JOGLOSEMAR.CO Daerah Wonogiri Kemarau, 9.734 Hektare Sawah Mati Suri

Kemarau, 9.734 Hektare Sawah Mati Suri

302
BAGIKAN

“Dari jumlah itu memang ada yang sampai dua kali panen, tapi tidak banyak.”

Sutardi

Kabid Tanaman Pangan

Ilustrasi
Ilustrasi

WONOGIRI-Sekitar 9.734 hektare sawah mengalami mati suri setiap kemarau. Jumlah itu, 5.449 hektare berupa sawah tadah hujan dan 4.285 hektare merupakan sawah yang hanya bisa sekali panen meski dialiri air irigasi.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Guruh Santoso melalui Kabid Tanaman Pangan, Sutardi mengatakan luas total area persawahan secara umum di Wonogiri ada 32.347 hektare. Dan setiap kemarau, sekitar 9.734 hektare mati suri karena minim air.

“Dari jumlah itu memang ada yang sampai dua kali panen, tapi tidak banyak. Untuk mengira berapa hasil panen jika saja ada air di sana tiap kemarau jelas sulit, karena kondisi tanah berlainan. Untuk sawah tadah hujan ada di 18 dari 25 kecamatan. Untuk sawah pasang surut ada di enam kecamatan. Semua satu kali panen,” jelas Sutardi, Kamis (28/3).

Guruh menambahkan sawah tadah hujan seluas itu sudah tidak dapat dikembangkan lagi menjadi sawah irigasi. Letak area sawah seluas 5.449 itu berada dua wilayah tanpa sumber air.

“Semua sawah tadah hujan itu tidak ada sumber air di atasnya, jadi memang tidak akan bisa dibuatkan irigasi. Pola tanam padi sekali lalu palawija dua kali. Meskipun dibuatkan embung, air yang tertampung tidak akan mencukupi untuk satu tahun tanam,” jelasnya.

Di sisi lain, ada 1.508 hektare sawah berada di area pasang surut dan cenderung terus bertambah setiap tahun. Hal itu karena sedimentasi di perairan waduk juga terus bertambah. Meski air surut, petani biasanya mengikuti ke tengah di mana ada air yang cukup untuk pengairan. “Sedimentasi makin banyak, jadi lahan dadakan juga bertambah. Untuk sawah irigasi yang satu kali panen tadi bisa terjadi karena meski saat kemarau air masih ada, tapi tidak mampu untuk mengairi dalam area yang luas,” jelasnya.

Sedangkan Kepala Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (PESDM), Arso Utoro tetap menyayangkan waduk yang berubah menjadi lahan pertanian saat kemarau.

“Seharusnya tidak boleh, hanya membuat sedimentasi cepat bertumpuk. Kalau sudah begitu volume pengisian saat hujan turun berkurang banyak. Yang harusnya bisa menampung lebih banyak, tapi air cepat dibuang begitu waduk penuh. Padahal cepat penuh karena banyak tumpukan sedimen, bukan karena terisi air,” terang dia.

Eko Sudarsono