JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Kopi, antara Manfaat Dan keburukannya

Kopi, antara Manfaat Dan keburukannya

439
ilustrasi
ilustrasi

Kopi bukan minuman yang asing bagi masyarakat Indonesia. Bahkan bagi sebagian masyarakat kopi sudah menjadi minuman wajib. Kopi adalah minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman. Kopi memiliki kandungan kafein di dalamnya dan jika di konsumsi dalam jumlah yang besar akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Maka kita harus bijak dalam mengonsumsinya.

Manajer Gizi Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Solo, Sri Maryani, S.Gz menjelaskan bahwa kopi mengandung energi sebesar 352 kilokalori, protein 17,4 gram, karbohidrat 69 gram, lemak 1,3 gram, kalsium 296 miligram, fosfor 368 miligram, dan zat besi 4 miligram.  Selain itu di dalam Kopi juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0 miligram. Sodium 4,7 miligram, kafein 94,8 miligram. “Hasil tersebut didapat dari penelitian terhadap 100 gram Kopi, ” katanya.

Dijelaskannya, kopi memang sangat kaya akan kafein. Padahal Kafein merupakan zat yang bersifat stimulan, yang akan memberikan efek bagi tubuh berupa peningkatan laju pernafasan, denyut jantung, tekanan darah, sakit kepala, pengeluaran hormon stres. Selain itu, kafein juga  menimbulkan rasa seperti terbakar pada lambung (terutama bagi penderita sakit lambung), meningkatkan pengeluaran energi tubuh selama beberapa jam, dan merangsang saluran cerna terutama dalam proses pembuangan. “Penelitian tentang efek kopi terutama kafein bagi kesehatan sudah banyak dilakukan,” ungkapnya.

Yani juga mengatakan, kafein juga bersifat diuretik, sehingga kafein merangsang seseorang pengeluaran  cairan yang lebih banyak dari tubuh, hal ini bisa mengakibatkan terjadinya anemia defisiensi besi. Kafein juga bisa meningkatnya aktivitas jantung yang mengakibatkan meningkatnya aliran darah ke ginjal.

Yani mengungkapkan, selain efek tersebut, mengonsumsi kopi juga dapat menghambat penyerapan kalsium dan zat besi. Hal ini bisa  menghambat kalsifikasi tulang dan pembentukan hemoglobin masing-masing. Efek ini lebih lanjut ditekankan oleh hilangnya air yang berlebihan dari kelompok B kompleks vitamin larut dalam air seni dan efek penghambatan pada vitamin D dan A.

Sementara dari efek psikologis,  jika diminum malam hari, kopi juga bisa menyebabkan tidak bisa  tidur, sehingga mengakibatkan mengantuk berlebihan pada siang hari.  “Kondisi ini memberikan perasaan kelelahan sepanjang hari dan mengganggu pekerjaan,” ungkapnya.

Namun demikian, Yani menambahkan mengkonsumsi kopi bukan berarti tanpa manfaat.  Salah satu manfaat kopi adalah mencegah risiko depresi.  Kemampuan kopi mengusir depresi ini dikarenakan kafein dalam kopi dapat meningkatkan energi dan mood meski dalam jangka pendek. “Jika tidak dikonsumsi secara berlebihan kopi juga mampu memberikan manfaat, di antaranya mengusir depresi seseorang,” ungkapnya.

Selain mengusir depresi, kopi juga bisa mencegah timbulnya sel kanker. Adanya  senyawa antioksidan yang sangat aktif karena proses pemanggangan biji kopi, dapat menurunkan proses kerusakan peradangan. “ Kopi juga bersifat antioksidan, sehingga mampu mencegah timbulnya kanker,” ujarnya.

Melihat adanya manfaat maupun efek negatif  dari kopi, maka kita perlu mengetahui batasan mengonsumsi kopi. Batas aman dalam mengkonsumsi Kafein dalam tubuh perharinya adalah 100 – 150  mg, dengan jumlah tersebut tubuh sudah mengalami peningkatan aktivitas yang cukup untuk membuatnya terjaga.  Konsumsi kopi yang aman bagi kesehatan hanya sekitar satu cangkir sehari. “Satu cangkir kopi sekitar 8 oz, atau sama dengan 237 mililiter.  Mengonsumsi kopi satu cangkir setiap hari belum membahayakan kesehatan para penikmat kopi” urainya.

Dia menambahkan, efek yang merugikan dari kafein akan semakin jelas jika kopi dikonsumsi lebih dari tiga cangkir sehari. Efek langsung akibat mengonsumsi kopi berlebihan adalah berkeringat banyak, berada dalam keadaan tegang, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan massa tulang pada wanita yang dapat berakibat terjadinya osteoporosis, dan  anemia gizi. Tri Sulistiyani

BAGIKAN