JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Junk Food Ancam Gizi Mahasiswa

Junk Food Ancam Gizi Mahasiswa

548
BAGIKAN

Padatnya, aktivitas yang dijalani mahasiswa secara tidak langsung juga akan berdampak pada pembentukan pola perilaku budaya makan yang mementingkan efisiensi waktu, dan makanan cepat saji merupakan salah satu alternatifnya.

ilustrasi
ilustrasi

Junk food mulai populer di era tahun 1950-an di mana industri sedang berkembang pesat sehingga memaksa para buruh bekerja 8 sampai 10 jam sehari. Untuk efisiensi waktu, maka mereka menciptakan suatu tren makanan yang dikenal dengan fast food berupa snack kentang goreng yang dijual di kedai-kedai. Dari fast food inilah kemudian beralih ke makanan yang lebih berat dan berlemak untuk asupan kalori yang lebih banyak, namun minim kandungan gizi sehingga tercipta istilah junk food, tapi tidak semua fast food dapat dikategorikan sebagai junk food.

Banyaknya waktu yang dipergunakan untuk kegiatan di luar rumah membuka peluang untuk menyediakan makanan komersial. Bagi pekerja atau bahkan mahasiswa, waktu istirahat untuk makan siang yang relatif pendek tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah untuk makan siang. Di samping itu, banyaknya orang yang harus bepergian dengan berbagai kepentingan juga menjadi peluang bagi produsen untuk menyediakan makanan yang padat gizi, termasuk fast food. Dengan demikian, fast food tidak dapat dipisahkan dengan gaya hidup  atau life style masyarakat

 Hasil pantauan Tim Akademia mendapati saat ini sudah banyak gerai atau kedai yang menyajikan makanan cepat saji di beberapa kawasan kampus, mulai produksi lokal bahkan hingga yang bertaraf internasional. Padatnya, aktivitas yang dijalani mahasiswa secara tidak langsung juga akan berdampak pada pembentukan pola perilaku budaya makan yang mementingkan efisiensi waktu, dan makanan cepat saji merupakan salah satu alternatifnya. Namun, yang harus lebih mendapatkan perhatian serius adalah ternyata “wabah“ junk food ini juga sudah menjadi gaya hidup sebagian besar mahasiswa.

Pernyataan ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa yang ada di kampus Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo). Beberapa mahasiswa memang masih belum dapat membedakan fast food dengan junk food namun sebagian dari mereka menyatakan sering mengonsumsi salah satunya. Andre, Mahasiswa asal Bali ini mengaku pernah mengalami pusing yang diakibatkan tekanan darahnya naik. Setelah melaui pemeriksaan ternyata penyebabnya adalah konsumsi makanan cepat saji ( fast food ) yang berlebihan.

“ Pertama kali datang ke Yogyakarta saya memang sering bahkan tiap hari mengonsumsi fast food, Mas. Sarapan pagi, makan siang dan makan malam pun tidak terlewatkan tanpa fast food. Harga nggak terlalu mahal, praktis, mudah didapat dan enak, yang selalu menjadi pertimbangan saya untuk tetap memilih makanan tersebut tanpa memikirkan efek yang akan berdampak di tubuh saya. Ternyata dalam waktu hampir 4 bulan, saya sudah terkena darah tinggi,” ujar salah satu Mahasiswa Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE YKPN) ini.

Pendapat yang sama diutarakan oleh Arie Ronal Setyawan. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unriyo ini mengaku jika setidaknya ia dapat mengonsumsi makanan fast food tujuh kali dalam seminggu. Adapun keinginan yang tidak bisa dibendung ini lantaran ia melihat sisi kepraktisan, mudah didapat dan rasanya selalu membuat ketagihan untuk memakannya. “Harga terjangkau sudah dapat makanan enak tentu menjadi salah satu pertimbangan saya, apalagi teman-teman yang lain kalau nongkrong selalu memilih jenis makanan yang cepat saji atau bisa dikata sudah menjadi tren, Mas,” ungkap Aris.

Bahaya fast food atau junk food sebenarnya sudah pernah dirasakan oleh Aris. Seperti halnya Andre, Aris juga pernah mengalami hipertensi atau darah tinggi, namun sekali lagi seolah sulit untuk berhenti mengkonsumsi junk food. “ Kesadaran akan bahaya selalu terlintas, Mas. Namun, semua kembali pada kesadaran masing-masing untuk pelan-pelan mengurangi komsumsi junk food dan kembali pada konsumsi makanan sehat dan menambah porsi olahraga, kan makanan sehat tidak harus mahal. Makanan murah juga banyak yang bergizi asalkan kita mau berusaha mencarinya,” tegasnya.

Menanggapi fenomena ini, Dosen Program Studi Ilmu Gizi, Unriyo, Devillya menjelaskan jika fast food sering dijadikan kambing hitam penyebab penyakit jantung, hipertensi, penyumbatan pembuluh darah, dan sebagainya. Perlu diingat bahwa fast food adalah juga makanan bergizi tinggi. Yang menyebabkan fast food dianggap negatif adalah karena ketidakseimbangannya. ”Macam-macam makanan yang termasuk menu fast food yaitu seperti fried chicken, hamburger, pizza, hot dog, mi instan, dan lain-lain. Selain itu, fast food merupakan makanan yang dapat diterima setiap orang, disamping penyajiannya cepat dan praktis, harga dan tempatnya juga terjangkau,” jelasnya.

Sehingga orang-orang yang sibuk dapat membeli dan menikmati fast food dengan mudah. Selain itu kebanyakan mahasiswa yang tinggal di kos-kosan mengonsumsi mi instan, mereka lebih suka mengonsumsi mi tersebut daripada harus membeli makanan di luar kos karena dapat menghemat pengeluaran dan lebih praktis, imbuh Devillya.

Dia menambahkan junk food yang kaya kalori dan rendah gizi ini biasa dimakan sebagai snack. Karena kandungan kalori yang tinggi, maka sering anak-anak yang baru makan  menjadi enggan makan karena merasa masih kenyang. Dalam hal ini, perlu disadari bahwa berapa bungkus pun yang dimakan tidak bisa menggantikan makanan lengkap yang tersaji di meja makan keluarga.

Kecenderungan remaja mengonsumsi fast food belakang ini semakin meningkat seiring meningkatnya dan makin ramainya outlet-outlet yang menyediakan makanan fast food. Terdapat kecenderungan bahwa konsumsi fast food telah menjadi makanan utama tanpa divariasikan dengan makanan lain, sehingga dikhawatirkan kebiasaan ini mengganggu kesehatan.  Tim Unriyo