JOGLOSEMAR.CO Foto ISAC: Densus Rampas Semua Hak Terduga Teroris

ISAC: Densus Rampas Semua Hak Terduga Teroris

585
BAGIKAN

Kabareskrim Tak Setuju Pembubaran Densus

Densus merampas berbagai hak para terduga teroris di antaranya hak untuk mendapatkan perawatan dokter, hak untuk beribadah, hak untuk makan, dan hak untuk kebebasan memilih pengacara.

Densus 88
Densus 88

SOLOThe Islamic Study and Action Center (ISAC) yang melakukan pendampingan terhadap keluarga pelaku tindak pidana terorisme menuding Densus 88 Antiteror banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ketua ISAC Solo, Muhammad Kurniawan mengatakan video pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Densus 88 di Poso hanya menjadi salah satu bukti kekerasan yang dilakukan pasukan elite polisi itu.

“Ada ratusan korban yang kita dampingi. Sebagian besar para korban yang ditangkap Densus mengalami pelanggaran HAM. Densus tidak profesional karena tidak melindungi HAM para tersangka. Densus tidak pandang bulu terhadap perlindungan HAM,” katanya seperti dikutip di Viva, Rabu (6/3).

Bahkan, Kurniawan menilai Densus merampas berbagai hak kebebasan yang seharusnya menjadi hak para terduga tindak pidana terorisme. Di antaranya hak untuk mendapatkan perawatan dokter, hak untuk beribadah, hak untuk makan, dan hak untuk kebebasan memilih pengacara. “Semua hak itu dipotong dan dirampas oleh Densus. Apalagi hak untuk kebebasan memilih pengacara, hampir tidak pernah bisa. Pengacara sudah disediakan oleh pihak polisi,” katanya.

Selain itu, ISAC juga menyatakan bahwa Densus 88 melakukan tindak diskriminasi dalam perlakuan penanganannya. Jika mereka berasal dari keluarga miskin, mereka sama sekali tidak mendapatkan perlindungan HAM dan hak berbicara. “Seperti kasus anaknya Ustaz Djibril di Jakarta. Dengan sokongan dana kuat, mereka menyewa banyak pengacara dan HAM-nya benar-benar dilindungi. Perlakuan berbeda dengan orang yang miskin dan tidak punya apa-apa,” tuturnya.

ISAC kembali mencontohkan  penyiksaan yang dilakukan oleh Densus 88 kepada dua sopir dari Abu Bakar Ba’asyir yang ditangkap di Jawa Barat. Dua sopir bernama Dodo dan Sartono ditangkap bersama Ustaz Abu. Waktu itu, kata Kurniawan, Sartono kepalanya ditendang ke aspal dengan sepatu kemudian diborgol dan dimasukkan di Barakuda kemudian dihajar. “Kemudian setelah dinyatakan tidak terlibat, dia diberi obat dengan kualitas tinggi untuk mengeringkan lukanya. Dalam waktu dua atau tiga hari, luka menjadi kering. Lalu dia diberi uang untuk pulang naik bus ke Solo,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Reskrim Mabes Polri, Komjen Sutarman menyatakan Densus 88 masih dibutuhkan sebagai institusi untuk melawan aksi terorisme. Sebab, Densus saat ini masih sangat efektif untuk memberantas terorisme.

Mengenai wacana untuk membubarkan Densus, kata Sutarman, memang ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan Densus dibubarkan. “Memang begini, ada orang-orang tertentu khususnya teroris yang menghendaki Densus dibubarkan,” katanya. Widi Purwanto