JOGLOSEMAR.CO Foto Harga Bawang Sudah Selangit, Pemerintah Baru Membahas

Harga Bawang Sudah Selangit, Pemerintah Baru Membahas

393
BAGIKAN
HARGA BAWANG NAIK-Penjual bawang tengah membersihkan barang dagangannya di Pasar Legi, Solo, Senin (25/2). Harga bawang mengalami kenaikan yang cukup tinggi, hingga saat ini mencapai 36.000 per kilogram. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
HARGA BAWANG NAIK-Penjual bawang tengah membersihkan barang dagangannya di Pasar Legi, Solo, Senin (25/2). Harga bawang mengalami kenaikan yang cukup tinggi, hingga saat ini mencapai 36.000 per kilogram. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

JAKARTA- Harga bawang makin hari makin naik. Di berbagai daerah harga bawang putih bergerak di angka Rp 55.000 hingga Rp 70.000 per kilogramnya. Harga yang sudah selangit dan mencekik konsumen serta pedagang ini, justru baru disikapi pemerintah.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa meminta dua menteri terkait yaitu Menteri Pertanian (Mentan) Suswono dan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan untuk duduk bersama menyelesaikan masalah ini. Mahalnya harga produk hortikultura belakangan ini seperti bawang putih dipicu karena regulasi Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian.

“Soal bawang saya minta Mentan dan Mendag untuk melakukan bilateral sesegera mungkin untuk memperbaiki Permentan dan Permendag terutama hal yang berkaitan dengan bawang putih juga dan tata niaganya diperhatikan agar suplainya cukup,” kata Hatta di Istana Negara, Rabu (13/3).

Menurut Hatta setidaknya ada beberapa fakta soal bawang putih, pertama kemampuan produksi bawang putih lokal hanya bisa memenuhi 5 persen kebutuhan dalam negeri atau 95 persen harus diimpor. Selain adanya penataan impor bawang putih melalui RIPH telah terjadi lonjakan harga yang mendongkrak tingkat inflasi di Februari 2013.

“Sangat tidak wajar kalau bawang mendorong inflasi sampai 0,17 persen hingga 0,21 persen dari 0,75 persen oleh karena itu ini harus kita atasi hari ini bilateral Mentan dan Mendag. Sebetulnya setelah itu akan disampaikan Menko Perekonomian dibahas. Intinya segera pasokan pasar segera dipenuhi,” katanya.

Hatta menegaskan, sudah sepatutnya jika kebutuhan bawang putih di dalam negeri tak bisa dipenuhi maka dibukanya produk impor sangat tepat. Apalagi secara iklim, produk bawang putih tak cocok di tanam di wilayah tropis.

“Presiden minta secepat masalah pangan diselesaikan,” jelas Hatta di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Rabu (13/3/2013).

Hatta memfokuskan pada dua komoditas yaitu bawang putih dan daging. Harga kedua komoditas tersebut saat ini sedang meroket di angka tertinggi bahkan untuk bawang putih menjadi penyumbang inflasi nomor wahid.

Yang tak kalah mengejutkan juga kenaikan bawang merah dan cabai. Pemerintah beranggapan ada perbedaan penyebab kenaikan komoditas bawang merah dan bawang putih. Walaupun ada anggapan penyebab naiknya harga bawang merah dan bawang putih sama-sama akibat pembatasan impor.

“Bawang merah kan sebenarnya kalau dilihat dari angka produksi sangat cukup dibandingkan kebutuhan kita. Hanya belakangan ini kita tidak mengalahkan cuaca kenyataannya memang cuaca dan harga bawang bervariasi dan cabe sebetulnya. Ada masa dia yang drop dan tinggi,” tutur Deputi II Bidang Pertanian dan Perdagangan Kementerian Koordinator Perekonomian, Diah Maulida di Jakarta, Rabu (13/3).

Khusus untuk bawang putih terdapat pengaturan pengurangan kuota dan keterlambatan dalam pemberian izin yang menyebabkan harga komoditi ini naik karena stok berkurang. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Kementerian Pertanian karena kementerian tersebut lebih tahu secara detail pasokan dan suplai bawang merah.

“Tetapi ini pertanian (Kementan) yang tahu persis kalau memang suplai seperti itu. Suplai itu tersedianya berapa dan mereka punya badan ketahanan pangan dan mereka yang tahu kebutuhan, produksi dan pelaksanan seperti apa. Dan mereka tahu kebutuhan per bulan,” katanya.

Ia menegaskan, ketika pasokan bawang merah lokal tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri secara keseluruhan, izin importasi harus segera dilakukan. Cara ini penting agar tidak terjadi lonjakan harga yang terus menerus terjadi.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Riau menyatakan mahalnya harga bawang di sejumlah pasar dalam negeri disebabkan terkontaminasi oleh hasil pertanian asing yang kemudian memonopoli harga.

“Satu hal yang harus dipahami, bahwa kebutuhan bawang di dalam negeri sangat besar mengingat produk pertanian satu ini telah menjadi bahan kebutuhan pokok yang wajib bagi masyarakat,” kata Direktur YLKI Riau, Sukardi Ali Zahar.

Namun, kata dia, kebutuhan yang begitu besar tidak diimbangi dengan lahan pertanian yang masih relatif sempit sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan secara utuh. Kondisi demikian, kata dia, kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang membuka peluang usaha di bidang impor khusus bahan kebutuhan pokok. “Maka, didatangkan bawang-bawang dari berbagai negara penghasil seperti Burma, Thailand hingga Malaysia dan lainnya,” kata dia.

Hal itu menurut dia dapat dilihat dari banyaknya bawang-bawang impor yang membanjiri sejumlah pasar tradisional yang ada di berbagai kabupaten dan kota. “Memang, di satu sisi masuknya bawang impor tersebut menguntungkan karena menurut hukum ekonominya, ketika pasokan berlimpah maka harga produk tersebut akan ikut melemah atau turun,” katanya. Detik | Antara