Kenali dan Cegah Meningitis

Kenali dan Cegah Meningitis

723
ilustrasi
ilustrasi

Bagi yang pernah berangkat ke tanah Suci baik untuk beribadah haji maupun melakukan umroh, pasti sudah pernah mendengar mengenai meningitis. Sebab, mereka yang akan melakukan perjalanan ke tanah suci oleh pemerintah diwajibkan untuk mendapatkan vaksin meningitis. Tetapi, sebenarnya apakah meningitis itu, dan seberapa bahaya penyakit ini?

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, Dr. Ani Rusnani Fibriani, SpS, menjelaskan, meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges. Meninges adalah membran atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. “Meningitis adalah peradangan yang menyerang selaput otaknya. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa hal,” katanya.

Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang masuk ke dalam darah dan berpindah ke dalam cairan otak. Pasien yang diduga mengalami Meningitis harus diperiksa secara detail. “Pemeriksanaan secara akurat diperlukan untuk spesifikasi pengobatannya. Karena Meningitis yang disebabkan virus dan meningitis yang disebabkan bakteri memerlukan jenis terapi yang berbeda,” paparnya.

Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya. Meningitis karena virus akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun Meningitis yang disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan imun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS.

Meningitis, sesuai penyebabnya ada beberapa jenis, di antaranya  Meningitis Tuberkulosa. Meningitis Tuberkulosa ini disebabkan oleh kuman mikobakterium tuberkulosa yang biasanya menyebabkan infeksi paru-paru. Penyakit ini dapat terjadi pada segala umur, tetapi jarang terjadi pada anak di bawah umur enam bulan. Penyakit ini paling sering menyerang anak usia antara enam bulan hingga 5 tahun. “Pada anak, Meningitis Tuberkulosa biasanya merupakan komplikasi infeksi primer dengan atau tanpa penyebaran milier,” jelasnya.

Ani menerangkan gejala penyakit ini timbul secara perlahan. Gejala awal penyakit ini adalah panas yang tidak terlalu tinggi, nyeri kepala dan nyeri kuduk. Di samping itu juga terdapat rasa lemah, berat badan yang menurun, nyeri otot, nyeri punggung, mungkin dijumpai kelainan jiwa seperti halusinasi. “Pada pemeriksaan akan dijumpai tanda-tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk, tanda kernig dan tanda brudzinsky,” paparnya.

Ani mengungkapkan, meningitis yang umumnya diderita masyarakat di Indonesia  dan negara-negara berkembang lainnya adalah Meningitis Purulenta. Meningitis jenis ini masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang. Meningitis Purulenta adalah infeksi akut selaput otak yang disebabkan oleh bakteri dan menimbulkan reaksi purulen pada cairan otak. “Di samping angka kematian yang masih tinggi, banyak penderita yang menjadi cacat akibat keterlambatan diagnosis dan pengobatannya,” ujarnya.

Penyebab Meningitis Purulenta ini ada bermacam-macam, yakni karena bakteri, virus, riketsia, jamur, cacing dank arena protozoa. Setiap organisme yang masuk ke dalam tubuh mempunyai kesempatan untuk menimbulkan meningitis. “Terdapat bakteri-bakteri tertentu yang mempunyai kecenderungan menyebabkan meningitis pada usia-usia tertentu,” jelasnya.

Pada stadium awal satu-satunya kelainan yang dapat dilihat adalah bendungan pembuluh-pembuluh darah pada piameter serta pembesaran pleksus koroideus. Sebagian besar pembuluh-pembuluh darah  melebar, di dalam beberapa di antaranya terbentuk thrombus, sedang yang lain pecah. “Kuman dapat ditemukan di dalam dan di luar leukosit,” terang dia.

Dijelaskannya, kuman-kuman tersebut bisa mencapai selaput otak dan ruang subaraknoidea karena beberapa sebab, misalnya luka terbuka di kepala. Selain itu penyebab lainnya seperti penyebaran langsung dari proses infeksi di telinga tengah dan sinus paranasalis, karena pembuluh darah pada keadaan sepsis. Bisa juga karena penyebaran dari abses ekstradural, abses subdural, dan abses otak. “Kondisi masuk kuman juga mungkin melalui penyebaran radang paru dan penyebaran infeksi kulit,” paparnya.

Gejala awal Meningitis Purulenta adalah  panas, menggigil, nyeri kepala yang terus menerus, mual dan mutah. Di samping itu nafsu makan juga hilang, terjadi nyeri pada punggung serta sendi. Setelah 12 jam hingga 24 jam, timbul nyeri kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak. “Bila terjadi koma yang dalam, tanda-tanda rangsangan selaput otak akan menghilang,” jelasnya.

Biasanya penderita Meningitis Purulenta ini juga takut akan cahaya dan amat peka terhadap rangsangan. Terkadang juga terjadi kejang tetapi jarang dijumpai pada orang dewasa. Penderita sering gelisah, mudah terangsang, dan menunjukkan mental seperti bingung, hiperaktif dan halusinasi. “Akhirnya pada keadaan yang berat bisa terjadi herniasi otak sehingga terjadi dilatasi pupil dan koma,” terang dia. Tri Sulistiyani

BAGIKAN