JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Kolam Tirtomoyo Batal Jadi Hotel

Kolam Tirtomoyo Batal Jadi Hotel

713
BAGIKAN
STATUS TIRTOMOYO-Warga melintas di kawasan kolam renang Tirtomoyo, Jebres, Jumat (15/3). Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus berpikir ulang untuk merombak kawasan tersebut menjadi perhotelan dikarena masukan masukan sejumlah tokoh masyarakat yang menyebut kawasan tersebut sebagai cagar Budaya. Joglosemar/Yuhan Perdana
STATUS TIRTOMOYO-Warga melintas di kawasan kolam renang Tirtomoyo, Jebres, Jumat (15/3). Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus berpikir ulang untuk merombak kawasan tersebut menjadi perhotelan dikarena masukan masukan sejumlah tokoh masyarakat yang menyebut kawasan tersebut sebagai cagar Budaya. Joglosemar/Yuhan Perdana

LAWEYAN- Rencana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang akan membangun hotel di kawasan kolam renang Tirtomoyo, Jebres, batal. Pasalnya, dari masukan para tokoh warga Solo, kawasan itu dianggap sebagai kawasan cagar budaya.

Sebelumnya, wacana pembangunan hotel di kawasan kolam renang itu mencuat, untuk menutup kerugian PDAM sebagai pengelola kolam renang tersebut. PDAM mengaku sudah mesubsidi Rp 800 juta untuk operasional kolam renang itu, namun masih merugi.

”Kita belum bisa pastikan rencana itu (pendirian hotel). Karena ada banyak masukan dari tokoh masyarakat yang menyebut kawasan itu sebagai cagar budaya,” kata Direktur Utama (Dirut) PDAM Singgih Tri Wibowo, kepada Joglosemar, Jumat (15/3).

Kendati demikian, Singgih tak tahu pasti status kawasan itu. Namun, karena masukan dari tokoh bermunculan, pihaknya berpikir ulang dengan rencana pendirian hotel. ”Kalau kolam renangnya dibangun sekitar 1930-an. Dulunya sebagai fasilitas publik dan pengolahan limbah kota,” kata Singgih.

“Tetapi sejak 1970-an pengolahan limbah dihentikan. Karena mulai 1980-an, kolam renang sudah menggunakan sistem penjernihan,” katanya lagi.  Singgih menjelaskan, awal munculnya ide pengubahan kolam renang menjadi hotel, karena kolam renang itu terus merugi.

Padahal, sebagai perusahaan daerah, PDAM dituntut untung. Sehingga muncullah ide membangun hotel yang akhirnya menuai kontroversi. Ia mengaku, PDAM terus menyubsidi operasional kolam renang Tirtomoyo. Ia menyebut, nilai subsidi itu, Rp 800 juta/tahunnya.

Meski begitu, Singgih menyatakan, subsidi itu, sebagai biaya sosial yang diberikan PDAM kepada masyarakat.  Singgih belum bisa memastikan sampai kapan pihaknya akan mengoperasionalkan kolam renang itu lagi.

Pasalnya,  butuh pemikiran yang matang untuk rencana ke depan, agar tidak terus merugi. ”Kalau tidak ada masukkan itu, mungkin lebih mudah. Kami punya banyak ide, jadi kami juga harus memikirkannya lebih jauh lagi,” paparnya. Ari Purnomo