JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Internasional Kontroversi Di Balik Kematian Hugo Chavez

Kontroversi Di Balik Kematian Hugo Chavez

396

Dicintai Rakyat, Dibenci Amerika Serikat

Presiden Venezuela Hugo Chavez tutup usia setelah kondisinya semakin memburuk akibat penyakit kanker pelvis. Muncul rumor, penyakit yang menyerang Chavez merupakan konspirasi imperialis.

KANKER-Mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez memeluk dua putrinya saat tampil di hadapan publik seusai menjalani operasi kanker tahun2011 lalu. Reuters
KANKER-Mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez memeluk dua putrinya saat tampil di hadapan publik seusai menjalani operasi kanker tahun2011 lalu. Reuters

Di dunia internasional, Chavez (58) merupakan salah satu pemimpin paling karismatik sekaligus kontroversial. Pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) September 2006, Hugo Chavez pernah menyebut George W Bush, Presiden Amerika Serikat saat itu, sebagai setan.

Chavez bahkan terang-terangan melawan AS yang disebutnya sebagai negara penghasut perang. Beberapa kali Chavez pernah mengancam akan menghentikan pengiriman minyak ke AS. Termasuk ketika Chavez menuding George W Bush mendukung kudeta tahun 2002.

Tak heran jika kematian Chavez memunculkan rumor bahwa penyakit kanker yang menyerang Chavez merupakan konspirasi imperialis.

Hal tersebut dilontarkan oleh Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro beberapa saat sebelum menyampaikan kabar duka kepada rakyat Venezuela. Saat itu, Wapres Maduro tengah mengadakan pertemuan mendadak dengan pemimpin militer dan jajaran pemerintahan Venezuela di istana presiden.

Sebelum akhirnya dinyatakan wafat, kondisi kesehatan Chavez yang dirawat di rumah sakit militer di Caracas kian memburuk, terutama akibat mengalami infeksi pernapasan yang parah. Wapres Maduro yang disebut-sebut sebagai kandidat terkuat pengganti Chavez, mencetuskan bahwa kondisi tersebut merupakan plot imperialis yang dipimpin Amerika Serikat.

“Kami yakin bahwa pemimpin Chavez diserang dengan penyakit ini,” tutur Wapres Maduro seperti dilansir Sydney Morning Herald, Rabu (6/3).

Tudingan yang sama pernah dilontarkan oleh Chavez ketika masih menjalani perawatan di Kuba. Saat itu bapak bangsa yang sangat peduli pada rakyat miskin itu menyebut bahwa kanker yang dideritanya merupakan serangan dari musuh imperialis-nya yang tak lain adalah AS, yang tentunya bekerja sama dengan musuh-musuh domestiknya di Venezuela.

“Musuh bebuyutan kita selalu mencari cara untuk membahayakan kesehatannya (Chavez),” cetus Maduro sembari membandingkan dengan mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat, yang disebut-sebut tewas diracun oleh intelijen Israel pada 2004 lalu.

Menyusul tudingan ini, Wapres Maduro mengumumkan pengusiran dua Atase Militer Angkatan Udara AS yang ada di Venezuela. Keduanya dituduh berkontribusi memperburuk kondisi kesehatan Chavez dan bersekongkol mendorong destabilisasi dalam negeri.

Pihak AS sendiri mengakui hanya ada satu orang yang diusir dari Venezuela. Orang tersebut adalah Atase Militer Angkatan Udara, Kolonel David Delmonico. “Kami memahami tuduhan Wapres Maduro. Kol David Delmonico sedang dalam perjalanan pulang ke AS,” tutur Juru Bicara Pentagon, Letkol Todd Breasseale.

Hugo Chavez tak hanya membenci Amerika saja. Ia pun berteman akrab dengan musuh AS: Fidel Castro dari Kuba atau mendiang Moammar Khadhafi dari Libya. Ia juga menjalin aliansi erat dengan Iran dan menawarkan dukungan pada Argentina terkait perselisihan menyangkut Kepulauan Falklands dengan Inggris.

Dari sederet pemimpin Indonesia, Chavez begitu menghormati presiden pertama RI, Soekarno. Bahkan, pria yang telah 14 tahun memimpin negara Amerika Latin itu kerap menyebut nama Soekarno dalam pidatonya.

Politikus PDI Perjuangan, Budiman Sudjatmiko, bercerita pernah bertemu pemimpin sosialis itu pada 2008. Ketika itu, Budiman diundang ke acara pelantikan Presiden Paraguay, Fernando Lugo. Budiman dan Hugo Chavez sempat berbincang sejenak.

Dalam perbincangan itu, Chavez tidak secara langsung memuji Soekarno. Namun, beberapa kali Budiman sempat menyimak pidato Chavez, “Dia sering mengutip ucapan Bung Karno kala mengawali pidatonya,” kata Budiman,dikutip Tempo.co. ”

Upacara pemakaman Chavez sendiri akan digelar pada Jumat (8/3). Pemerintah Venezuela menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari ke depan terhitung sejak Rabu (6/3). Selamat jalan, Comandante Chavez!  Detik | Tri Hatmodjo

BAGIKAN