JOGLOSEMAR.CO Foto Kepala Puskesmas Tewas Membusuk di Rumah Dinas

Kepala Puskesmas Tewas Membusuk di Rumah Dinas

376

Diduga Overdosis Obat Penenang Setelah Dicerai Istri

 Stres, rupanya tak memandang status sosial. Bahkan, seorang dokter yang juga Kepala Puskesmas II Purwantoro Wonogiri, Eko Susanto DE, menjadi stres setelah diceraikan istrinya. Ia pun akhirnya ditemukan tewas, diduga akibat overdosis obat penenang.

ilustrasi
ilustrasi

Dwi Purwanto, petugas kebersihan di Puskesmas II Purwantoro, Wonogiri, tak berpikir macam-macam ketika dokter Eko Susanto Daya Endra (46), tak keluar seharian pada Senin (18/3) kemarin. Eko Susanto yang juga Kepala Puskesmas itu, akhir-akhir ini memang sering menyendiri di dalam rumah dinasnya. Bahkan saat stresnya kambuh, Dwi maupun orang-orang di sekitarnya sering mendengar Eko berbicara sendiri di dalam rumah.

Hal itu terjadi, tak lama setelah Eko diceraikan istrinya, beberapa waktu lalu. Apalagi sejak sang istri menikah lagi dengan laki-laki lain, Eko terlihat semakin depresi.

Namun kecurigaan Dwi yang berstatus tenaga Wiyata Bakti itu mulai timbul, saat ia tak juga melihat Eko pada Selasa (19/3) pukul 07.00 WIB. Hal itu pun ia sampaikan kepada Tri Murwanto, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Puskesmas setempat. Setelah berembuk, mereka sepakat menyambangi Eko di rumah dinas (Rumdin)-nya yang berada satu lingkungan dengan Puskesmas.

Saat memasuki Rumdin, Tri dan Dwi mencium bau busuk yang mencurigakan. Akhirnya, Tri diikuti Dwi memberanikan diri memasuki kamar korban. Saat itulah keduanya melihat Eko sudah dalam kondisi tewas tertelungkup di lantai kamar.

“Awalnya Dwi curiga kok sejak Senin korban tidak kelihatan keluar rumah. Tapi tidak keluarnya korban di hari pertama dianggap biasa, karena korban kalau sedang kambuh stresnya biasanya bicara sendiri di dalam rumah dinas dan kadang juga teriak. Baru tadi pagi (kemarin-red), Dwi mendapati korban tidak juga nampak,” kata Kapolres Wonogiri, AKBP Tanti Septiyani melalui Kapolsek Purwantoro AKP Made Ngurah Mastika.

Made mengatakan tidak ada tanda penganiayaan dalam tubuh korban. “Hanya saja bagian dada sampai di atas perut sudah biru lebam. Sudah agak membusuk. Dan dari hidung, telinga, dan mulut korban keluar darah. Bisa mengarah ke bunuh diri, tapi kami tidak menemukan bekas bungkus atau alat apapun. Dari keterangan lain setelah diperiksa, bisa juga karena serangan jantung,” lanjut dia.

Setelah melalui pemeriksaan, tewasnya korban kemungkinan ke arah overdosis obat juga bisa terjadi. Dengan kata lain, korban juga bisa saja diduga bunuh diri.

“Saat masih bersama istrinya, korban tinggal di Bulurejo, Bulukerto. Dia asli Tuban, Jawa Timur. Tadi jenazah langsung dipulangkan ke Tuban. Mantan istri korban tadi juga datang dengan suami barunya. Sehari-hari kalau ada undangan kegiatan yang datang dokter puskesmas, sejak stres korban tidak pernah ke luar Puskesmas,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten, Widodo mengatakan sejak dicerai oleh istrinya, kondisi mental korban memang berubah. “Berpisahnya sudah lama, pastinya saya tidak tahu. Tapi setelah dicerai oleh istri dia memang berbeda dalam tingkah lakunya. Sehari-hari memang banyak sendirinya di rumah dinas,” jelas Widodo.

Ia mengatakan, dari mulut korban juga keluar busa. Tapi ia tak berani memastikan apakah korban overdosis obat atau tidak, karena pihak keluarga menolak adanya otopsi.  (*) Eko Sudarsono

BAGIKAN