JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Globalisasi, Era Melek Budaya dan Bahasa

Globalisasi, Era Melek Budaya dan Bahasa

1361

Setiap manusia harus dibekali kompetensi dasar untuk menghadapi era globalisasi yang menuntut seseorang untuk berpikir kritis dan modern.

dok : livejournal
dok : livejournal

Laju kehidupan modern saat ini tak lepas dari pengaruh arus globalisasi yang membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan setiap individu. Mengutip istilah dalam buku Edison J Ramli, “Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman berbangsa dan bernegara.”

Dalam era yang seolah membuat dunia menjadi tanpa sekat dan tak terbatas oleh ruang dan waktu, era globalisasi sangat berkaitan dengan kompetisi dan kapabilitas seseorang untuk bertahan dalam hidup. Setiap individu dituntut untuk bisa menyesuaikan dan beradaptasi dengan lingkungan dan budaya Internasional yang semakin mengglobal.

Melihat perkembangan global yang begitu pesat tersebut, Muslich Hartadi Sutanto selaku Head of Cooperation & International Affairs Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berpendapat setiap individu harus siap dan waspada dalam menghadapi era globalisasi. “Merupakan ancaman besar ketika seseorang tidak siap menghadapi era yang dituntut serba modern dan global ini,” paparnya.

Lebih lanjut Muslich mengatakan, setiap manusia harus dibekali kompetensi dasar untuk menghadapi era globalisasi yang menuntut seseorang untuk berpikir kritis dan modern. Kompetensi dasar yang dimaksud yakni meliputi keilmuan dasar yang sesuai dengan standar internasional. “Yang paling penting adalah kemampuan berkomunikasi dan penguasaan bahasa. Bahkan PBB menargetkan untuk menguasai enam bahasa,” kata dia baru-baru ini.

Menurutnya, berbekal kemampuan komunikasi dan berbahasa yang baik, setiap orang dari berbagai negara dan budaya dapat saling berinteraksi dengan lancar dan mudah. Disamping itu, akan lebih baik ketika setiap orang diberi motivasi untuk mempelajari budaya sebagai langkah awal dan modal untuk menghadapi era global yang seakan membuat dunia menjadi tanpa jarak dan sekat. “Contohnya di kelas Internasional UMS, mahasiswa yang menimba ilmu di sini, termasuk mahasiswa asing diarahkan untuk bergaul dan diperkenalkan dengan budaya Indonesia”, tuturnya.

Dirinya menambahkan, era globalisasi diibaratkan seperti dua sisi mata uang, memiliki sisi negatif dan positif. “Mempelajari budaya dan bahasa asing memang perlu, namun identitas bangsa dan budaya harus ditanamkan kuat-kuat. Agar jati diri bangsa tidak melebur dan tergerus arus globalisasi,” pesan dia.

Penguasaan teknologi

Terlepas dari itu, Salaam Naureddin Aridin, mahasiswi Internasional UMS asal Jordania, mengatakan ada beberapa hal yang harus dimiliki untuk menghadapi tuntutan global agar dapat menjadi manusia yang tidak mudah dikalahkan. “Saat ini kita berada dalam era globalisasi, pentingnya penguasaan teknologi merupakan sesuatu yang tidak boleh terlewatkan,” tuturnya.

Selain penguasaan teknologi, bekal lain yang harus dimiliki agar selalu siap menghadapi setiap jenis perubahan adalah dengan memiliki wawasan yang luas. Menurut Salaam, pengetahuan dan penguasaan teknologi tidak cukup tanpa dilengkapi dengan pemahaman bahasa dan kebudayaan. “Budaya dan bahasa adalah hal yang tak terpisahkan, jadi untuk menghadapi era modern yang mengglobal harus menguasai keduanya,” ungkapnya kepada Tim Akademia.

Lebih lanjut ia mengatakan, semakin global sebuah masa, semakin kompleks pula bekal dan kompetensi yang sebaiknya dimiliki dan ditanamkan pada setiap manusia yang notabene adalah makhluk sosial yang berbudaya.  ” Hal penting lain untuk menghadapi era globalisasi adalah menumbuhkan sikap toleransi. Banyak orang lupa bahwa sikap toleransi antarbudaya, agama atau tradisi merupakan salah satu strategi agar kita dapat dengan mudah berbaur dan dihargai bangsa asing,” pungkasnya.   Tim UMS

BAGIKAN