kalau memang semua backhoe tidak berizin dan dilarang beroperasi, ya mestinya tidak boleh ada pengecualian,” tegasnya.

Seperti diberitakan, meski sudah dinyatakan tidak berizin dan diminta menutup operasional, sejumlah praktik penambangan galian C ternyata masih nekat beroperasi di berbagai wilayah. Mendapati hal itu, DPU pun kemudian mengambil langkah tegas dengan menginstruksikan semua camat di wilayah penambangan untuk menghentikan operasional backhoe yang ada.

Wardoyo