JOGLOSEMAR.CO Foto Ironi Kehidupan Sang Duta Keraton

Ironi Kehidupan Sang Duta Keraton

542
BAGIKAN

Memprihatinkan, Akhirnya Mbah Jiwo Dibawa ke Moewardi

Mantan pesinden Keraton Kasunanan Surakarta Sudjirah atau sapaan akrabnya Mbah Jiwo yang kondisinya sakit-sakitan, akhirnya dievakuasi PMI menuju ke RSUD Dr Moewardi. PMI mengevakuasi Mbah Jiwo, setelah kisahnya diberitakan Joglosemar, Minggu (3/3).

DIEVAKUASI-Petugas PMI Kota Surakarta mengevakuasi mantan pesinden dan duta Keraton Kasunanan Surakarta, Mbah Jiwo (85) dari kediamannya di Wirengan, Baluarti, Pasar Kliwon, Senin (4/2). Mbah Jiwo dirujuk ke RS. Moewardi untuk mendapatkan perawatan atas penyakit yang dialaminya. Joglosemar/Yuhan Perdana
DIEVAKUASI-Petugas PMI Kota Surakarta mengevakuasi mantan pesinden dan duta Keraton Kasunanan Surakarta, Mbah Jiwo (85) dari kediamannya di Wirengan, Baluarti, Pasar Kliwon, Senin (4/2). Mbah Jiwo dirujuk ke RS. Moewardi untuk mendapatkan perawatan atas penyakit yang dialaminya. Joglosemar/Yuhan Perdana

Hari menjelang sore ketika sejumlah rombongan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Solo serta Komunitas Public Relation Solo mulai menelusuri jalan di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta. Dengan iring-iringan lima mobil, rombongan tersebut bermaksud mengunjungi Sujirah atau yang dikenal dengan Mbah Jiwo. Dia dulunya, merupakan sinden terkenal dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Ya, memang kabar sakitnya dan kondisi yang dialami Mbah Jiwo, kali pertama diberitakan Joglosemar, Minggu (3/3), dengan judul Ironi Kehidupan Sang Duta Keraton, Mbah Jiwo Pun Kini Telantar dan Sebatang Kara. Dari pemberitaan tersebut, kabar sakitnya Mbah Jiwo tersebar. Bahkan di kalangan komunitas pengguna Blackberry banyak yang memperbincangkan nasib Mbah Jiwo. Kabar tersebut rupanya direspons cepat oleh PMI dan Komunitas PR Solo, akhirnya Senin (4/3), mereka berbondong-bondong menuju kediaman Mbah Jiwo.

Sesampai di sebuah kampung Wirengan RT 2 RW IV, Baluwarti, Pasar Kliwon. Rombongan yang ditemani pegawai kelurahan beserta anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas), mulai menelusuri jalan menuju rumah Mbah Jiwo. Mereka datang dengan membawa obat-obatan dan peralatan kebersihan.

“Kabar kondisi Mbah Jiwo sudah di-posting di grup BBM Humas dan wartawan Solo. Dari situ kami mencoba bersinergi. Saya dari PMI Dompet Kemanusiaan Solo membawa dokter, obat-obatan dan ambulans, kemudian dari PR hotel ada yang membawa bantal baru, seprei, korden baru dan kasur. Ini bentuk sinergi. Jadi kita gotong-royong apa yang bisa dibantu bersama,” ujar Humas PMI, Sumartono Hadinoto, Senin (4/3).

Setibanya di rumah kecil nan reot di kampung itu, rombongan langsung bertemu dengan Mbah Jiwo yang saat itu terbaring lemas di tempat tidur. Sejurus kemudian tim segera bergegas untuk memeriksa kondisi Mbah Jiwo.  Sayang, kondisi Mbah Jiwo sudah memprihatinkan. Akhirnya setelah berembuk dengan warga, RT dan pegawai kelurahan, memutuskan untuk membawa Mbah Jiwo ke RSUD Dr Moewardi.

Dengan dibantu sejumlah warga dan anggota PMI Solo, tubuh Mbah Jiwo mulai dipindahkan dari kasur kusamnya ke tandu yang telah disiapkan. Dengan dikerumuni sejumlah warga sekitar, tubuh Mbah Jiwo akhirnya dibawa ke RSUD Dr Moewardi dengan menggunakan ambulans PMI Solo.

“Kebetulan dompet kemanusiaan PMI bekerja sama dengan RSUD Dr Moewardi. Jadi kita bawa ke sana. Untuk perawat kami akan siapkan volunter untuk ikut membantu merawat Mbah Jiwo,” ujarnya.

Sumartono menjelakan, kegiatan tersebut dilakukan karena baik PMI Solo maupun Komunitas Public Relation Solo mendengar masukan terkait kondisi pesinden keraton yang saat ini tergolek sakit akibat terjatuh tanpa ada yang menemani.  “Kami  merasa terpanggil untuk menengok, karena kami hanya melihat foto makanya kami berusaha untuk berkunjung, mengobati, serta membereskan rumahnya. Ternyata setelah kami sampai di sini kondisinya sudah tidak memungkinkan dan terpaksa kami bawa Mowardi (RS-red) untuk menjalani perawatan,” jelasnya .

Menurutnya, informasi mengenai kondisi Mbah Jiwo saat ini karena ada peran positif dari media. Menurutnya, dengan melihat informasi dari media mengenai kondisi Mbah Jiwo, pihaknya dapat bergerak cepat untuk menangani kondisi Mbah Jiwo lebih lanjut.

“Banyak hal positif yang kami petik dari kemajuan media saat ini, kami berharap kerja sama antara masyarakat dengan media semakin baik, karena di sekeliling kita masih banyak yang membutuhkan bantuan seperti Mbah Jiwo,” jelasnya.

Sebelum dibawa ke RSUD Dr Moewardi, Mbah Jiwo saat ditanya Joglosemar mengaku tulang belakangnya sakit. Ia pun tidak bisa bergerak dan harus tinggal di tempat tidurnya. “Punggungnya yang sakit, saya tidak bisa ke mana-mana. Duduk juga tidak bisa,” tuturnya dalam bahasa Jawa.

Sementara itu,  pihak keraton belum bisa dihubungi untuk dimintai keterangan. Seperti diketahui Mbah Jiwo merupakan bekas penari Bedhaya dan Sinden di Keraton. Ronald Seger Prabowo