JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Ironi Nasib Wayang Orang Di Kota Budaya

Ironi Nasib Wayang Orang Di Kota Budaya

448
BAGIKAN

Gedung Pentas Rusak, Pemain Kian Langka

KURANG PERHATIAN-Atap Gedung Wayang Orang yang rusak dan belum di benahi di Sriwedari Solo, kamis (28/2). Kurangnya perhatian dari pemkot dalam pemeliharaan gedung ini. Yoga Okta Setiawan
KURANG PERHATIAN-Atap Gedung Wayang Orang yang rusak dan belum di benahi di Sriwedari Solo, kamis (28/2). Kurangnya perhatian dari pemkot dalam pemeliharaan gedung ini. Yoga Okta Setiawan

Dari jauh gedung itu tampak besar. Namanya, Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari. Saban Sabtu malam, gedung itu ramai dengan pentas wayang orang Sriwedari. Penonton, kian hari kian bertambah, seiring dikenalnya Solo sebagai Kota Budaya.

Tapi, ada yang lain dengan gedung dan masalah di dalamnya. Saat melongok, kondisi GWO ternyata, memprihatinkan. Di beberapa bagian, gedung itu mengalami kerusakan. Bahkan, atap gedung itu nyaris ambrol.

Kerusakan terparah, tampak di atap sisi timur. Tapi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), tak bisa berbuat banyak. Kepala Disbudpar, Widdi Srihanto, mengaku tidak bermaksud mengindahkan kondisi gedung yang memprihatinkan itu. Alasannya klasik. Yakni, dana minim. ”Anggaran yang kita miliki itu sangat kecil. Hanya Rp 10 juta. Dana itu cukup buat apa?,” katanya, kepada Joglosemar, Selasa (5/3).

Solusinya, ia mengupayakan mencari dana lewat corporate social responsibility (CSR) dari beberapa bank yang ada di Solo. Hasilnya, sejumlah bank sudah bersedia memberikan bantuan untuk perbaikan GWO. Cara itu, sebenarnya, sudah ia lakukan beberapa waktu lalu. Hasilnya, sanggup untuk membanhi beberapa bagian GWO, seperti layar hingga toilet.

”Kami mengajukan CSR untuk perbaikan sekitar Rp 50 juta. Itu sesuai dengan kebutuhan untuk perbaikan. Seperti saat perbaikan pada 2012 lalu,” katanya. Selama ini Disbudpar hanya berupaya membenahi gedung, tak berani merombak desainnya. Karena, GWO rencananya akan didaftarkan sebagai benda cagar budaya (BCB). ”Kami tidak mungkin mengubah bentuk bangunan GWO itu,” katanya.

Tak hanya gedung yang memprihatinkan. Krisis pemain juga melanda Wayang Orang Sriwedari. Menurut Widdi, salah satu solusi untuk mengatasi krisis pemain itu, dengan tetap mempekerjakan pemain wayang orang yang sudah masuk usia pensiun. Regenerasi pemain wayang orang, katanya, mulai sulit, karena generasi muda enggan tertarik jadi pemain wayang orang.

Cara lainnya, dengan menggelar event wayang pelataran di koridor Jenderal Sudirman (Jensud). Menurutnya, krisis pemain yang tengah melanda kesenian Wayang Orang Sriwedari tidak boleh jadi halangan untuk menggelar wayang pelataran.  Satu pemain, katanya, bisa memerankan dua tokoh, sebagai solusi termudah untuk mengatasi krisis pemain itu.

“Memang sedang krisis pemain, tapi tidak masalah nanti bisa menggandeng instansi lain atau pun sanggar-sanggar tari yang ada di Solo,” katanya.

Pagelaran Wayang Pelataran sendiri, merupakan pagelaran Wayang Orang Sriwedari yang digelar di luar gedung. Event itu, pertama kali digelar pada tahun 2013 ini. Widdi mengatakan, Wayang Pelataran bertujuan untuk semakin mendekatkan budaya asli Solo kepada masyarakat.

Konsep yang bakal diusung, nantinya, antara penonton dan pemain wayang terjadi kontak langsung. ”Nanti tetap akan dibuatkan panggung, tetapi jarak antara panggung dengan penonton tidak terlalu jauh. Ini untuk semakin mendekatkan dengan masyarakat, dan semakin mengenalkan budaya Jawa,” tuturnya. Sebelumnya, Wayang Pelataran akan diadakan di Ngarsopuro. Tetapi kemudian diganti di koridor Jensud. Widdi beralasan, penggantian lokasi itu, karena Koridor Jensud sudah ditetapkan sebagai pusat kebudayaan di Solo. Ari Purnomo