JOGLOSEMAR.CO Selonjor Sik Lha dalah Jam Dinding Bikin Pening

Jam Dinding Bikin Pening

460
BAGIKAN

JAM DINDING BIKIN PENINGSpanyol memang rajanya sepakbola sejagad raya. Mulai dari Timnas-nya sampai klub-klub sepakbola negeri matador itu benar-benar merajai panggung sepakbola beberapa tahun ini. Tidak heran kalau banyak bintang lapangan bola yang merumput di negeri itu. Penggemar timnas Spanyol maupun klub asal Spanyol bertebaran di seluruh muka bumi. Salah satunya adalah Dul Kenthut.

Meski baru sekitar lima tahun ini menggemari sepakbola, Dul Kenthut termasuk penggila bola yang luar biasa. Tidak jarang ia menghabiskan malam sampai dini hari hanya untuk menonton pertandingan sepakbola. Meski istrinya sering protes, ia cuek bebek.

“Pak, mbok nonton bolanya dikurangi, ta? Masa begadang tiap malam? Yang main jelas banyak uang dan tambah bugar, kamu yang nonton makin kuyu, Pak…,” tegur Yu Cebret, istrinya, suatu kali. Tapi Dul Kenthut hanya plenthas-plenthus tak peduli.

Beberapa bulan lalu, ada pertandingan terdahsyat di muka bumi. Apalagi kalau bukan El Clasico yang mempertemukan Barcelona versus Real Madrid. Sejak pagi, Dul Kenthut sudah ribut sendiri mempersiapkan acara nonton El Clasico. Ia bahkan membeli beberapa koran untuk mengetahui kupasan berita sebelum pertandingan. Yu Cebret hanya prengat-prengut anyel.

Aku mengko digugah ya, Bu,” kata Dul Kenthut saat jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Ia berniat tidur dulu supaya saat menonton tidak ngantuk.

Tangia dhewe!” sungut Yu Cebret sambil mbrukut kemulan. Dul Kenthut pun segera menyusul tidur.

Singkat cerita, beberapa jam kemudian Dul Kenthut terbangun. Dengan menahan mengantuk, ia melirik jam dinding. Masih pukul dua belas malam. Ia pun meneruskan tidurnya. Berkali-kali ia terbangun dan melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua belas malam. Mungkin karena mengantuk, ia tidak menyadari keanehan tersebut. Ia baru sadar saat terdengar suara tukang sayur di depan rumahnya. Mak jegagik, ia bergegas bangun. Sinar matahari semburat dari jendela. Ia melirik jam dinding, ternyata masih mbegegek di angka dua belas.

Ealah… jam-e mati, ta!” sungut Dul Kenthut sambil mecucu mangkel. Yu Cebret yang sudah sibuk menyapu hanya menahan geli kegirangan dalam hati.