Jenderal Sodorkan Nama Jokowi

Jenderal Sodorkan Nama Jokowi

524

Nama Joko Widodo mulai mendapat perhatian serius kalangan media massa Australia menjelang Pemilu 2014. Gubernur DKI Jakarta itu bahkan dipandang sebagai “Obama-nya Indonesia”.

Jokowi
Jokowi

JAKARTA—Pertemuan tujuh purnawirawan Jenderal TNI dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada, Rabu (13/3) kemarin, masih menyisakan misteri. Pasalnya, di hadapan SBY, para jenderal itu menyodorkan enam nama kandidat presiden.

Siapa saja mereka, Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan masih menyimpan rapat. Namun pengamat politik Dimas Oky Nugroho meyakini salah satu Capres yang dimaksud adalah Joko Widodo (Jokowi).

“Pertemuan ini sebagai upaya dialog, mencari konsensus setelah 2014. Apalagi SBY tidak punya calon,” jelas Dimas, Kamis (14/3).

Luhut sendiri merupakan petinggi di Golkar. Tapi bila menengok rekam jejaknya, Luhut dekat dengan Jokowi dan Mahfud MD. Luhut kerap mengundang Jokowi dan Mahfud dalam diskusi.

“Pertemuan ini juga sebagai upaya kekuatan Luhut dan jenderal TNI untuk ikut aktif dalam politik saat ini. Kelompok Luhut ini memiliki jaringan yang tentu tidak bisa diremehkan di kalangan militer dan sipil,” jelasnya.

Bila ditilik, pada 2014 mendatang hanya partai yang memiliki 20 persen suara yang bisa mengusung maju Capres. Meraba-raba ada tiga partai yang mungkin muncul, PDIP, Golkar, dan PD, serta partai-partai lain.

Baca Juga :  Kedok Bandar Pil Koplo Asal Sragen Ini Terbongkar Gara-gara Kecelakaan di Jalan Raya Sukowati

“PDIP mungkin sudah ada Mega, Golkar dengan Ical, dan PD yang belum ada calon,” tuturnya. Selain Jokowi dan Mahfud, kabarnya ada nama Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan. Jadi, masukan dari Luhut ini tentu bisa ditimbang SBY. “Logikanya memang untuk 2014 harus Capres yang merakyat dan memiliki kredibilitas di mata publik,” tuntasnya.

Luhut sendiri meski masih menyembunyikan identitas para kandidat, namun membocorkan kriterianya.  Pertama, enam kandidat tersebut tidak semuanya purnawirawan Jenderal TNI. Ada yang dari kalangan sipil, ada juga ketua umum Parpol.

Luhut pun meyakini sampai saat ini SBY belum memberikan dukungan ke Prabowo Subianto yang dipanggil ke Istana Senin lalu. “Nggak ada itu, nggak ada sama sekali. SBY tidak bicara dukung dia,” tegas Luhut.

Menurut Luhut, SBY akan memberikan dukungan kepada salah satu Capres enam bulan ke depan. SBY sedang menelaah enam nama yang diberikan tujuh purnawirawan Jenderal TNI pada pertemuan kemarin.

Sementara itu, nama Joko Widodo mulai mendapat perhatian serius kalangan media massa Australia menjelang Pemilu 2014. Gubernur DKI Jakarta itu bahkan dipandang sebagai “Obama-nya Indonesia”.

“Jakarta’s Governor Could Be Indonesia’s Obama,” demikian judul ulasan yang ditulis Greg Sheridan, editor luar negeri The Australian, surat kabar nasional terbesar di Negeri Kanguru itu. Bagi dia, siapapun yang menggantikan SBY merupakan hal yang krusial, tidak saja bagi Indonesia, namun juga bagi Australia.

Baca Juga :  SRITEX TUMBUH MENDUNIA : Satu Panggung untuk Keragaman Bangsa

“Jokowi. Ingatlah nama itu, yang akan diperhitungkan Australia,” tulis Sheridan dalam surat kabar The Australian edisi Kamis (14/3). Sheridan menganggap Jokowi sebagai figur yang patut disorot. “Jokowi tidak berasal dari militer, pegawai negeri, ulama terpandang, maupun dari koneksi dinasti (politik), yang merupakan pola paling umum untuk menuju puncak dalam perpolitikan Indonesia. Dia memulai usaha sendiri dengan menjalankan bisnis furnitur,” ungkap Sheridan, dikutip Vivanews.

Jokowi sendiri sudah berkali-kali menyatakan tidak bakal mencalonkan diri sebagai Calon Presiden 2014. Namun bagi media Australia itu, tingginya popularitas Jokowi berdasarkan sejumlah jajak pendapat di Indonesia, sangatlah menggugah. Bersama wakilnya, Basuki Purnama, dia dianggap pemimpin yang profesional, transparan, dan jauh dari korupsi dan nepotisme.

“Apa artinya dia bagi Australia? Kita belum tahu pandangan politik luar negerinya, namun dia memperjuangkan hal-hal yang baik. Jadi ingatlah nama Jokowi, mungkin menjadi nama yang berarti bagi Anda,” kata Sheridan menutup ulasannya.

Detik | Tri Hatmodjo

 

 

 

 

BAGIKAN