JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Keraton Copot Paksa Label BCB

Keraton Copot Paksa Label BCB

364
BAGIKAN

PASAR KLIWON-Pihak Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mencopot paksa lebel Benda Cagar Budaya (BCB) di Gapura Gladag yang dipasang Pemkot Solo.

Pencopotan paksa label BCB itu, sebagai bentuk kekesalan dan penolakan keraton atas cara labelisasi cagar budaya Gapura Gladag. Karena, dianggap merusak estetika bangunan.

Pengageng Pariwisata dan Museum Keraton Surakarta, KRMH Satriyo Hadinagoro, mengklaim, keraton ingin mengembalikan Gapura Gladag seperti sedia kala. Upaya itu, juga dibarengi dengan pembenahan gapura tersebut.

“Label itu memang sengaja dicopot. Pemasangan itu jelas merusak estetika kawasan cagar budaya. Masak gapura dikrowaki, terus ditempel label,” katanya, Selasa (26/3).

Satriyo lantas menjelaskan, sesuai UU 11/2010 tentang Cagar Budaya, termaktub bahwa, kawasan keraton merupakan kawasan cagar budaya. Jadi, Gapura Gladag juga bagian dari Keraton Surakarta.

”Tidak boleh dipisahkan antara kawasan keraton dan Gapura Gladag. Artinya jangan dianggap kalau Gapura Gladag itu bukan kawasan keraton. Itu satu kesatuan dalam kawasan cagar budaya,” ujarnya.

“Anehnya, labelisasi di gapura sama yang di Masjid Agung beda. Kalau yang masjid dari perunggu, kalau yang di gapura seperti bahan dari baku untuk kijing,” katanya lagi.

Usai pencopotan label BCB itu, pihaknya minta Pemkot untuk mengevaluasi proses labelisasi BCB. Keraton tidak keberatan dengan lebelisasi BCB, asalkan caranya tidak merusak bangunan cagar budaya yang dilabeli.

”Semangatnya bukan dicopot atau tidak. Gapura Gladag itu muka depan kawasan keraton. Tolong dipahami. Setelah dicopot, ya terserah Pemkot akan dipasang di mana,” papar Satriyo.

”Kalau kami, maunya ada papan besar di depan gapura yang bertuliskan pengunjung memasuki kawasan Keraton Surakarta. Jangan menggunakan label lagi yang pemasangannya dengan cara digrowongi gapuranya,” lanjut dia.

Label BCB berukuran 40 x 40 cm persegi dan tebal tiga sentimeter itu, kini dibawa pihak keraton. Satriyo berujar, Pemkot bisa mengambil label yang sudah dicopot dari Gapura Gladag itu.

“Tempat pemasangan label itu, dulu bekas prasasti bertuliskan huruf Jawa. sampai saat ini kami masih menelusuri keberadaan prasasti itu. Saya yakin prasasti itu terpasang saat pembangunan pertama kali gapura itu,” paparnya.

Adapun Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo, Ahyani, kepada Joglosemar, bersikeras tidak ada kesalahan dengan cara pemasangan label BCB. Menurutnya, semua pemasangan label BCB di seluruh dunia menggunakan sistem penempelan di BCB.

”Saya kira tidak ada yang salah. Kami juga sudah konsultasi dengan Tim BCB. Kalau keraton mempermasalahkan atau ingin dicopot, ya biarkan saja,” ujar Ahyani. Ronald Seger Prabowo