Kompleks Istana Terbakar

Kompleks Istana Terbakar

256
Gedung Setneg Terbakar. (ant)
Gedung Setneg Terbakar. (ant)

JAKARTA–Gedung Sekretariat Negara (Setneg) yang berada di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/3) sore, terbakar. Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta para menteri yang kebetulan tengah menggelar sidang kabinet, panik dan berhamburan keluar.

Sekitar pukul 17.15 WIB, SBY sempat melihat upaya pemadaman api dari Kantor Presiden. Namun tak dinyana dua ledakan kecil terdengar dari tempat kebakaran yang terletak 30 meter dari posisi SBY.

Dengan berbagai pertimbangan, SBY akhirnya memutuskan untuk memantau upaya pemadaman api dari Wisma Negara lantai enam yang memang lokasinya tidak jauh dari kebakaran. Sementara ibu Ani Yudhoyono yang ikut melihat kebakaran dari lokasi yang lebih jauh tampak mengabadikan peristiwa ini melalui kamera kecilnya.

Turut pula menyaksikan upaya pemadaman yakni sejumlah menteri antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mendagri Gamawan Fauzi, dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Lambock V Nahattands mengatakan, dalam kebakaran tersebut tidak ada korban jiwa dan dokumen penting negara tidak ada yang turut terbakar.

“Semuanya selamat karena memang yang terbakar itu lantai tiga sedangkan ruang kerja Pak Menteri dan staf-stafnya ada di lantai dua dan satu. Jadi saya sampaikan tidak ada korban jiwa dan dokumen negara yang terbakar atau musnah. Semua bisa terselamatkan,” kata Lambock.

Menurut Lambock, instruksi pertama Presiden dalam upaya menangani kebakaran adalah mencegah jatuhnya korban jiwa dan mengamankan bila ada dokumen negara. “Presiden perintahkan pertama kali amankan jangan sampai ada korban dan amankan dokumen,” ucap Lambock mengutip perintah Presiden.

Sejumlah 37 mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta dikerahkan untuk mengatasi api yang membakar lantai tiga gedung tersebut.

Menko Polhukam Djoko Suyanto mengatakan penyebab kebakaran yang terjadi di gedung utama Kementerian Sekretariat Negara masih diselidiki. “Kita belum tahu tunggu saja pemadamannya. Saya belum mau berkomentar apa-apa,” tandas Djoko seraya meminta semua pihak agar tidak berpikiran negatif.

Namun dari keterangan Lambock, penyebab kebakaran di kompleks Istana itu adalah akibat korsleting listrik. Sementara itu, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, kebakaran diduga berasal dari lantai 3 gedung tersebut. “Lantai tiga tersebut hanya berisi ruang untuk sidang dan ruang rapat,” jelasnya.

Ia menambahkan, api telah dapat dikendalikan sehingga tidak merembet ke lantai dua dan satu gedung tersebut. Menurutnya, tidak ada arsip-arsip maupun dokumen penting yang ikut terbakar dalam kebakaran di Gedung Sekretariat Negara.

Dijelaskan Julian, arsip-arsip dan dokumen tersebut disimpan di lantai dua, namun begitu kebakaran di lantai 3 terjadi, arsip-arsip tersebut langsung dievakuasi. “Sudah dievakuasi semua dokumen yang penting, dari sisi dokumen hal-hal penting lainnya tidak terbakar oleh api, namun memang terdapat beberapa arsip yang terkena air sebagai akibat usaha pemadaman,” tuturnya.

Baca Juga :  Proyek Drainase Kawasan Semanggi Digarap Tahun Depan, Begini Perencanaannya

Terpisah, pakar masalah kebakaran Universitas Indonesia (UI) Fatma Lestari menilai, kebakaran yang terjadi di Gedung Sekretariat Negara menandakan ketidaksiapan alat pemadam kebakaran, misalnya sprinkler yang tidak berfungsi maksimal. “Kalau dilihat dari cepat menjalarnya api, akibat alat sprinkler tidak bekerja,” terang Fatma.

Ia mengatakan, kejadian kebakaran tersebut juga menandakan tidak pernah dilakukan simulasi kebakaran, mengingat banyak pejabat yang menyaksikan dari dekat terjadinya kebakaran tersebut. “Seharusnya para pejabat negara tersebut segera dievakuasi, bukan dibiarkan menyaksikan kebakaran,” sesalnya.

Senada, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon, mengatakan, sistem pengamanan di kompleks Istana Negara harus ditingkatkan setelah terjadi peristiwa kebakaran.

Dia menyebut, penyebab kebakaran di gedung Sekretariat Negara adalah karena lemahnya keamanan dan pengamanan di kompleks Istana Negara.

“Kebakaran ini menunjukkan bahwa keamanan dan pengamanan di kompleks Istana Negara kurang terjaga. Kompleks Istana selayaknya dilengkapi dengan pengamanan yang ketat dan canggih,” tukasnya.

Kompleks Istana Terbakar

JAKARTA–Gedung Sekretariat Negara (Setneg) yang berada di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/3) sore, terbakar. Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta para menteri yang kebetulan tengah menggelar sidang kabinet, panik dan berhamburan keluar.

Sekitar pukul 17.15 WIB, SBY sempat melihat upaya pemadaman api dari Kantor Presiden. Namun tak dinyana dua ledakan kecil terdengar dari tempat kebakaran yang terletak 30 meter dari posisi SBY.

Dengan berbagai pertimbangan, SBY akhirnya memutuskan untuk memantau upaya pemadaman api dari Wisma Negara lantai enam yang memang lokasinya tidak jauh dari kebakaran. Sementara ibu Ani Yudhoyono yang ikut melihat kebakaran dari lokasi yang lebih jauh tampak mengabadikan peristiwa ini melalui kamera kecilnya.

Turut pula menyaksikan upaya pemadaman yakni sejumlah menteri antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mendagri Gamawan Fauzi, dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Lambock V Nahattands mengatakan, dalam kebakaran tersebut tidak ada korban jiwa dan dokumen penting negara tidak ada yang turut terbakar.

“Semuanya selamat karena memang yang terbakar itu lantai tiga sedangkan ruang kerja Pak Menteri dan staf-stafnya ada di lantai dua dan satu. Jadi saya sampaikan tidak ada korban jiwa dan dokumen negara yang terbakar atau musnah. Semua bisa terselamatkan,” kata Lambock.

Baca Juga :  Kedok Bandar Pil Koplo Asal Sragen Ini Terbongkar Gara-gara Kecelakaan di Jalan Raya Sukowati

Menurut Lambock, instruksi pertama Presiden dalam upaya menangani kebakaran adalah mencegah jatuhnya korban jiwa dan mengamankan bila ada dokumen negara. “Presiden perintahkan pertama kali amankan jangan sampai ada korban dan amankan dokumen,” ucap Lambock mengutip perintah Presiden.

Sejumlah 37 mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta dikerahkan untuk mengatasi api yang membakar lantai tiga gedung tersebut.

Menko Polhukam Djoko Suyanto mengatakan penyebab kebakaran yang terjadi di gedung utama Kementerian Sekretariat Negara masih diselidiki. “Kita belum tahu tunggu saja pemadamannya. Saya belum mau berkomentar apa-apa,” tandas Djoko seraya meminta semua pihak agar tidak berpikiran negatif.

Namun dari keterangan Lambock, penyebab kebakaran di kompleks Istana itu adalah akibat korsleting listrik. Sementara itu, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, kebakaran diduga berasal dari lantai 3 gedung tersebut. “Lantai tiga tersebut hanya berisi ruang untuk sidang dan ruang rapat,” jelasnya.

Ia menambahkan, api telah dapat dikendalikan sehingga tidak merembet ke lantai dua dan satu gedung tersebut. Menurutnya, tidak ada arsip-arsip maupun dokumen penting yang ikut terbakar dalam kebakaran di Gedung Sekretariat Negara.

Dijelaskan Julian, arsip-arsip dan dokumen tersebut disimpan di lantai dua, namun begitu kebakaran di lantai 3 terjadi, arsip-arsip tersebut langsung dievakuasi. “Sudah dievakuasi semua dokumen yang penting, dari sisi dokumen hal-hal penting lainnya tidak terbakar oleh api, namun memang terdapat beberapa arsip yang terkena air sebagai akibat usaha pemadaman,” tuturnya.

Terpisah, pakar masalah kebakaran Universitas Indonesia (UI) Fatma Lestari menilai, kebakaran yang terjadi di Gedung Sekretariat Negara menandakan ketidaksiapan alat pemadam kebakaran, misalnya sprinkler yang tidak berfungsi maksimal. “Kalau dilihat dari cepat menjalarnya api, akibat alat sprinkler tidak bekerja,” terang Fatma.

Ia mengatakan, kejadian kebakaran tersebut juga menandakan tidak pernah dilakukan simulasi kebakaran, mengingat banyak pejabat yang menyaksikan dari dekat terjadinya kebakaran tersebut. “Seharusnya para pejabat negara tersebut segera dievakuasi, bukan dibiarkan menyaksikan kebakaran,” sesalnya.

Senada, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon, mengatakan, sistem pengamanan di kompleks Istana Negara harus ditingkatkan setelah terjadi peristiwa kebakaran.

Dia menyebut, penyebab kebakaran di gedung Sekretariat Negara adalah karena lemahnya keamanan dan pengamanan di kompleks Istana Negara.

“Kebakaran ini menunjukkan bahwa keamanan dan pengamanan di kompleks Istana Negara kurang terjaga. Kompleks Istana selayaknya dilengkapi dengan pengamanan yang ketat dan canggih,” tukasnya. Antara | Detik

BAGIKAN