JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Pendidikan Karnaval Peringati Hari Dolanan Bocah

Karnaval Peringati Hari Dolanan Bocah

676
BAGIKAN

Lupakan Play Station, Mari Bermain Gangsing dan Bakiak

KARNAVAL BUDAYA--Sejumlah siswa TK dan SD Lazuardi Kamila mengikuti karnaval budaya dalam rangka pembukaan Pesta Budaya Lazuardi Kamila di Kawasan Monumen 45 Banjarsari, Solo, Jumat (8/3). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
KARNAVAL BUDAYA–Sejumlah siswa TK dan SD Lazuardi Kamila mengikuti karnaval budaya dalam rangka pembukaan Pesta Budaya Lazuardi Kamila di Kawasan Monumen 45 Banjarsari, Solo, Jumat (8/3). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

Ratusan siswa TK dan SD memeriahkan Karnaval Dolanan Bocah dalam rangka pembukaan acara Pesta Budaya keempat Lazuardi Kamila Global Islamic School yang diselenggarakan pada tanggal 8-9 Maret 2013 di TK Lazuardi Kamila. Dalam karnaval yang dimulai pukul 08.00 WIB itu, arak-arakan karnaval berjalan dari halaman sekolah Lazuardi Kamila menuju Taman Banjarsari dengan memakai pakaian yang unik.

Ada yang berdandan ala Punakawan dan mengenakan pakaian tradisional. Acara tersebut juga dimeriahkan oleh pedalang Ki Slamet Gundhono. Pada karnaval itu, salah satu tokoh seni Indonesia itu mengajak anak-anak untuk memainkan setiap mainan tradisional yang dipegangnya. Permainan itu berupa gangsing, bakiak, otok-otok, orok-orok, peluit, seruling, kincir angin, dan masih banyak lagi.

Muhammad Nasir, Ketua panitia Lazkam keempat mengungkapkan bahwa pesta budaya ini dibuka dengan karnaval dolanan anak untuk mengembalikan eksistensi permainan tradisional yang sekarang mulai terpinggirkan oleh permainan yang berbau teknologi. “Dalam dolanan bocah sebenarnya terkandung nilai sosial budaya yang bisa menanamkan rasa cinta tanah air pada anak-anak, agar anak-anak tak terbelenggu budaya asing,” kata Nasir, Kepala Sekolah yang berdandan ala Petruk saat dijumpai Joglosemar, Jumat (8/3).

Dalam acara yang melibatkan sekitar 300 anak play group, TK dan SD serta diikuti pula oleh para guru dan wali murid ini sengaja mengangkat tema budaya. Karena panitia ingin agar di Solo pada khusunya dan di Indonesia pada umumnya diadakan Hari Dolanan Bocah. “Tahun depan kami akan mengajak sekolah-sekolah lain berpartisipasi hingga jumlahnya ribuan. Sehingga bisa diagendakan satu hari untuk Hari Dolanan Bocah ini,” imbuhnya.

Ki Slamet Bundoyo yang sedang sibuk mengawal anak karnaval meski dari bak mobil mengungkapkan bahwa dolanan bocah ini sebetulnya tak hanya cocok untuk permainan anak bahkan masih sangat pantas dimainkan oleh orang dewasa. “Ayo ditiup pluitnya, sulingnya, diputer otok-otoknya,” pintanya pada peserta karnaval, dalam acara ini seniman yang bisa masuk ke semua kalangan ini, akan menunjukkan kebolehanya dalam mendalang.

Dalam karnaval ini setiap kelas didampingi seorang guru. Nia Kurniawati guru kelas IV SD Lazuardi Kamila yang sedang asyik mendampingi murid-muridnya mengungkapkan bahwa kegiatan dolanan Jawa ini tujunya mengenalkan permainan jawa pada anak-anak. “Agar anak mengenal permainan tradisional tidak Cuma kenal dengan permainan modern seperti Play Stasion,” katanya.

Sementara itu, salah satu siswa TK yang ikut karnaval, Viona mengaku senang dengan acara ini. “Ini gampang maininya, tinggal tiup udah bisa bunyi,” kata gadis berusia lima tahun itu dengan seruling yang tak lepas dari tangan dan mulutnya. Selain karnaval dalam acara ini juga digelar lomba mewarnai, dongeng, puisi, story telling. Juga ada basar, pameran hasil karya dan bakti sosial untuk umun. Ahmad Yasin Abdullah