JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Ikut Ayah ke Sawah, Jaki Tewas Disambar Petir

Ikut Ayah ke Sawah, Jaki Tewas Disambar Petir

519
AKP Sagiyarta Kapolsek Slogohimo
AKP Sagiyarta
Kapolsek Slogohimo

Dewi Fortuna agaknya tidak berpihak pada Ahmad Jaki, bocah enam tahun yang masih duduk di bangku TK besar ini. Dalam usia yang masih kecil, ia harus menghadapi kenyataan bahwa hubungan kedua orangtuanya tak lagi harmonis. Mereka kini pisah ranjang dan tinggal berjauhan.

Widodo (27), sang ayah, tinggal bersama dirinya di Lingkungan Gemawang RT 2 RW VI, Bulusari, Slogohimo. Sedangkan sang ibu, tinggal di Kabupaten Purworejo. Praktis mereka hanya berdua saja di rumah.

Karena hanya tinggal berdua di rumah itulah, Sabtu (30/3) sore lalu mengharuskan ia juga mengikuti ayahnya ke sawah. Baru tiba di sawah sekitar pukul 15.00 WIB, hujan turun. Widodo pun meminta sang anak berteduh di bawah sebuah pohon jati.

Sekitar satu jam berteduh, sekitar pukul 16.00 WIB suara halilintar makin sering terdengar. Sementara Widodo masih mopok (menata tanggul sawah-red) di sawah. Tak lama kemudian, muncullah satu kilatan cahaya yang disusul suara menggelegar dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada saat itulah, Jaki tiba-tiba langsung kejang dan terkejut hingga terjatuh di atas tanah.

Begitu Widodo mendekati anaknya, ternyata kondisinya sungguh memilukan. Tubuh Jaki sudah kaku, dan di bagian dada dan punggung menghitam karena gosong. Ternyata, kilat telah menyambar tubuh Jaki.

“Menurut bapaknya, Jaki langsung ngececer (kaku sementara-red). Di bagian dada dan punggung menghitam karena gosong. Jaki lalu dibawa ke Rumah Sakit Amal Sehat namun tidak bisa diselamatkan lagi,” kata Camat Slogohimo, Budi Susilo melalui Kasi Trantib, Jarno, Minggu (31/3). Ia menambahkan, jenazah Jaki sudah dimakamkan kemarin.

Terpisah, Kapolres Wonogiri, AKBP Tanti Septiyani melalui Kapolsek Slogohimo, AKP Sagiyarta mengatakan pemeriksaan medis dan otopsi luar telah dilakukan bersama tim medis Puskesmas. “Yang gosong perut, punggung, dan dada. Berteduh di bawah pohon saat hujan itu berbahaya. Kami harap petani pulang saat hujan deras. Terlebih di masa akhir musim penghujan menuju awal kemarau, banyak halilintar,” terang dia.

Eko Sudarsono

BAGIKAN