Gara-gara Pesta Petai

Gara-gara Pesta Petai

632

GARA2 PESTA PETEKegemaran masing-masing orang memang berlainan. Begitu juga dengan kegemaran pada makanan. Ada orang yang gemar durian, bahkan bisa satu mobil penuh durian hanya untuk memanjakan seleranya. Tetapi orang yang anti buah durian bisa blokekan seminggu penuh saat menghirup aroma durian.

Dul Kenthut juga memiliki makanan kegemaran, bagi sebagian orang bikin kipat-kipat. Sejak kecil, Dul Kenthut gemar petai. Mulai dari disayur, disambel, digoreng pasti disikatnya. Bahkan seluruh keluarga Dul Kenthut juga menggemarinya.

“Dul, nanti malam kita pesta pete. Kebetulan tadi dikirimi petai dari desa,” ajak Jim Belong, adik sepupunya yang tinggal serumah dengannya. Maklum, ayah dan ibu Dul Kenthut menempati rumah peninggalan kakeknya.

Walalah… uasyik tenan, rek!” seru Dul Kenthut girang.

Singkat cerita, malamnya pesta petai pun digelar. Petai dalam jumlah ora umum akehe digoreng dan dimakan dengan sambal. Lauknya sederhana tapi bikin nyamleng, ikan asin. Tidak heran kalau malam itu Dul Kenthut menghabiskan banyak petai.

Esok paginya, gara-gara petai pula ia mengalami kejadian yang ngisin-isini. Tak dinyana, pagi itu ia harus menggantikan temannya mengikuti seminar di hotel berbintang di Solo. Semula seminar berlangsung nyenengkeh.

Tapi saat ia buang air kecil, semuanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Begitu keluar dari kamar kecil, beberapa peserta seminar sudah mengantre di depan pintu. Dul Kenthut yang belum sadar akibat pesta petai semalam, sengaja berdiri di dekat kamar kecil sambil menyisir rambutnya.

Saat itu ia melihat setiap orang yang masuk ke kamar kecil, buru-buru keluar sambil mendengus-dengus, “Huh… mambu pete,” diiringi lirikan ke arah Dul Kenthut. Dul Kenthut jelas abang ireng, ia baru sadar kalau semalam baru pesta petai.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR