Green Campus Tak Lagi Wacana

Green Campus Tak Lagi Wacana

713

 Tak hanya berupa gerakan mahasiswa, upaya penyelamatan lingkungan juga didukung oleh komunitas-komunitas pecinta lingkungan yang ada di Solo.

Gerakan Mahasiswa – Dua mahasiswi Aktivis Kompos memasang papan imbauan di salah satu sudut kampus Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (27/3).
Gerakan Mahasiswa – Dua mahasiswi Aktivis Kompos memasang papan imbauan di salah satu sudut kampus Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (27/3).

Global warming telah menjadi masalah publik yang menuntut penanganan bersama oleh semua warga bumi. Salah satu bentuk penanganan pemanasan global yang gencar digiatkan yakni program penghijauan. Aktivis pemerhati lingkungan, layaknya Greenpeace atau Earth Hour Community kerap menggalakkan aksi peduli lingkungan hidup. Tak hanya itu, konsep Green Campus ditawarkan sebagai salah satu solusi meminimalisasi global warming.

Semarak Program Green Campus ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Lingkungan Hidup. Bekerja sama dengan lima Perguruan Tinggi (PT) di Tanah Air,  Kementerian Lingkungan Hidup memulai langkah untuk mewujudkan lingkungan kampus yang sehat, nyaman dan ramah lingkungan. Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, menjadi salah satu PT di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup yang mencanangkan Program Green Campus. Program tersebut membentuk tim, di mana tim ini mengonsep standar dan isi dari program Green Campus.

“Untuk konsep Green Campus sendiri, kami mengacu pada berbagai sumber salah satunya adalah KTT Bumi di Rio de Jainero,” ungkap Prof Dr Ir Purwanto, MS, selaku Ketua Tim Program Green Campus UNS ketika ditemui Tim Akademia di kantornya, Selasa (26/3).

Tidak terbatas pada penghijauan dan konservasi lahan, Green Campus juga menekankan dalam penggunaan energi, green building serta pemberian sarana dan prasarana yang mendukung dalam penghijauan kampus.

Menurut Koordinator Earth Hour Solo, Budi Prajitno, syarat menjadi green campus harus memiliki beberapa komponen yang harus dipenuhi, seperti green planning dan desain, green community, green water, green place, green transportation, dan green building. Tentunya untuk mewujudkan syarat-syarat tersebut sambung Budi, UNS harus memiliki keseriusan dan konsistensi untuk menuju the real green campus.

Baca Juga :  70 Paskibra Jaten Karanganyar Digembleng 21 Hari

Menjawab tantangan tersebut, beberapa program telah diakui oleh Purwanto pernah diselenggarakan oleh UNS. Untuk program penghijauan sudah dilaksanakan secara berkelanjutan. “Saat ini UNS mulai membangun jalur-jalur khusus untuk pedestrian (pejalan kaki, red). Pun, pengoperasian bus kampus selalu ditingkatkan agar pengguna kendaraan pribadi di UNS dapat berkurang. Selain itu kami juga telah mengadopsi sebagian kriteria green building,” urai Purwanto.

 

Gerakan Mahasiswa

Program Green Campus ini juga mendapat dukungan dari gerakan mahasiswa. Salah satunya dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pencinta alam di UNS Solo, Kompos, yang memiliki beberapa aksi yang bergerak di ranah penyelamatan lingkungan. “ Pada tahun 2010, Kompos mengadakan kegiatan identifikasi tanaman di seluruh Fakultas Pertanian UNS, selanjutnya pada 2011 kami melakukan sosialisasi penghijauan untuk murid-murid SD di Kota Boyolali,” ujar Ketua Kompos, Muhammad Fikri ketika ditemui di sekretariat Kompos.

Koordinator Earth Hour Solo menuturkan, idealnya pelaksanaan green campus harus didukung oleh seluruh elemen kampus, termasuk mahasiswa dan para karyawan. “Tidak hanya area atau bangunan yang bernuansa hijau, melainkan pola hidup sehat non-polusi juga harus digalakkan. Seperti diadakan hari bebas kendaraan dan membudayakan buang sampah pada tempatnya,” jelas Budi.

Tak hanya berupa gerakan mahasiswa, upaya penyelamatan lingkungan juga didukung oleh komunitas-komunitas pecinta lingkungan yang ada di Solo. Salah satunya adalah Komunitas Earth Hour. Kegiatan utama dari Earth Hour adalah imbauan pada masyarakat untuk mematikan lampu selama satu jam pada pukul 20.30-21.30 WIB sebagai gerakan hemat listrik pada peringatan World Earth Hour Day.

Baca Juga :  Tim UMS yang Lolos Pimnas Naik 100 Persen

Selain gerakan “matikan lampu”, Earth Hour juga melakukan kegiatan lain yang juga berhubungan dengan gerakan sadar lingkungan. “Kita pernah melakukan tanam pohon di UNS, membuat barang bekas menjadi pot, dan juga melakukan kampanye sadar sampah di Car Free Day (CFD) yang diberi nama eling sampah,” tutur Budi.

Koordinator Earth Hour Solo tersebut menambahkan, salah satu kegiatan besar mereka yang lainnya adalah penukaran kantong plastik dengan tas kain sebagai langkah mengurangi penggunaan kantong plastik.

Pabrik Kompos

Upaya sadar lingkungan juga menjadi perhatian penuh oleh mahasiswa UNS. Fikri mengaku saat ini kampusnya sudah mulai berkembang dalam hal pencapaian standar Green Campus, namun perlu dilakukan upaya-upaya pengembangan program.

Menanggapi hal tersebut, Tim Green Campus memiliki beberapa perencanaan strategis kedepannya. “Nantinya pada masa penerimaan mahasiswa baru setiap lima orang diharapkan untuk membawa satu pohon kemudian ditanam di area kampus yang sudah disiapkan dan memberi nama sendiri pada pohon tersebut serta membuat pabrik kompos UNS yang akan ditempatkan di Fakultas Pertanian,” jelas Purwanto.

Selain itu, UNS juga mengadakan perlombaan efisiensi energi pada tiap fakultas pada bulan Juli dan Agustus mendatang.

Tim UNS

 

Kerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi UNS

Pemimpin Redaksi: Fatmadita Pangesti, Reporter: Ulfa Arieza, Munadhifah, Ilham F Maulana,  Fotografer: Maharani Kusuma Daruwati, Pembimbing: Sri Herwindya B. W., M.Si.

BAGIKAN